OPINI Mengapa Eropa Keliru Menganggap Perang Iran sebagai “Bukan Perang Kita”? 04 May 2026 14:33
Eropa akan terpaksa menghadapi ancaman global sendirian jika tidak mendukung Amerika Serikat (AS) dalam isu Iran.
Oleh Mathias Döpfner*
Eropa akan terpaksa menghadapi ancaman global sendirian jika tidak mendukung Amerika Serikat (AS) dalam isu Iran.
Perang di Iran, yang dimulai oleh AS dan Israel pada 28 Februari, telah melampaui kemungkinan penyelesaian yang mudah di tengah lonjakan harga minyak dan eskalasi konflik regional.
Para komentator di Eropa yang membahas Iran sering melontarkan pernyataan: “Ini bukan perang kita.” Pandangan tersebut keliru sekaligus tidak bijaksana secara strategis.
Tentu saja ini adalah perang kita. Bahkan lebih merupakan perang kita daripada Amerika. Penyusupan masyarakat Eropa oleh jaringan Islamis sudah lebih jauh dan lebih akut di sini dibandingkan di Amerika. (Dan solidaritas terhadap Israel, yang eksistensinya sendiri sedang terancam, seharusnya jauh lebih kuat di Jerman daripada di Amerika Serikat.)
Namun bahkan jika seseorang menganggap ini bukan perang kita, atau kecewa karena tidak diberi penjelasan mengenai rencana yang ada, tetap terdapat arus kuat dalam masyarakat Eropa di mana kebencian terhadap Donald Trump lebih besar daripada kepentingan diri yang rasional. Di kalangan tersebut, hampir terasa adanya semacam schadenfreude setiap kali Amerika kembali mengalami kegagalan.
Apakah ungkapan “ini bukan perang kita” berasal dari Jerman, Finlandia, atau negara Eropa lainnya, tetap saja hal itu merugikan kita. Pertama, karena secara objektif salah. Kedua, karena mendorong musuh bersama. Ketiga, karena mempercepat penarikan solidaritas Amerika. Logikanya sederhana sekaligus dapat dipahami: jika perang di Iran bukan urusan Eropa, maka perang di Ukraina juga bukan urusan Amerika. Maka Eropa harus menyelesaikannya sendiri di masa depan, dan sendirian. Ukraina dan agresor Rusia di Moskow jauh lebih jauh dari Washington, baik secara mental maupun geografis, dibandingkan para mullah dan jaringan teror mereka dari Berlin atau Paris.
Terlepas dari ketidakpastian mengenai tujuan akhir Amerika Serikat dan Israel di Iran, saya yakin pada satu hal: dalam situasi sepenting ini, ketika Amerika kembali “menolong Eropa dari kesulitan”, akan lebih baik jika kita bersatu. Eropa seharusnya tidak mengkhianati pemerintah Amerika dalam upaya ini.
Eropa Tidak Mampu Menghadapinya Sendiri
Alih-alih bekerja secara tertutup untuk menemukan arah dan pendekatan terbaik—yang dulu disebut diplomasi—kita justru mempertontonkan konflik di ruang publik. Kita akan membayar harga tinggi untuk retorika tersinggung yang tidak perlu ini, retorika yang pada akhirnya hanya mengejar tepuk tangan domestik. Pemerintahan Amerika di masa depan juga akan mengingat berkurangnya solidaritas ini. Jika di masa depan kita harus menghadapi sendiri baik Islamisme yang dikendalikan dari Teheran maupun agresi imperial dari Moskow, Eropa akan kewalahan.
Komunitas transatlantik berbasis kepentingan bersama telah menopang dan melindungi kita selama 80 tahun, betapapun rumit, tidak stabil, dan sulitnya sebuah pemerintahan Amerika. Pada saat-saat yang benar-benar menentukan, selalu muncul kata “kita”. Kini Eropa berkata: “aku”. Atau lebih tepatnya: “bukan aku”. Para pemimpin Eropa justru memilih menjauhkan diri dari mitra mereka melalui ceramah publik. Itu bukan kepentingan kita.
Naif jika menganggap bahwa apa yang kita lihat dan ketahui di permukaan adalah seluruh kenyataan di Washington. Satu-satunya hal yang kita tahu adalah bahwa dalam situasi seperti ini, kita hanya mengetahui sebagian kecil dari kebenaran. Dan sebagian kecil itu adalah bahwa pemerintah Amerika akhirnya mencoba melemahkan kekuasaan para mullah dengan kekuatan militer. Dan itu sudah lama seharusnya dilakukan.
Selama lebih dari 45 tahun, Garda Revolusi Iran telah meneror dunia. Tujuan mereka bukan hanya penghancuran Israel dan seluruh orang Yahudi, tetapi juga penghancuran masyarakat terbuka, yakni demokrasi liberal yang mereka anggap dekaden dan tidak beriman justru karena kebebasannya. Cara hidup kita. Keamanan kita. Kepentingan kita.
Selama puluhan tahun, para mullah tidak hanya membunuh perempuan yang mereka anggap “tidak terhormat” karena tidak mengenakan jilbab, tetapi juga kaum homoseksual. Mereka secara sistematis membungkam rakyat mereka sendiri yang bersuara; mereka membunuh para pembangkang bahkan baru-baru ini, diduga lebih dari 30.000 orang dalam hitungan hari.
Dengan kekejaman dan efisiensi yang sama, rezim Teheran mengorganisasi kekerasan di tingkat internasional. Bersama jaringan terornya dari Hamas hingga Hizbullah hingga Houthi, rezim mullah mungkin merupakan sumber teror paling efektif dan paling kejam di dunia. Mereka beroperasi terutama di masyarakat Eropa, dengan sengaja menyebarkan kebencian dan kekerasan yang melemahkan tatanan hukum liberal kita dan memperkuat gerakan ekstremis.
Para agresor di Iran yang menimbulkan ancaman eksistensial bagi kita telah bertahun-tahun secara sistematis mengejar senjata nuklir. Tidak ada perjanjian, tidak ada seruan damai, tidak ada jabat tangan presiden yang sejauh ini mampu menghentikannya.
Selama lebih dari 45 tahun, para politisi Barat ragu mengambil tindakan efektif terhadap negara teroris ini, yang membunuh rakyatnya sendiri dan mengguncang stabilitas masyarakat terbuka. Merupakan kepentingan Eropa dan demokrasi bahwa Amerika dan Israel akhirnya mengambil tindakan bersama untuk melemahkan rezim Iran.
Apakah tujuannya adalah pergantian rezim, penghapusan 400 kilogram uranium yang diperkaya, sekadar melemahkan jaringan kekuasaan para elite mullah, mempercepat kejatuhan melalui pemberontakan rakyat, atau kombinasi dari semuanya, saya tidak dapat menilai. Sebagian orang mengatakan bahwa satu tujuan penting telah tercapai: Iran telah mundur beberapa tahun. Setidaknya kita memperoleh satu hal: waktu.
Kini Eropa perlu berdiri bersama Amerika Serikat untuk memanfaatkannya.
*(Penulis adalah ketua dan CEO Axel Springer, perusahaan induk POLITICO. Tulisan ini diterjemahkan oleh Redem Kono, wartawan IndonesiaSatu.co)
Komentar