REFLEKSI Berilah (dan Jadilah) yang Terbaik dari Dirimu 27 Jun 2023 15:53
Menjadi diri Anda yang terbaik sinonim dengan menjadi pribadi bahagia yang merasa diri bermartabat tinggi, percaya diri, penuh cinta kasih dan rendah hati.
Oleh Valens Daki-Soo
Judul tulisan ini mungkin sudah lazim didengar dari para filsuf, psikolog dan motivator. Filsuf Yunani kuno, mengatakan, "Gnoti Seauton!" Dalam bahasa Inggris, "Know thyself!", kenali dirimu. Pengenalan diri secara adekuat atau memadai menjadi basis pertumbuhan dan perkembangan pribadi seseorang. Tanpa pengenalan diri, seorang individu dapat mengalami ketersesatan dalam hidup, terjebak dalam disorientasi nilai. Kenyataan empiris secara psikologis menunjukkan, orang yang mengalami disorientasi hidup mudah terjerembab dalam berbagai masalah, tanpa diri sendiri menyadari bahwa dia sedang bermasalah.
Di sisi lain, pengenalan diri juga merupakan basis positif-konstruktif bagi seseorang untuk menjadi yang terbaik dari dirinya. Menjadi yang terbaik dari diri Anda berarti memunculkan segala potensi, bakat dan kemampuan secara optimal sehingga kehadiran Anda menjadi "getaran energi positif" bagi sesama dan lingkungan.
Dengan demikian, menjadi yang terbaik dari diri sendiri bukanlah hasil perbandingan diri dengan orang lain. Kita menjadi yang terbaik tanpa mesti menghadap-hadapkan potensi dan kemampuan diri dengan kapasitas dan kualitas pribadi yang lain. Jadi, kita tidak perlu membanding-bandingkan diri dengan siapapun, apapun alasan dan motifnya. Bahkan, membandingkan diri dengan orang lain justru bisa negatif: Anda menjadi kecewa terhadap diri sendiri, iri hati, minder, kehilangan rasa percaya diri.
Frasa 'Gnoti Seauton' (Kenali Dirimu) sudah diterima umum berasal dari Socrates. Meskipun sebenarnya frasa yang terukir pada pintu masuk Kuil Apollo di tempat suci Yunani dikaitkan dengan sejumlah besar pemikir Yunani kuno, dari Heraclitus hingga Pythagoras. Faktanya, sejarawan tidak yakin dari mana asalnya.
Rachel Ashcroft, seorang penulis dan jurnalis kontributor dengan latar belakang akademis dalam bahasa, sastra, dan filsafat Eropa, dalam artikel berjudul “Michel de Montaigne and Socrates on ‘Know Thyself’” menulis, berbagai sarjana telah berusaha untuk mengilustrasikan betapa pentingnya pengetahuan diri bagi proyek filosofis Socrates.
Akademisi seperti M. M. McCabe berpendapat pengetahuan diri Socrates melibatkan pencarian mendalam terhadap prinsip dan keyakinan seseorang.
Kita harus menilai diri kita sendiri dengan jujur dan terbuka untuk melihat di mana kesalahan pandangan kita.
'Kenali dirimu' membutuhkan "keberanian untuk bertahan, untuk mengakui kegagalan, untuk hidup dengan pengetahuan tentang ketidaktahuan sendiri". Di sinilah kita mulai melihat bagaimana pengetahuan diri, bila dilakukan dengan benar, bisa menjadi alat untuk perbaikan diri.
Socrates terkenal karena kecintaannya pada dialog. Dia senang mengajukan pertanyaan kepada orang lain, apakah mereka filsuf atau senator atau pedagang. Mampu menjawab pertanyaan, dan juga menawarkan penjelasan yang koheren untuk jawaban seseorang, merupakan komponen penting dari pengetahuan diri.
Socrates suka menguji kepercayaan orang, dan dengan melakukan itu mencoba membangun kebenaran tentang topik tertentu.
'Kenali dirimu' kemungkinan telah diperlakukan sebagai pepatah berharga dalam masyarakat manusia selama ribuan tahun. Pencantumannya di dinding kuil Apollo di Delphi mengokohkan reputasinya sebagai pepatah filosofis yang berguna. Socrates menjelajahinya lebih detail dan menghasilkan interpretasinya sendiri
Menjadi diri Anda yang terbaik sinonim dengan menjadi pribadi bahagia yang merasa diri bermartabat tinggi, percaya diri, penuh cinta kasih dan rendah hati. Dengan kualitas personal semacam ini, Anda "lahir baru" sebagai pribadi yang mandiri, yakin pada kemampuan sendiri, peduli pada sesama, mencintai lingkungan alam maupun lingkungan sosial.
Menjadi diri Anda yang terbaik selalu berdimensi sosial. "No man is an island", setiap orang bukanlah pulau yang terpisah dari lingkungan. Kita selalu membutuhkan dan dibutuhkan sesama dan alam. Dalam hal dan situasi apapun, kita tak bisa lepas dari "mutual sharing", saling berbagi cinta, kebahagiaan, kesusahan dan kepedulian. Oleh karenanya, ketika orang menjadi individualistis dia akan cenderung mengabaikan orang lain, fokus hanya pada hidupnya sendiri dan jatuh dalam egosentrisme. Dia menjadi tumpul dalam solidaritas dan tak mampu berbagi kebaikan dengan sesama.
Menjadi diri sendiri yang terbaik juga berarti tidak membenamkan bakat-bakat dan kemampuan yang kita miliki. Kita justru mengerahkan segala upaya agar daya-daya diri kita yang positif bisa keluar, muncul dan bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama.
Baiklah, sebagai penutup izinkan saya berbagi spirit ini:
Berilah yang terbaik ke manapun Anda pergi.
Ucapkan atau tuliskan kata-kata yang bagi sesama terasa sejuk di hati.
Anda mungkin tak tahu, apa yang Anda katakan itu mungkin biasa bagi Anda, namun bagi orang lain bisa terasa sangat berarti.
Kita hidup untuk saling memberi dan berbagi.
Maka aku teringat ucapan sahabatku Jenderal Doni Monardo, "Yang penting bukanlah pangkat dan jabatan, melainkan tindakan dan perbuatan untuk mengisi hidup ini."
Ya. Mari terus berbagi energi positif, dan jadilah diri Anda yang terbaik sebagai pancaran kasih Daya Ilahi. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar