Breaking News

INTERNASIONAL Wilayah Negara Terancam Tenggelam, Warga Tuvalu Mengungsi ke Australia 13 Dec 2025 00:06

Article image
Wilayah negara Tuvalu terus menyusut akibat kenaikan permukaan laut. (Foto: Reuters)
Tuvalu adalah sekumpulan atol dataran rendah yang terbentang di Pasifik. Negara ini menghadapi ancaman eksistensial yang dipicu oleh kenaikan permukaan laut.

DARWIN, IndonesiaSatu.co-- Warga Tuvalu berbondong-bondong mengungsi ke Australia sebagai pengungsi iklim, setelah wilayah negara mereka terus menyusut akibat kenaikan permukaan laut. 

Melansir Kompas.com, gelombang pertama pengungsi iklim dari Tuvalu pun tiba pada Kamis (11/12/2025), menjadi realisasi dari kesepakatan visa iklim yang diteken kedua negara dua tahun lalu.

Di negara dekat Indonesia itu, warga Tuvalu tetap dapat mempertahankan hubungan dengan Tanah Air mereka yang terancam tenggelam. 

Kesepakatan Australia-Tuvalu mengizinkan migrasi hingga 280 warga per tahun ke "Negeri Kanguru".

Pembatasan kuota ini ditetapkan untuk mencegah eksodus tenaga ahli krusial bagi keberlangsungan negara kepulauan kecil tersebut. 

Meskipun kuota terbatas, sepertiga lebih dari total 11.000 penduduk Tuvalu telah mengajukan visa iklim untuk bermigrasi ke Australia. 

Menteri Luar Negeri Australia, Penny Wong, menyatakan bahwa visa itu memberikan mobilitas dengan martabat, menyediakan kesempatan kepada warga Tuvalu untuk tinggal, belajar, dan bekerja di Australia seiring memburuknya dampak iklim. 

Para pengungsi iklim ini diharapkan dapat berkontribusi positif bagi masyarakat Australia. 

Otoritas Australia kini sedang mendirikan layanan dukungan untuk membantu keluarga Tuvalu menetap di berbagai kota, termasuk Melbourne, Adelaide, dan di negara bagian Queensland. 

Di antara penduduk yang terpilih dalam gelombang pertama ini, terdapat individu-individu dengan keahlian penting, antara lain operator forklift wanita pertama Tuvalu, dokter gigi, dan pendeta.

Pemerintah Australia menekankan, para migran ini berfokus pada pelestarian kehidupan spiritual dan budaya mereka, meski berjarak ribuan kilometer jauhnya dari rumah. 

Dokter gigi Masina Matolu, yang pindah bersama tiga anak usia sekolah dan suaminya ke kota Darwin, Australia Utara, berencana bekerja dengan komunitas adat di sana.

"Saya selalu membawa apa pun yang saya pelajari dari Australia kembali ke budaya asal saya, hanya untuk membantu," ujar Matolu dalam video, dikutip dari Reuters. Sementara itu, Kitai Haulapi yang merupakan operator forklift wanita pertama di Tuvalu, akan pindah ke Melbourne.

Kitai berharap dapat segera menemukan pekerjaan dan terus berkontribusi bagi Tuvalu dengan mengirimkan uang kepada keluarganya. Aspek spiritual dan komunitas juga menjadi fokus utama. 

Manipua Puafolau, calon pendeta dari Funafuti, pulau utama Tuvalu, tiba di Australia dua minggu lalu. 

Dia berencana tinggal di Naracoorte, Australia Selatan, tempat komunitas Pasifik bekerja di bidang pertanian dan pengolahan daging. 

"Bagi orang-orang yang pindah ke Australia, ini bukan hanya untuk kesejahteraan fisik dan ekonomi mereka, tetapi juga untuk mencari bimbingan spiritual," katanya dalam video yang dirilis Departemen Luar Negeri Australia.

Negara yang Terancam Tenggelam 

Tuvalu adalah sekumpulan atol dataran rendah yang terbentang di Pasifik. Negara ini menghadapi ancaman eksistensial yang dipicu oleh kenaikan permukaan laut. 

Di atol utama, Funafuti, tanahnya sangat terbatas. Keluarga-keluarga hidup berdekatan dan anak-anak bermain sepak bola di landasan pacu bandara karena keterbatasan ruang.

Data ilmiah menunjukkan betapa gentingnya situasi ini. Ilmuwan NASA memproyeksikan bahwa pada 2050, pasang surut harian akan menenggelamkan separuh atol Funafuti, yang merupakan rumah bagi 60 persen penduduk Tuvalu.

Proyeksi tersebut mengasumsikan kenaikan permukaan laut setinggi satu meter. Skenario terburuk, dengan kenaikan dua kali lipat, diperkirakan akan menenggelamkan 90 persen atol utama negara itu. 

Melihat pentingnya menjaga identitas bangsa di tengah ancaman ini, Perdana Menteri Tuvalu, Feleti Teo mengunjungi komunitas Tuvalu di Melton, Melbourne, bulan lalu.

Kunjungan tersebut bertujuan menekankan pentingnya menjaga hubungan yang kuat dan ikatan budaya lintas batas saat warga negara mulai bermigrasi.

--- Guche Montero

Komentar