Breaking News

REFLEKSI Agama (Dan) 'Hati Baik' 21 Jun 2024 10:29

Article image
Ilustrasi. (Foto: BahaiTeachings.org)
Refleksi ini tidak bermaksud merelativisasi kebenaran ataupun mempersamakan ajaran setiap agama.

Oleh Valens Daki-Soo

Kadang sulit dipahami, mengapa 'orang kita' -- maksudnya banyak warga bangsa tercinta ini -- senang dengan 'kehebohan' soal (ber)agama. Salah satunya, isu 'pindah agama' seorang artis bisa dengan amat cepat menjadi bahan gunjingan dan perdebatan di media sosial. Sebenarnya bukan lagi debat, tetapi 'perkelahian verbal' yang tak berujung pangkal alias tak jelas juntrungannya karena kerap berakhir dengan cercaan dan makian. Isu semacam itu bisa lebih cepat membakar emosi dan mengundang reaksi ketimbang misalnya kelaparan samasaudara kita di suatu sudut republik ini.

Pada satu sisi saya dapat mengerti, agama adalah satu hal yang bersifat pribadi, menyangkut 'hati' -- karena bicara keyakinan itu bukan lagi semata soal 'akal budi' murni -- sehingga manusia cenderung lebih sensitif, lebih cepat reaktif, lebih gampang murka ketika keyakinan itu diutak-atik. Di sisi lain, saya masih menyimpan sedikit pertanyaan, mengapa kita sering cenderung mengambil 'posisi Tuhan' dalam/dengan mengadili dan menghakimi sesama? Siapakah Anda dan saya ini, yang mudah dan suka menilai hidup orang lain?

Refleksi ini bukan untuk menggugat posisi dan peran agama, melainkan sebagai percikan kesadaran dan upaya "penyadaran diri" bahwa saya harus memiliki dan merawat "hati yang baik" agar keagamaan saya tidaklah sekadar rentetan ritus dan hafalan-hafalan ayat Kitab Suci. Keagamaan saya mestinya keluar sebagai mata air keteduhan dan kedamaian bagi diri sendiri yang seyogianya juga menghadirkan kenyamanan, ketenangan dan ketenteraman bagi yang lain.

Teringatlah saya pada dosen Fisika Dasar kami saat masih mahasiswa awal filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Flores. Dosen yang berkebangsaan Jerman ini selalu berpikiran rasional dan matematis, namanya (alm) Fritz Braun, SVD. Dalam suatu kotbahnya, Pater Fritz bilang begini, "Jangan pernah kamu melihat, mendiskriminasikan, apalagi menghina orang karena agamanya. Karena yang paling penting bukanlah apa agamanya, melainkan bagaimana hatinya. Saya lahir di Jerman yang mayoritas Kristen, maka saya beragama Kristen/Katolik. Anda lahir di Flores yang mayoritas Katolik, maka Anda Katolik. Seandainya kita lahir di Wuring (NB: ini kampung yang seluruh warganya beragama Islam, di Maumere Flores), pasti kita beragama Islam. Jadi, jangan adili orang karena agamanya, karena yang terpenting kita hidup dengan hati yang baik. Ya, agama 'hati baik'.".

Hemat saya, itu bukan relativisme agama, bukan pula pengingkaran akan penting dan perlunya seseorang hidup sesuai keyakinan religiusnya. Aksentuasi pernyataan tersebut jatuh pada kemestian kita mengutamakan substansi, "isi", ketimbang seremoni, bungkus atau format keagamaan semata.

Setiap hari kita bersentuhan dengan banyak saudara yang datang dari aneka budaya dan agama. Mereka, Anda dan saya beragama karena situasi dan pilihan tertentu -- entah seperti saya yang dari kecil sudah dibaptis menjadi Katolik saat saya belum tahu apa-apa, ataupun orang yang dengan sadar dan sukarela memilih agama tertentu setelah dia dewasa. Itu soal hak dan pilihan pribadi, lalu mengapa sering menjadi persoalan bahkan "urusan publik"?

Refleksi ini tidak bermaksud merelativisasi kebenaran ataupun mempersamakan ajaran setiap agama. Hingga akhir dunia ini perbedaan akan tetap ada. Anda dan saya berhak percaya dan hidup sesuai keyakinan masing-masing. Anda dan saya tak perlu saling memaksakan keyakinan pribadi.

Bagi pribadi yang dewasa, berita artis pindah agama bukanlah isu penting, bukan cerita yang perlu digembar-gemborkan. Karena yang terpenting adalah sejauh mana manusia menghadirkan Yang Ilahi melalui perkataan dan perbuatan baik. ***

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

 

Komentar