Breaking News

NASIONAL Stafsus BPIP: Literasi dan Kekritisan Sangat Dibutuhkan Kaum Muda 18 Nov 2023 19:54

Article image
Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Asisi Semarang mengadakan Seminar Nasional dengan tema "Orang Muda Menghidupi Pancasila Menuju Indonesia Emas" di Kota Semarang, pada hari Jumat (17/11/2023). (Foto: ist)
Memori anak muda kita terhadap Pancasila hilang, dan ini yang paling besar: hilangnya keteladanan, role model bagi anak muda, akan seseorang yang Pancasilais.

SEMARANG, IndonesiaSatu.co -Sekolah Tinggi Pastoral Kateketik Santo Fransiskus Asisi Semarang mengadakan Seminar Nasional dengan tema "Orang Muda Menghidupi Pancasila Menuju Indonesia Emas" di Kota Semarang, pada hari Jumat (17/11/2023).

Hadir sebagai narasumber, Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, dan F.X. Sugiyono, Wakil Uskup Semarang. Acara ini dihadiri kurang lebih 400 orang, baik secara luring ataupun daring, dari seluruh Indonesia.

Benny, sapaan akrab Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah BPIP ini, menyatakan bahwa terjadi sebuah keprihatinan terhadap anak muda saat ini.

"Beberapa tahun lalu, survei dari Setara Institute menunjukkan sekitar 73% anak muda setingkat SMA menyatakan ideologi Pancasila bukanlah final. Kenapa ini bisa terjadi? Memori anak muda kita terhadap Pancasila hilang, dan ini yang paling besar: hilangnya keteladanan, role model bagi anak muda, akan seseorang yang Pancasilais," ujarnya seperti dikutip dari siaran pers di Jakarta, Sabtu (18/11).

Rohaniwan Katolik ini menyatakan bahwa tidak adanya role model ini berdampak besar kepada anak-anak muda.

"Yang dipertontonkan adalah pelanggaran hukum dan norma etika, yang baru-baru ini misalnya MK dan keputusan MKMK. Ini persoalan aplikasi nilai-nilai Pancasila. Pancasila belum menjadi pandangan hidup. Praktek KKN, kekerasan, hukum tebang pilih. Akibatnya, anak-anak cuek terhadap Pancasila, karena tidak ada role model yang aktual dan masih berkarya sekarang di Indonesia. Ini harus menjadi perhatian serius semua unsur bangsa," ujarnya.

Romo Benny mengatakan berbicara tentang Pancasila adalah bagaimana nilai dalam ketuhanan, yang artinya orang yang memiliki nilai ketuhanan berarti bisa mengaplikasikan kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, musyawarah mufakat dan keadilan sosial. “Aplikasi ini jauh, karena orang-orang sekarang haus kekuasaan dan kekuatan," ujarnya.

Pakar komunikasi politik ini menyatakan anak-anak muda hidup di era teknologi yang serba instan dan cepat. Salah satu kekuatannya yaitu memiliki visual yang kuat, namun gampang bosanan. “Ingin cepat tapi tidak matang. Maka, anak-anak membutuhkan pelajaran berpikir kritis dan literasi, maka anak muda tidak mudah dimanipulasi teknologi, jiwa merdekanya tidak terenggut. Teknologi harus menjadi sarana mempersatukan, bukan memecah belah. Prakteknya sekarang, teknologi membuat peminggiran dan manipulasi terhadap kemanusiaan yang adil dan beradab. Hati-hati terhadap manipulasi, oleh karena itu, berpikirlah kritis dan tambah ilmu literasi," jelasnya.

"Instan ini berbahaya, dan ini membahayakan ideologi. Ideologi juga harus menjadi ideologi bekerja. Anak-anak muda jangan terjerat dengan 'populerisme' dan menghalalkan segala cara. Melukai diri sendiri, merendahkan martabatnya sendiri, hanya agar dapat banyak followers. Inilah dibutuhkan kekritisan anak muda," sambungnya.

Karena itu, Benny mengajak anak-anak muda untuk memerangi konten yang merusak.

"Teman-teman muda harus punya literasi kebangsaan, jadilah kritis. Buat gagasan yang bernilai Pancasila. Jangan hanya ikut arus dan tidak memakai kemampuan berpikir kritisnya. Jangan sampai kita hidup instan terus, tetapi harus cerdas, dan mewujudkan masyarakat adil dan makmur," bebernya.

F.X. Sugiyono dalam paparannya menunjukkan bahwa anak-anak muda memiliki kecenderungan untuk tidak peduli dan cuek terhadap literasi dan pembicaraan pembangunan dan perkembangan serta nilai-nilai sosial bangsa.

"Lebih suka berbicara internal gereja. Padahal harus ada rasa yang tumbuh untuk peduli kepada dunia dan keadaan sosial Indonesia. Keadaan Indonesia, apapun itu akan berdampak untuk semua orang, termasuk anak-anak muda katolik ini," ujarnya.

Dirinya menyatakan bahwa terdapat 11 persen muda Katolik yang menyatakan Pancasila bisa diganti sebagai ideologi.

Politik, menurutnya, adalah berpikiran untuk kebaikkan bersama, dan semua orang adalah pemain dan tergantung kepada situasi politiknya.

"Menyambut tahun emas ini tergantung pada politik. Kalau kita sendiri tidak peduli pada politik dan tidak berpikir kritis, apa yang akan mempengaruhi tahun emas tersebut yaitu politik, maka menjadi tidak ada apa-apa. Tidak akan ada perubahan. Ini yang harus dibangkitkan. Pancasila harus diwujudkan untuk menuju Indonesia Tahun Emas. Maka, aktiflah berpartisipasi terhadap politik, jangan diabaikan, berpikir kritis, karena apapun yang terjadi di politik, akan berdampak terhadap hidup kita semua," pungkasnya. ***

--- F. Hardiman

Komentar