PERTAHANAN Valens Daki-Soo: Tepat, Jika Indonesia Kembangkan Sistem Pertahanan Udara 16 Jul 2026 15:57
"Sistem pertahanan udara yang kuat bukan hanya soal belanja militer, melainkan investasi strategis jangka panjang untuk menjamin rasa aman masyarakat, menjaga stabilitas kawasan, dan mengamankan kedaulatan nasional," pungkas Valens.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Pengamat pertahanan dan keamanan Valens Daki-Soo mengatakan, dalam era perang modern sekarang ini dan ke depan yang harus semakin diperkuat adalah kekuatan udara dan laut. Alat utama sistem senjata (Alutsista) TNI Angkatan Laut dan TNI Angkatan Udara harus terus dimodernisasi.
Hal itu dikatakan Valens kepada media, Kamis (16/7/2026).
"Dalam konteks ini, kita mengapresiasi dan mendukung kerja sama pertahanan Indonesia dan Korea Selatan (Korsel) yang terus menunjukkan trend positif. Salah satunya adalah rencana bersama untuk mengembangkan sistem pertahanan udara," ujar Valens, mantan staf khusus Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad) Letnan Jenderal TNI Kiki Syahnakri dan mantan staf khusus Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Letnan Jenderal TNI Arie J Kumaat.
Seperti diberitakan media, rencana kerja sama itu merupakan hasil pertemuan antara Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Sjafrie Sjamsoeddin dan Duta Besar Republik Korea (Korsel) untuk Indonesia, H.E. Yoon Soon Gu, di Kantor Kementerian Pertahanan, Selasa (14/7/2026).
Menhan Sjafrie mengatakan pertemuan tersebut membahas sejumlah langkah konkret untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan Korea Selatan di bidang pertahanan.
"Pertemuan membahas langkah konkret untuk memperkuat kemitraan strategis Indonesia Republik Korea di bidang pertahanan, termasuk rencana pertemuan Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan dalam format 2+2, kerja sama pendidikan dan pelatihan, serta pengembangan sistem pertahanan udara," kata Sjafrie.
Sistem Pertahanan Udara
Menurut Valens, sistem pertahanan udara atau Sishanud merupakan komponen atau unsur vital dan strategis dalam kerangka besar kekuatan pertahanan nasional terutama di matra udara.
"Indonesia saat ini sedang gencar mempercepat pembangunan sistem pertahanan udara yang modern, terpadu, dan mandiri. Wilayah udara Indonesia sangat luas, setara dengan hampir separuh benua Eropa, sehingga membutuhkan pengawasan ketat tanpa titik buta (blind spot)," kata Valens, yang menjadi Tenaga Ahli di Kantor Staf Khusus Presiden RI Bidang Intelijen & Keamanan (2015-2019).
Dia mengatakan, fokus utama dalam perkembangan terbaru guna memperkuat sistem pertahanan udara adalah sebagai berikut.
Pertama, Integrasi Sistem Berlapis (Layered Defense).
Yang dimaksud adalah Satu Komando Terpadu, yakni pertahanan udara tidak lagi bergerak sektoral. Elemen TNI AD, TNI AL, dan TNI AU harus diintegrasikan dalam satu komando yang terkoordinasi demi kecepatan pengambilan keputusan.
Kedua, sensor dan penindak. Kekuatan utama terletak pada keterhubungan antara radar pendeteksi dini dan armada pemukul (interseptor).
Terkait hal ini, terus dilakukan modernisasi Alutsista termasuk radar yang mutakhir, misalnya Radar Ground Master GM403. TNI AU telah menerima unit pertama radar pengawas jarak jauh dari Thales Prancis untuk memperkuat kemampuan deteksi dini wilayah udara nasional.
Berikutnya, lanjut Valens, kita telah mulai menerima jet tempur canggih Rafale dari Dassault Prancis yang diproyeksikan sebagai pilar utama penindak untuk mencapai keunggulan udara (air superiority).
Selanjutnya, peningkatan diplomasi pertahanan dan transfer teknologi dalam kerja sama dengan Korea Selatan.
Indonesia dan Korsel terus mematangkan kemitraan strategis, termasuk proyek jet tempur KF-21 Boramae serta kerja sama pengembangan sistem pertahanan udara.
Ketiga, kolaborasi teknologi Eropa. Pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan negara seperti Finlandia untuk mengadopsi teknologi C4ISR (komando, kendali, komunikasi, komputer, intelijen, pengamatan, dan pengintaian), satelit, serta pertahanan siber.
"Sistem pertahanan udara yang kuat bukan hanya soal belanja militer, melainkan investasi strategis jangka panjang untuk menjamin rasa aman masyarakat, menjaga stabilitas kawasan, dan mengamankan kedaulatan nasional," pungkas Valens. ***
--- Guche Montero
Komentar