Breaking News
  • 12 parpol lama lolos verifikasi faktual
  • 150 ton bahan narkoba asal China gagal masuk ke Indonesia
  • Eropa murka, siap jawab tantangan perang dagang Donald Trump
  • KM Pinang Jaya tenggelam di Laut Jawa akibat cuaca buruk
  • Presiden Jokowi masih pertimbangan Plt Gubernur dari Polri

ANALISIS MILITER Menanti Jet Tempur Multiperan Su-35 20 Mar 2016 15:23

Article image
Jet tempur Sukhoi Su-35 buatan Rusia yang akan dimiliki TNI AU. (Foto: youtube)
Kehadiran Super Flanker akan meningkatkan kekuatan udara RI, memperkuat "air superiority" TNI AU, dan memantapkan postur pertahahanan kita dalam konteks persaingan dan perimbangan kekuatan regional.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

JELANG akhir tahun 2015, Ilya Kramnik, seorang wartawan Rusia menulis dalam reportasenya bahwa negerinya tengah memproduksi 60 pesawat tempur Sukhoi Su-35. 60 jet tempur yang seharga nyaris Rp 1 triliun per unit itu (sekitar Rp 900 miliar) tentu bukan jumlah yang sedikit. Menurut Kramnik, puluhan jet tempur ganas itu diproduksi untuk Vietnam, Indonesia dan Venezuela.

Laporan itu mengindikasikan Indonesia sebagai salah satu (calon) pengguna pesawat tempur canggih Su-35. Pesawat ini merupakan penerus dari keluarga Su-30 yang kini digunakan oleh TNI AU.

Seolah membenarkan reportase Kramnik, pada November 2015 silam Kepala Staf TNI AU (KSAU) Marsekal Agus Supriatna mengungkapkan kesepakatan Pemerintah RI untuk membeli Sukhoi Su-35. Jet tempur perkasa buatan Rusia itu diproyeksikan untuk menggantikan satu skuadron pesawat buru sergap buatan Amerika F-5 E/F Tiger yang sudah uzur.

Mengutip CNN Indonesia, Marsekal Agus mengatakan, ia telah membaca dokumen yang dikirim Kementerian Pertahanan ke Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Menurutnya, yang sudah ditandatangani Menhan adalah Sukhoi Su-35.

Agus mengatakan, sebelum Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menandatangani kesepakatan pengadaan Sukhoi-35, TNI AU terlebih dulu mengirimkan spesifikasi teknologi pesawat tempur yang dinilai pantas untuk menggantikan F-5 E/F Tiger.

Menurut sumber IndonesiaSatu.co di Kemhan, Moskow dan Jakarta akan menandatangani kontrak dalam waktu dekat, persisnya pada April mendatang, untuk pengiriman 10 pesawat tempur multirole Su-35 untuk menggantikan 12 jet tempur F-5 E/F Tiger TNI AU yang sudah bertugas sejak tahun 1980.

 “Ya, benar. Kita butuh satu skuadron jet tempur, tetapi untuk tahap pertama akan membeli dulu 10 jet (Su-35) sesuai ketersediaan anggaran negara,” ungkap sumber tersebut ketika dihubungi IndonesiaSatu.co melalui telepon seluler.

 Disetujui Presiden Jokowi

Presiden Joko Widodo sendiri telah menyetujui pembelian pesawat tempur asal Rusia tersebut. Hal itu disampaikan oleh Menhan Ryamizard Ryacudu di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Jumat (4/3). Dia pun mengutarakan, pengadaan jet tempur handal itu akan dilakukan secara bertahap.

Tentang jumlah yang akan dibeli, Ryamizard mengatakan 10 pesawat Sukhoi SU-35 akan dibeli, dan kalaupun nanti dilengkapi menjadi 16 unit untuk menjadi satu skuadron penuh, akan diproses secara bertahap sesuai kemampuan belanja pertahanan.

Guna memastikan pembelian itu, Ryamizard akan berkunjung ke Moskow dalam waktu dekat untuk menjadi pembicara dalam sebuah acara, sekaligus menandatangani kontrak pembelian dengan produsen pesawat Sukhoi Su-35.

Menurut informasi, harga satu pesawat Sukhoi Su-35 sekitar USD 50-70 juta, atau Rp 680-952 miliar, dengan kurs Rp 13.600/dolar AS.

Supermanuver

Sukhoi Su-35 merupakan pesawat tempur multiperan jarak jauh kelas berat yang memiliki kursi tunggal. Pesawat ini adalah modifikasi dari pesawat Su-27 yang awalnya diberi nama Su-27M.

Termasuk dalam kategori pesawat tempur generasi 4++, Su-35 memiliki kemampuan supermanuver dan memiliki sebagian fitur pesawat tempur generasi 5, dilengkapi dengan sistem dan perangkat avionik baru, radar mutakhir dan mesin canggih.

 

Su-35 dapat memainkan pergerakan atau trik yang luar biasa tanpa mengurangi kecepatannya. Juga, dapat terbang pada kecepatan 2400 km/jam, melampaui semua pesawat tempur di kelasnya. Jet tempur sangar ini dipersenjatai dengan kanon 30 mm, sejumlah peluru kendali (rudal) dan roket.

Komsomolsk-on-Amur menciptakan pesawat ini untuk melakoni beragam misi, olehe karenanya biasa disebut multirole fighter. Para analis militer menilai, kehadiran Su-35 merupakan jembatan untuk menunggu kehadiran pesawat tempur generasi ke-5 Sukhoi PAK-FA T-50.

