Breaking News

NASIONAL Wakil Presiden Ke-6 Try Sutrisno Wafat, Ismeth Wibowo: Beliau Memiliki Perhatian Besar untuk Bangsa dan Negara 02 Mar 2026 10:54

Article image
Tri Sutrisno (alm) bersama Imeth Wibowo (tengah) dalam sebuah acara di Jakarta. (Foto: Ist)
Try Sutrisno juga memiliki semangat besar dalam membela negara apapun rintangannya. Beliau juga memiliki perhatian besar terhadap bangsa dan negara ini.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Wakil Presiden keenam (6) RI, Jendral TNI (Purn) H Try Sutrisno (90 tahun) wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta pagi ini, Senin (02/3/2026).

Berita tersebut dikirim melalui pernyataan resmi keluarga besar. ”Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Roji'uun. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'aafihi wa'fu'anhu. Telah meninggal dunia ayah/kakek/buyut/kakak kami Jendral TNI (Purn) H Try Sutrisno bin Subandi Wapres ke 6 RI pada hari ini Senin 02 Maret 2026 di RSPAD jam 06.58 WIB,” ujar perwakilan keluarga besar Try Sutrisno.

”Jenazah akan dimandikan di rumah duka RSPAD dan akan dibawa ke rumah duka; Jl. Purwakarta no 6, Menteng Jakarta Pusat. Mohon dimaafkan segala kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidup. Semoga amal ibadah almarhum diterima di sisi Allah SWT. Kami mohon do'a dari Bapak Ibu sekalian agar almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya,” lanjutnya.

Anggota Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKNPI), Ismeth Wibowo mengatakan berdukacita atas wafatnya Try Sutrisno. ”Beliau adalah salah satu tokoh bangsa yang dikenal sangat bersahaja, sederhana dan patut menjadi contoh bagi anak bangsa, termasuk bagi keluarga besar IKPNI,” ujarnya.

Try Sutrisno juga, tambah Ismeth, memiliki semangat besar dalam membela negara apapun rintangannya. Beliau juga memiliki perhatian besar terhadap bangsa dan negara ini.

”Kita sebagai generasi penerus bangsa harus terus melanjutkan perjuangan para pendahulu kita, termasuk Pak Try, untuk terus membangun bangsa dan negara menuju terciptanya masyarakat adil, makmur dan sejahtera,” kata Ismeth yang juga teman dari putra-putri almarhum Pak Try seperti Ibu Dr. Nora Ryamizard Ryacudu isteri mantan Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu, yang sama-sama menunaikan ibadah haji bersama, dan juga kolega dari Taufik Dwicahyono( Cheppy) serta Pangkogabwilhan 1 Letjen Kunto Arief Wibowo.

Ismeth mengatakan, Try Sutrisno merupakan sahabat ayahnya dalam pemerintahan, pada masa pemerintahan Presiden Kedua (2) RI Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto (alm).

Seperti diinformasikan, jenazah beliau akan disholatkan di Masjid Sunda Kelapa sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata sore ini.

 

 

Profil Try Sutrisno

Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935 di Surabaya. Ayahnya, Subandi merupakan sopir ambulans, dan ibunya, Mardiyah adalah seorang ibu rumah tangga.

Dikutip dari TribunVideo, Try Surtrisno menamatkan pendidikan dasar dan menengahnya di Surabaya. Setelah tamat dari SMP 2 Surabaya, ia kemudian melanjutkan ke SMA 2 Surabaya.

Lulus dari SMA, Try Sutrisno kemudian melanjutkan Pendidikan ke Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Pendidikan militernya di Atekad selesai pada tahun 1959.

 

Riwayat Karier

  • Ajudan Presiden Suharto (1974)
  • Kepala Staf KODAM XVI/Udayana (1978)
  • Panglima KODAM IV/Sriwijaya (1979)
  • Panglima KODAM V/Jaya (1982)
  •  Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (1985)
  • Kepala Staf Angkatan Darat (1986)
  • Panglima ABRI (1988)
  • Wakil Presiden (1993-1998)

Pengalaman militer pertama beliau adalah ketika ia ditugaskan dalam peperangan melawan pemberontak Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1957.

PRRI merupakan sebuah kelompok sparatis yang berbasis di Sumatera, dimana mereka ingin membentuk pemerintahan alternatif di luar pemerintahan Soekarno.

Ia kemudian dikirim ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat pada tahun 1972. Kemudian pada 1974, ia terpilih menjadi ajudan Presiden Suharto. Sejak saat itulah kariernya di militer terus melejit.

Pada 1978, Try diangkat sebagai Kepala Staf KODAM XVI/Udayana. Setahun beselang, Try kemudian menjadi Panglima KODAM IV/Sriwijaya.

Sebagai Pangdam, Try Sutriso aktif menekan tingkat kejahatan serta menghentikan penyelundupan timah. Ia juga aktif di kampanye lingkungan untuk mengembalikan Gajah Sumatera ke habitat asli mereka.

Pada 1982, Try kemudian dipindahkan ke Jakarta, ia diangkat menjadi Panglima KODAM V/Jaya.

Pada 1985, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Hanya berselang setahun, pada 1986, ia diangkat sebagai KSAD.

Try menjabat sebagai KSAD selama dua tahun. Setelah lengser, pada 1988 ia kemudian diangkat menjadi Panglima ABRI. Masa jabatannya sebagai Panglima ABRI akhirnya berakhir pada 1993.

Kendati demikian, bukan berarti kariernya berhenti sepenuhnya. Di tahun yang sama, pada 1993 ia justru diangkat menjadi wakil presiden mendampingi Suharto.

Sebagai wakil presiden yang ke-6, Tri mendampingi Suharto sampai 1998 sebelum posisinya digantikan oleh B. J. Habibie menjelang reformasi.

Setelah jabatannya sebagai wakil presiden selesai, Try tetap aktif menyoroti kinerja pemerintahan.

Ketika masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Try membentuk forum Gerakan Nusantara Bangkit Bersatu yang beranggotakan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan beberapa tokoh lain. *

 

--- F. Hardiman

Komentar