REFLEKSI Beda Negarawan dan (Sekadar) Politisi 16 Jun 2023 09:07
Negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara.
Oleh Valens Daki-Soo
Perbedaan antara negarawan dan sekadar politisi sebenarnya tidak perlu dilukiskan dengan definisi. Cukuplah kita mengangkat contoh figur, maka kita dengan mudah membedakan keduanya. Bung Karno, Bung Hatta, Bung Syahrir, Pak Dirman (Panglima Besar Soedirman) adalah contoh negarawan ideal. Mereka pertaruhkan totalitas hidup mereka untuk kepentingan dan kebaikan banyak orang -- "pro bono publico". Mereka tidak peduli dan tak takut menghadapi risiko: dibuang ke berbagai pelosok, dipenjarakan karena cinta kepada bangsa, dan ketika mati tidak mewariskan segudang materi untuk anak cucu.
Namun untuk menyegarkan kembali ingatan pembaca, saya cukup mengutip komentar dua pakar ilmu politik berikut ini.
Pengamat politik dari Reform Institute Yudi Latif menilai Indonesia banyak memiliki politisi tapi sangat sedikit negarawan.
"Negawaran memberikan jiwa raganya untuk negara, sedangkan politisi mencari sesuatu untuk jiwa raganya dari negara." Negarawan memberikan jiwa raganya untuk negara, sehingga dapat menjadi pahlawan.
Negarawan memberikan apa yang dapat diberikan kepada negara, sedangkan politisi mencari apa yang bisa diperoleh dari negara. "Karena itu, banyak politisi yang terjebak pada kasus hukum dan praktik korupsi,."
Prof. Dr. Samsul Nizar berpendapat, pemimpin yang negarawan dan politikus akan memiliki dampak yang berbeda. Tipikal sosok pemimpin yang berkarakter negarawan memiliki sifat mengayomi dan memikirkan masa depan bangsa untuk menitipkan kecemerlangan pada generasi yang akan datang.
Sosok negarawan memiliki idealisme yang kokoh dengan harga diri yang terjaga. Kehadirannya bagai seorang “ayah” mengantarkannya menjadi sosok yang bijaksana dan berpikir visioner untuk membangun masa depan peradaban yang elegan kepada anak cucunya.
Seorang negarawan akan lebih meletakkan profesionalisme dan moral sebagai standar utama. Kebijakannya berangkat dari kepentingan kolektif rakyat dan meminimalkan dominasi kepentingan kolegial yang bersumber kepentingan dan dorongan kelompok.
Tipikal sosok pemimpin politikus hanya memikirkan kepentingan sesaat demi tercapainya tujuan pribadi dan komunitas yang terbatas. Pandangan tipikal pemimpin berkarakter politikus hanya mengedepankan diri dan kolegial promordial.
Secara ideal, kata Prof. Dr. Samsul Nizar, partai politik sesungguhnya bukan menciptakan politikus, akan tetapi menciptakan negarawan melalui didikan kepartaian. Meski sosok negarawan tak mampu diciptakan secara instan. Eksistensinya hadir dalam proses dan waktu yang panjang.
Kebanyakan elite politik negeri ini disesaki oleh politisi. Mereka tidaklah buruk "in se", tetapi ketika yang dikejar hanyalah kekuasaan, tatkala 'libido politik' mereka berkobar-kobar hanya untuk mendapatkan kursi kekuasaan, manaka dengan segala cara mereka tempuh jalan untuk meraup manfaat kekuasaan politik demi kepentingan diri/pribadi/kelompok/partai sendiri, maka berdentanglah lonceng penanda bahwa mereka bukan negarawan.
Kekuasaan itu baik dan perlu, penting dan bermanfaat, sejauh bisa diolah dan dipersembahkan untuk mengabdi rakyat. Saya paham, Anda mungkin bilang, "Ah, rakyat cuma dijadikan alasan atau obyek kaum politisi. Nyatanya, yang terjadi, setiap lima tahun berlalu, politisi-lah yang tambah kaya, rakyat tetap atau bahkan kian merana."
Itu sebabnya, pilihlah pemimpin dan wakil rakyat -- ya, wakil Anda -- yang Anda yakini baik, jujur dan bertanggung jawab kepada Anda. Ya, mereka yang takut akan Tuhan dan mencintai kemanusiaan. Mereka yang menganggap jabatan yang cuma sementara itu sebagai aktualisasi "misi dari Tuhan" bagi diri mereka untuk menyalurkan berkat Tuhan bagi sesama.
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, CEO VDS Group, Pendiri dan Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar