REFLEKSI Uang dan Harta Hanyalah Sarana 13 Jun 2024 07:32
Dalam bahasa yang mungkin kedengaran ideal-spiritual, uang dan materi hanyalah sarana bagi kita untuk saling melayani sebagai manifestasi dari rasa syukur kita kepada Tuhan, Sang Maha Pemberi.
Oleh Valens Daki-Soo
Kisah tragis yang menggerus emosi, simpati dan perhatian banyak orang sembilan tahun lalu adalah tentang Angeline, gadis cilik berusia delapan tahun yang menjadi korban penganiayaan fisik hingga pembunuhan keji oleh tersangka orang(-orang) dekatnya, yakni ibu angkatnya sendiri.
Jasad Angeline ditemukan di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Denpasar, Bali, Rabu 10 Juni 2015. Saat ditemukan jasadnya dalam kondisi membusuk di bawah pohon pisang, ditutup sampah, terkubur bersama bonekanya.
Sebelumnya, bocah perempuan delapan tahun itu dilaporkan hilang pada 16 Mei 2015, tepat tiga hari sebelum ulang tahunnya yang ke-sembilan. Dari hasil penyelidikan kepolisian diketahui, pelaku pembunuhan bocah malang itu adalah ibu angkatnya yaitu Margriet Megawe dibantu mantan pembantunya Agus Tay (Kompas, 10/6/2022).
Diungkapkan Jaksa Penuntut Umum Purwanta di Pengadilan Negeri Denpasar, Kamis (4/2/2016), motif pembunuhan Angeline adalah warisan yang didapat dari perkawinan Margriet dengan Douglas Scarbrough. Sebagaimana tertulis dalam akta notaris, Angeline adalah pewaris tunggal (Okezone, 4/2/2016).
Lagi-lagi terpajang bagi kita sebuah contoh ekstrim dan ironis, betapa harta dan uang bisa bikin orang gelap mata dan buta hati. Kita sering mendengar dan menyaksikan berita di media massa, atau mungkin pernah mengalami sendiri, bahkan dalam satu keluarga pun, bisa terjadi konflik berat karena masalah harta. Anda mungkin masih ingat berita di media beberapa waktu silam, seorang pengusaha rumah duka di suatu kawasan Jakarta Barat menggugat ibu kandungnya sendiri yang telah berusia 80-an tahun karena soal tanah warisan. Kakak beradik kandung pun bisa ingin "saling meniadakan" karena perebutan harta warisan.
Bagi saya, kisah seperti itu tidak hanya 'edan', tetapi juga jahat dan sulit dimengerti akal sehat karena menghancurkan nilai paling hakiki dari kehidupan: kita hadir untuk saling menghidupkan dan membahagiakan dengan/melalui tindakan memberi dan mencintai.
Tak dipungkiri, uang dan harta itu diperlukan untuk memenuhi berbagai kebutuhan hidup. Ketiadaan materi dan kesulitan uang bisa sangat menyusahkan kita. Manusia memang hidup tidak hanya dari roti alias makanan saja, karena kita juga punya kebutuhan spiritual yang dalam pandangan klasik dinilai lebih tinggi. Namun, tak ada orang yang tidak butuh makan. Tetap saja kita harus makan, baru bisa bergerak, berdoa, melayani orang lain dan segala macam aktivitas manusiawi.
Sedemikian pentingnya uang, setiap hari petani mesti ke sawah dan ladang untuk bekerja, lalu menjual hasil keringatnya guna menafkahi keluarga bahkan membiayai kuliah anaknya di tanah rantau -- meski si anak kadang malas belajar, kuliah 'hilang-timbul' tetapi tiap bulan rajin 'menekan' orang tuanya untuk kirim uang.
Apapun profesi dan pekerjaan kita, yang jelas kita "cari uang", bukan?
Tak ada salah dengan uang dan materi. Sekali lagi, itu diperlukan untuk kehidupan yang manusiawi dan layak dihidupi. Namun, menjadi soal, bahkan dalam banyak kasus menjadi masalah besar, tatkala cara pandang orang tentang uang/materi bergeser dari fungsinya sebagai hanya "sarana", menjadi "tujuan". Cara pandang semacam inilah yang mendorong orang mencari uang dan mengakumulasi materi hanya demi kepuasan diri semata, status sosial, memburu kenikmatan dalam gaya hidup serba hedonistis. Bagi mereka tak ada dimensi sosial dan etis dari kepemilikan uang/harta.
Jika orang mengejar uang dan harta hanya untuk memuaskan egonya sendiri, dia akan menggeber berbagai cara, tanpa peduli nilai etis-moral dan sosial, guna memperkaya diri. Anda bisa lihat sendiri, banyak pejabat yang sudah punya cukup banyak uang tetapi masih juga korupsi sehingga hidupnya berakhir buram di balik jeruji?
Itu contoh dari tendensi psikopatologis manusia yang tak mampu "mengambil jarak seperlunya" dari uang dan harta.
Para guru kehidupan dari zaman ke zaman mengajarkan kita agar hidup dengan sadar dan seimbang. Boleh dan perlu bahkan harus bekerja untuk mendapatkan uang dan materi. Tak berhenti di situ, ada catatan penting: uang dan harta itu digunakan dengan baik dan bijaksana sebagai sarana untuk menganyam dan menopang kehidupan yang lebih manusiawi, sejahtera dan bahagia.
Dalam bahasa yang mungkin kedengaran ideal-spiritual, uang dan materi hanyalah sarana bagi kita untuk saling melayani sebagai manifestasi dari rasa syukur kita kepada Tuhan, Sang Maha Pemberi.
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar