Breaking News

BUDAYA Atasi Hoaks dan Politisasi SARA, Diperlukan Komunitas "Pemutus Kata" 19 Jun 2023 22:41

Article image
Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Benny Susetyo. (Foto: Ist)
Menurut Benny, karena itu diperlukan pribadi dan komunitas “pemutus kata”, yaitu orang yang kritis ketika mendapatkan informasi atau berita dengan mencari kebenaran dari informasi tersebut, sebelum menyebarkannya kepada orang lain.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Pakar Komunikasi Antonius Benny Susetyo mengatakan literasi digital dan literasi kebangsaan di era kerbukaan sekarang ini menjadi sangat penting. Khusus bagi anak-anak muda, literasi sangat peting agar tidak mudah terdoktrin oleh hal-hal yang menyesatkan.

"Maka kesadaran literasi digital sangat penting, kesadaran literasi kebangsaan akan memperkuat kita, supaya anak-anak muda tidak terjerumus dan tereduksi oleh doktrin-doktrin yang sesat, doktrin-doktrin yang mengajarkan kesesatan dimana manipulasi agama hanya mencari kekuasaan," ujarnya di Jakarta.

Menurut Benny, karena itu diperlukan pribadi dan komunitas “pemutus kata”, yaitu orang yang kritis ketika mendapatkan informasi atau berita dengan mencari kebenaran dari informasi tersebut, sebelum menyebarkannya kepada orang lain.

"Maka dibutuhkan kesadaran baru, bagaimana publik menjadi komunitas pemutus kata bukan peng-iya kata. Komunitas pemutus kata adalah orang yang kritis orang yang mempertanyakan orang yang mencari kebenaran dan mencari sumber-sumber berita yang terpercaya bukan sekadar komunitas peng-iya kata yang hanya sekadar meng-share tanpa membaca dengan bijak," tegasnya.

Benny yang merupakan rohaniwan Katolik ini menyampaikan, kesadaran menggunakan media sosial harusnya mampu merajut persaudaraan sejati dan media sosial harusnya mendidik masyarakat menjadi lebih kritis.

"Kecerdasan masyarakat dalam menggunakan media sosial hanya bisa dibangun lewat sebuah kesadaran kritis dengan cara mendidik rakyat lebih bisa memilih berita dan konten bersumber akurat," ujarnya.

Menurut Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu, tantangan terbesar di era digitalisasi adalah bagaimana menjadi orang yang bijaksana, yaitu orang yang mampu mengolah berita dengan tepat dan mampu menyaringnya sehingga memiliki kesadaran akan dampak dari menyebarkan berita bohong akan membuat kehancuran.

"Kebohongan yang diulang-ulang secara sistematis menjadi kebenaran dan ketika kebenaran itu direduksi dengan berita yang bohong tanpa fakta dan data kerap kali berita itu menyesatkan dan kerap kali juga menipu publik," ucapnya.

Etika berkomunikasi dalam menggunakan sosial media, katanya, sangat penting dan harus diterapkan. Hal itu agar tidak terjadinya perpecahan persatuan dan kesatuan di negara Indonesia dan juga tidak berdampak buruk bagi kehidupan negara dan sesama pengguna sosial media, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Karena itu, Benny mengajak masyarakat agar bijak menggunakan media sosial sebagai alat untuk memajukan peradaban kemanusiaan bukan penghancuran kemanusiaan.

“Saatnyalah kita menjadi bijak untuk menggunakan media sosial sebagai alat untuk memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, nilai-nilai kemajemukan, dan menjaga NKRI tetap utuh," pungkasnya. ***

--- F. Hardiman

Komentar