Breaking News

INTERNASIONAL Waspadai Serangan Rusia, NATO Gelar Latihan Militer Terbesar Sejak Era Perang Dingin 19 Jan 2024 18:07

Article image
Pasukan NATO. (Foto: AP)
Dalam dokumen strategis utamanya, NATO mengidentifikasi Rusia sebagai ancaman paling signifikan dan langsung terhadap keamanan anggota-anggotanya.

BRUSSELS, IndonesiaSatu.co --  Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO akan menggelar latihan terbesarnya sejak Perang Dingin dengan mengerahkan sedikitnya 90.000 tentara di Eropa.

Disitir dari Spiegel Online, Jumat (19/1/2024), latihan terbesar NATO bertajuk “Steadfast Defender 2024” tersebut bertujuan untuk memperkuat pertahanan negara-negara anggotanya yang bertetangga atau berbatasan langsung dengan Rusia.

Chris Cavoli, Komandan Komando Eropa Amerika Serikat dan Panglima Tertinggi Sekutu Eropa, menyatakan, latihan Steadfast Defender 2024 akan berlangsung hingga Mei mendatang.

Ia menambahkan, latihan itu akan melibatkan lebih dari 50 kapal, mulai dari kapal induk hingga kapal perusak, lebih dari 80 jet tempur, helicopter, drone, dan sedikitnya 1.100 kendaraan tempur termasuk 133 tank dan 533 kendaraan tempur infanteri.

Cavoli juga menyebutkan, latihan tersebut akan fokus pada pelaksanaan rencana regional NATO, rencana pertahanan pertama yang telah disusun aliansi tersebut dalam beberapa dekade, dan menyiapkan anggota-anggota NATO agar mampu menangkal serangan Rusia.

Dalam dokumen strategis utamanya, NATO mengidentifikasi Rusia sebagai ancaman paling signifikan dan langsung terhadap keamanan anggota-anggotanya.

Otoritas NATO menegaskan, Steadfast Defender 2024 akan menunjukkan kemampuan NATO untuk dengan cepat mengerahkan pasukan dari Amerika Utara dan bagian lain dari aliansi tersebut untuk memperkuat pertahanan Eropa.

“Penguatan akan terjadi selama simulasi skenario konflik yang muncul dengan musuh yang hampir setara," ungkap Cavoli kepada media di Brussels seperti dikutip dari spiegel.de, Jumat (19/1/2024).

Diketahui, latihan terakhir NATO dengan skala yang sama adalah Reforger yang dilakukan di penghujung era Perang Dingin, tepatnya pada tahun 1988, dengan 125.000 peserta.

--- Henrico Penu