Dengan beragam teknologi dan persenjataan yang canggih di tubuhnya, Su-35 menyemburkan efek penggentar (deterrent effect) yang sangat kuat bagi negara-negara (calon) lawan atau lawan potensial. Hebatnya lagi, pesawat ini dilengkapi dengan TVC (Thrust Vectoring Control) yang membuat Su-35 mampu terbang di landasan yang sangat pendek.

Kemampuan manuver, sistem elektronik yang canggih, ditenagai mesin 1175 dan mampu menghilangkan emisi radar, membuat sejumlah negara tertarik membeli penempur berat ini, termasuk Tiongkok, Brasil dan Pakistan.

Kemampuan teknis Su-35 tergolong mengagumkan karena sanggup terbang dengan kecepatan Macg 2.25 Mach (2.390 kilometer per jam), dengan jarak tempuh mencapai 3.600 Km dan terbang setinggi 18 Km. Dilengkapi rudal R-172 dan Kh-31 a/p, dengan kemampuan daya angkut senjata jauh lebih besar dibandingkan Su-30, senjata pertahanan jarak dekat Su-35 adalah senapan mesin GSh-301.

Pesawat Su-35 (NATO menjulukinya Super Flanker) termasuk dalam kelas pesawat generasi 4++, berada tepat di bawah pesawat siluman generasi ke-5. Su-35 memiliki kemampuan manuver yang tinggi (+9g) dengan sudut penyerangan tinggi, dilengkapi dengan sistem persenjataan canggih yang membuat pesawat ini memiliki kemampuan tempur yang luar biasa.

Konstelasi Regional

Dengan kemampuan yang dimilikinya, sangat tepat jika Pemerintah RI dan TNI AU (sebagai end user) memutuskan untuk membeli dan menggunakan Su-35. Kehadiran Super Flanker akan meningkatkan kekuatan udara kita, memperkuat air superiority TNI AU, dan semakin memantapkan postur pertahahanan kita dalam konteks persaingan dan perimbangan kekuatan regional.

Selain Indonesia, negeri jiran kita Malaysia pun tengah dalam proses membeli jet tempur baru Super Hornet buatan Boeing Amerika Serikat, F/A-18E/F. Seperti Su-35, pesawat tempur bikinan AS tersebut juga merupakan jet tempur multiperan yang bisa dipakai untuk pertempuran udara, penguasaan udara, pengintaian hingga pemboman.

Namun, harga per unit Su-35 lebih mahal USD 9,8 juta jika dibandingkan produk buatan perusahaan penerbangan asal AS, Boeing yang seharga USD 55,2 juta. Meski harganya cukup mahal, biaya operasional yang digunakan untuk menerbangkan satu Su-35 lebih murah dibandingkan dengan Super Hornet.

Dari segi performa, Su-35 lebih unggul dibandingkan Super Hornet. Su-35 bisa menjangkau 3.600 km dengan kecepatan penuh Mach 2.25 atau 2.390 km per jam serta mencapai ketinggian maksimal 59.100 kaki. sementara Super Hornet hanya mencapai Mach 1.8 atau 1,915 km per jam. Pesawat ini "hanya" mampu menempuh jarak 2.346 km dan ketinggian maksimal tidak lebih dari 50 ribu kaki.

Salah satu keunggulan yang dimiliki Su-35 adalah terpasangnya radar Irbis-E yang bisa mengendus keberadaan Hornet atau 30 pesawat tak dikenal lainnya, dengan tembakan radar mencapai 120 derajat dalam jarak 400 km lebih. Keberadaan sistem pencari dan pendeteksi infra-merah (IRST) memiliki jarak jangkau hingga 80 km. Peralatan ersebut membuat jet tempur ini dapat mendeteksi, memilih dan mengintai empat target di darat serta dua target bergerak.

Memang, Boeing membangun Super Hornet untuk memberikan keunggulan di udara yang dilakukan dengan meningkatkan sistem avionik dan kemampuan senjata. Salah satunya adalah sistem radar Raytheon's AN/APG-79 AESA, yang diklaim sebagai terbaik di dunia saat ini.

Secara umum, sistem radar ini membuat pesawat ini mampu lebih cepat mendeteksi jet tempur lawan. Tanpa menyebutkan jarak deteksi, APG-79 telah mengalami peningkatan pengawasan dan dukungan terhadap pertempuran udara dan serangan ke darat. Boeing mengklaim, radar ini bisa mengakomodasi berbagai teknologi terbaru.

Radar ini juga dilengkapi Radar Penerima Peringatan (RWR) yang bisa mendeteksi bahaya dari jarak yang cukup jauh. Dengan adanya peringatan yang diberikan, RWR ini membuat pilot Super Hornet mempersiapkan diri untuk menghindari tembakan musuh. Dengan teknologi tersebut, kemampuan Super Hornet dinilai sejajar dengan pesawat siluman F-22 dan F-35.

Sejak diproduksi, Super Hornet sudah digunakan Angkatan Laut AS (US Navy) dan telah beroperasi sejak sekitar tujuh tahun lampau. Pesawat ini ikut melakukan pengamanan udara di zona larangan terbang dalam perang Irak, dan merupakan bagian dari kapal induk (aircraft carrier) USS Abraham Lincoln.

Meski punya keunggulan tertentu, kalangan analis militer menilai Super Hornet kalah kelas dibanding Su-35.

Kita menantikan kehadiran sang Super Flanker menderu di angkasa Nusantara.

 

* Penulis adalah pengamat militer

Komentar