INTERNASIONAL Apa Penyebab Demonstrasi Anti-pemerintah di Iran? 11 Jan 2026 18:11
Demonstrasi anti-pemerintah ini berpotensi menjadi tantangan terbesar yang pernah dihadapi penguasa Iran sejak Revolusi Islam 1979
TEHERAN, IndonesiaSatu.co -- Aksi protes di Iran telah berlangsung sejak Desember 2025. Puluhan orang dilaporkan tewas, dan ribuan lainnya ditangkap. Berikut adalah hal-hal yang perlu Anda ketahui.
Aksi protes dipicu oleh krisis ekonomi yang melanda Iran sejak akhir Desember.
Demonstrasi dimulai di ibu kota Iran, Teheran, pada tanggal 28 Desember 2026 dan sejak itu telah menyebar ke lebih dari 574 lokasi di seluruh 31 provinsi Iran, menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat (AS).
Laporan HRANA pada Jumat (9/1/2026) menginformasikan, 116 orang tewas dan setidaknya 2.638 orang demonstran telah ditahan pemerintah, lapor HRANA.
Laporan Sky News, protes tampaknya tidak mereda. Pada 9 Januari 2026, pemerintah Iran menerapkan pemadaman internet nasional, sehingga panggilan telepon tidak dapat menjangkau negara tersebut, penerbangan dibatalkan, dan situs web berita Iran hanya sesekali memperbarui informasi.
Demonstrasi anti-pemerintah ini berpotensi menjadi tantangan terbesar yang pernah dihadapi penguasa Iran sejak Revolusi Islam 1979 - ketika mantan pemimpin tertinggi Ayatollah Ruhollah Khomeini mendirikan teokrasi Syiah di Iran.
Apa penyebab demonstrasi?
Demonstrasi dimulai pada 28 Desember ketika pemilik toko dan pedagang pasar di Teheran melakukan pemogokan karena mata uang Iran mencapai titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS.
Ekonomi Iran telah menderita selama bertahun-tahun dan masalah tersebut semakin diperparah setelah Donald Trump memberlakukan kembali sanksi AS pada tahun 2018 selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden dan mengakhiri kesepakatan internasional mengenai program nuklir negara tersebut.
Sanksi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa juga diberlakukan kembali terhadap negara tersebut pada September 2025.
Krisis ekonomi yang berkepanjangan di negara itu semakin memburuk setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Republik Islam Iran pada Juni 2025, dalam perang 12 hari yang menargetkan beberapa situs nuklir Iran.
Iran menegaskan program energi nuklirnya sepenuhnya tidak berbahay dan mengklaim tidak pernah mencoba membangun bom nuklir.
Meskipun protes awalnya berfokus pada ekonomi, protes tersebut kemudian meluas ke isu-isu politik yang lebih luas. Para demonstran mulai meneriakkan pernyataan anti-pemerintah.
Rekaman dari tanggal 30 Desember 2025 menunjukkan mahasiswa universitas berbaris bersama pemilik toko dan pedagang di Teheran.
Masalah ekonomi telah menyebabkan negara ini berjuang dengan tingkat inflasi tahunan sekitar 40%. Harga barang-barang kebutuhan pokok termasuk minyak goreng, daging, beras, dan keju meningkat drastis.
Para demonstran ditembak
Di Malekshahi, provinsi Ilam, salah satu Provinsi di Iran, para demonstran dihadang tembakan ketika mereka berkumpul di luar gerbang pangkalan yang dikelola oleh Garda Revolusi. Peristiwa itu kemudian dikenal sebagai 'Sabtu Berdarah'.
Sehari kemudian di daerah yang sama, pasukan keamanan memasuki rumah sakit regional, tempat kerabat orang-orang yang ditembak menyerukan diakhirinya rezim.
Amnesty International menginformasikan, personel keamanan memasuki rumah sakit beberapa kali, menangkap para demonstran yang terluka dan anggota keluarga mereka.
Meskipun terjadi pemadaman internet nasional, video pendek daring yang dibagikan oleh para aktivis tampaknya menunjukkan para demonstran meneriakkan protes terhadap pemerintah Iran di sekitar api unggun sementara puing-puing berserakan di jalan-jalan di ibu kota, Teheran, dan daerah lainnya.
---Redem Kono
Komentar