Breaking News

PERTAHANAN Valens Daki-Soo: Doktrin Baru TNI, Perisai Trisula Nusantara, Cocok untuk Era Perang Modern dan Menuntut Profesionalisme Militer 06 Jul 2026 18:30

Article image
Pengamat pertahanan dan keamanan, Valens Daki-Soo. (Foto: Ist)
Itu sebabnya para prajurit kita mesti berlatih tempur terus-menerus, bukan mengurusi hal-hal yang bukan bidangnya. Fokuslah pada pengembangan teknologi robotik, AI, pengggunaan drone dan modernisasi Alutsista secara progresif.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Pengamat militer Valens Daki-Soo berpendapat, doktrin Perisai Trisula Nusantara sebagai doktrin pertahanan terbaru Tentara Nasional Indonesia (TNI) sangat tepat dan kontekstual menghadapi dinamika Lingstra (lingkungan strategis) dengan hakikat dan persepsi ancaman yang makin rumit. Oleh karenanya, doktrin tersebut harus implementatif, dapat dilaksanakan oleh TNI dengan mengedepankan profesionalisme militer dan modernisasi Alutsista.

Hal itu dikatakan Valens kepada media, Senin (6/7/2026).

Sebagaimana diberitakan, doktrin pertahanan terbaru itu disahkan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto pada 2 Juli 2026 di Kodiklat TNI, Serpong. 

"Langkah ini diambil sebagai bentuk transformasi strategis militer Indonesia dalam merespons pergeseran karakter perang modern abad ke-21 serta dinamika geopolitik di kawasan Indo-Pasifik. Oleh karena itu, TNI harus sungguh-sungguh berfokus pada upaya penguatan postur pertahanan dan berorientasi pada peningkatan profesionalisme militer," ujar Valens, yang lama bekerja di lingkungan TNI. 

Valens antara lain pernah menjadi staf khusus Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Kiki Syahnakri dan staf khusus Kepala Badan Intelijen Negara (Ka.BIN) Letnan Jenderal TNI Arie J Kumaat.

Penyempurnaan Doktrin "Tridek"

Menurut Valens, sebenarnya doktrin baru tersebut tidak sama sekali baru atau mengganti total doktrin lama Tri Dharma Eka Karma (Tridek).

Ia mengatakan, doktrin tersebut adalah penyempurnaan dari doktrin pertahanan TNI sebelumnya, Tridek, agar sesuai dengan perkembangan zaman, khususnya dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan hakikat ancaman yang dihadapi Indonesia saat ini dan ke depan.

Doktrin baru ini dirancang karena TNI menyadari bahwa perang masa kini atau "perang modern" tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan militer konvensional secara fisik.

"Dalam era perang modern lebih diutamakan taktik yang terintegrasi tinggi seperti penggunaan rudal jarak jauh dan senjata presisi, drone kamikaze dan kawanan drone (drone swarm). Juga Peperangan Elektronik (electronic warfare), Perang Informasi (Information Warfare) dan Perang Siber (Cyber Warfare) yang dijalankan secara terpadu atau integral," jelas Valens.

Filosofi Tiga Pilar (Trisula) dan Fokus pada Profesionalisme

Sesuai namanya (Trisula), lanjut Valens, doktrin ini menekankan kekuatan pertahanan yang bertumpu pada keselarasan tiga pilar utama, yaitu Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU)

"Dalam konteks ini, terjadi Sinergi Terpadu, yakni ketiga matra harus bergerak bersama secara sinkron seperti tiga mata tombak trisula untuk menciptakan efek tangkal (deterrence effect) yang kredibel, dan kuat dan handal di wilayah kedaulatan NKRI," ujar Valens.

Hal terpenting, menurut dia, TNI harus kembali dan semakin fokus pada upaya modernisasi alat utama sistem kesenjataan (Alutsista) dan mempertajam profesionalisme militer.

"Itu sebabnya selama ini saya getol berpendapat, TNI mesti melanjutkan proses reformasi internal dengan fokus pada upaya mengembangkan postur pertahanan yang kuat, moderen dan profesional. Janganlah para prajurit disuruh menangani urusan pertanian, peternakan, perikanan dan aspek-aspek lain di luar domain kemiliteran," tegasnya.

Valens mengatakan, dirinya membantu sejumlah jenderal Angkatan Darat dalam fase krusial reformasi institusional TNI AD. Oleh karenanya, dia mencintai TNI dan tidak ingin TNI mengalami lagi politisasi sebagai alat kekuasaan seperti terjadi pada era Orde Baru.

"Secara konseptual-substantif, Perisai Trisula Nusantara menjadi panduan hidup (living concept) bagi seluruh jajaran prajurit TNI agar lebih adaptif, lincah (agile), dan siap menghadapi eskalasi ancaman multidimensi di masa depan. Itu sebabnya para prajurit kita mesti berlatih tempur terus-menerus, bukan mengurusi hal-hal yang bukan bidangnya. Fokuslah pada pengembangan teknologi robotik, AI, pengggunaan drone dan modernisasi Alutsista secara progresif," pungkas Valens.

--- Guche Montero

Komentar