REFLEKSI Bagaimana Caraku Beragama? (Sebuah Refleksi Ringan) 26 Nov 2021 16:32
Agama sejatinya bukan semata tumpukan aturan atau perintah dan larangan, tetapi (terutama) "cara hidup" yang gembira, damai dan membahagiakan.
Oleh Valens Daki-Soo
SEGALA yang kita tahu dan mengerti tentang Tuhan, Sang "Ada Tertinggi" (The Supreme Being) -- atau dengan nama apapun Dia disebut dalam aneka bahasa, budaya dan agama -- tak pernah cukup menjelaskan (si)apa sesungguhnya Dia.
Akal budi manusia memang terbatas untuk memahami segala, setidaknya saat ini. Entahlah suatu saat nanti, ketika evolusi manusia terus bergerak yang mungkin merambah hingga level selular dan neuro-biologis yang barangkali memengaruhi "naik"nya tingkat kesadaran, termasuk kesadaran spiritual. Saya bukan pakar sains, sehingga tidak kompeten bicara tentang itu.
Tentang Tuhan, yang kita paham sebenarnya adalah konsep tentang Dia. Konsep (tentang Tuhan) itu pun berkembang dalam sejarah dan dinamika manusia. Semakin manusia memahami dirinya, semakin pula lebih 'maju' konsep atau pengertiannya tentang Tuhan.
Satu hal penting: kita tak pernah bisa memahami Tuhan secara tuntas. Jika dipahami secara tuntas, maka itu bukanlah Tuhan. Namun, tidak tuntas bukan berarti tak mencukupi. Pengetahuan dan pengertian kita tentang Tuhan, sesederhana apapun pemahaman kita, sudah menjadikan kita pantas dan layak hidup dalam rasa syukur kepada Daya Ilahi.
Pada setiap masa dan untuk setiap kaumnya berulang kali hadir para "Guru Kehidupan" yang membawa pencerahan, perubahan dan pembaruan. Melalui mereka kita meyakini Daya Ilahi itu bekerja dan membuka kesadaran manusia tentang siapa dirinya, dari mana dia berasal dan ke mana tujuan 'asali'nya.
Apapun agama atau keyakinan religius kita memang perlu dan penting bagi kita masing-masing. Namun, perlu dipahami, agama bukankah tujuan melainkan jalan, melaluinya setiap manusia (pemeluk agama) berziarah bersama menuju tujuan 'asali', tujuan yang juga asalnya.
Sebagai sesama peziarah, seyogianya kita saling menghormati, saling menghargai, saling mengasihi. Tak perlu saling menyalip, menikung, menghimpit apalagi menekan dan mencekik alias membunuh-mati. Biarkan setiap peziarah meniti jalan yang dia percayai.
Boleh jadi ada peziarah yang menganggap jalannya paling benar, paling pasti, paling bersih, paling murni. Itu terjadi karena mungkin dia belum paham bahwa yang terpenting bukanlah klaim tentang jalan mana yang paling prima, melainkan bagaimana dia berupaya hidup benar, lurus dan bersih sebagaimana jalan yang dia banggakan. Atau, jangan-jangan dia lebih banyak 'berakrobatik' di luar jalannya.
Agama bukanlah sesuatu yang perlu diperlakukan secara infantil, misalnya sebagai hal yang bikin pemeluknya bangga berlebihan, apalagi pongah terhadap sesamanya. Agama bukan pula alat manipulasi untuk menekan, memeras dan menindas sesama. Agama juga bukan senjata untuk menakut-nakuti sesama.
Agama sejatinya bukan semata tumpukan aturan atau perintah dan larangan, tetapi (terutama) "cara hidup" yang gembira, damai dan membahagiakan.
Agama seharusnya menjadi "jalan kebahagiaan", nama lain untuk "jalan keselamatan" dan "jalan kedamaian".
Jadi, kalau hidup saya belum damai, selalu curiga dan berprasangka buruk terhadap sesama, lalai dan tak peduli pada pelestarian alam, gemar korupsi besar atau kecil(-kecilan), mau menang sendiri, sukar mengampuni, hobi menyakiti, diskriminatif dalam perlakuan kepada sesama, maka saya perlu bertanya diri: sebenarnya, bagaimana cara saya beragama? Bahkan, sebenarnya apa tujuan saya beragama?
Pribadi yang sungguh beragama mestinya sungguh berbahagia, dan oleh karenanya mampu membahagiakan sesama. Dia dengan gembira dan penuh hormat memperlakukan sesamanya dengan cara terbaik, tak peduli asal-usul, jenis kelamin, suku bangsa dan agamanya.
Ketika seseorang telah sampai pada titik ini, kita menyebut dia seorang yang beriman, lebih daripada beragama. Orang macam ini lebih menjadi 'spiritual(is)' ketimbang religius. Dia hidup pada tataran "metadigmatis", 'beyond religion'.
Inilah refleksi pribadiku, tanpa referensi teologis, tanpa pretensi jadi 'guru agama', tanpa bermaksud menggantikan pengkotbah di gereja.
Tentang agama, kalau harus mengutip pakar, saya teringat ucapan dosen kami di STFK Ledalero dulu, Dr. Hubert Muda, SVD, "Allah tidak dapat 'dipenjarakan' dalam satu agama. Allah melampaui agama."
Salam bahagia.
Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar