TAJUK Bersama Bung Hatta Menuju Kedalaman 02 Feb 2026 11:46
Ketika menjalani pembuangan di Boven Digul, Bung Hatta menulis buku Alam Pikiran Yunani. Tubuhnya dipenjara, tetapi pikirannya bebas merdeka, bahkan bertualang kepada imajinasi Indonesia Merdeka.
Tidak seperti Bung Karno yang tulisan-tulisannya lugas, bergelora dan membakar semangat, Mohammad Hatta atau Bung Hatta menghasilkan tulisan yang tenang, sistematis, dan mendalam.
Ibarat air yang mengalir perlahan, teduh, tenang dan jernih, Bung Hatta akan mengajak pembaca tulisan-tulisannya untuk bertamasya. Namun, ini bukan sembarang tamasya, hanya pergi untuk menikmati pemandangan alam, karena sambil berjalan, Bung Hatta dengan sabar akan mengingatkan kita pada salah satu keunikan sebagai manusia: kemampuan reflektif.
Kita dibekali akal budi, perasaan, dan kemampuan moral untuk membedakan antara yang salah dan benar. Karena itu tidak heran, manusia memiliki kemampuan reflektif sebagai kapasitas sadar untuk merenungkan pengalaman, tindakan, emosi, dan pemikiran diri sendiri untuk mendapatkan pemahaman yang lebih dalam.
Bersama Bung Hatta kita diingatkan, hidup tidak hanya untuk memenuhi tuntutan rutinitas, memuaskan hasrat biologis, atau mengejar kecepatan media sosial. Dalam hidup harus ada gerak lambat, bahkan alur mundur untuk memeriksa pengalaman hidup yang dilalui, dan memungut hikmahnya sebagai pengalaman dan pembelajaran di masa depan.
"Hidup yang tidak direnungkan tidak layak dijalani" adalah seruan terkenal dari filsuf Yunani, Socrates yang menekankan pentingnya introspeksi, refleksi diri, dan pemeriksaan kritis terhadap makna hidup. Menurut Socrates, hidup tanpa perenungan adalah eksistensi yang hampa dan sekadar mengikuti kebiasaan, bukan sebuah kehidupan yang sejati.
Itulah sebabnya Bung Hatta menulis banyak buku: Untuk Negeriku: Sebuah Otobiografi, Alam Pikiran Yunani, Mohammad Hatta: Memoir, dan banyak artikel lepas yang membahas berbagai tema seperti demokrasi, ekonomi koperasi, dan lain-lain. Hal ini tidak hanya menunjukkan kedalaman pemikiran, tetapi keluasan pengetahuan dari Bung Hatta.
Ketika menjalani penahanan dan pembuangan di Boven Digul 1934-1935, Bung Hatta menulis buku Alam Pikiran Yunani. Tubuhnya dipenjara, tetapi pikirannya bebas merdeka, bahkan bertualang kepada imajinasi Indonesia Merdeka. Ia menulis pemikiran filsafat sebagai perkakas baginya untuk merenungkan kehidupan, melampaui siksaan waktu, serta meneguhkan sikapnya untuk menentang penjajahan.
Bung Hatta menulis: “Filosofi berguna untuk penerangkan pikiran dan penetapan hati. Ia membawa kita ke dalam alam pikiran, alam nurani semata-mata. Dan oleh karena itu melepaskan kita daripada pengaruh tempat dan waktu. Dalam pergaulan hidup, yang begitu menindas akan rohani, sebagai di tanah pembuangan Digul, keamanan perasaan itu perlu ada.”
Karena itu Indonesia harus menimba inspirasi dari Bung Hatta. Di tengah arus politik pragmatis, debat kusir tanpa substansi, kecepatan informasi tanpa kedalaman, kehadiran Hatta menawarkan jalan pulang kepada intelektualitas reflektif tentang kedalaman hidup, pemikiran visioner, penggalian makna kehadiran, kehausan pengetahuan serta kedamaian hidup.
Dalam kedalaman, ada refleksi. Dalam keluasan, ada imajinasi. Dalam pengetahuan, ada aksi.
Salam Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar