Breaking News

INTERNASIONAL Serangan Udara Israel: Puluhan Warga Gaza Tewas, Termasuk Perempuan dan Anak-anak 01 Feb 2026 18:37

Article image
Ledakan akibat serangan Israel di Gaza pada 31 Januari 2026. (Foto: AFP)
Badan pertahanan sipil yang dioperasikan oleh Hamas, mengatakan bahwa anak-anak dan perempuan termasuk di antara korban tewas akibat serangan tersebut.

GAZA, IndonesiaSatu.co-- Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke Gaza, Palestina sehingga menyebabkan 32 orang tewas.

Dilansir BBC dari Kompas.com, Minggu (1/2/2026), Badan pertahanan sipil yang dioperasikan oleh Hamas, mengatakan bahwa anak-anak dan perempuan termasuk di antara korban tewas akibat serangan pada Sabtu (31/1/26).

Helikopter tempur disebut menghantam tenda yang menampung pengungsi di kota Khan Younis di Gaza selatan.

Warga Palestina menggambarkan serangan ini sebagai yang terberat sejak fase kedua gencatan senjata dimulai Oktober 2025 lalu. Fase kedua sendiri mulai berlaku awal bulan ini.

Sementara militer Israel mengkonfirmasi sejumlah serangan dilakukan sebagai tanggapan atas apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran Hamas terhadap perjanjian tersebut pada Jumat (30/1/26).

Israel maupun Hamas saling menuduh melanggar gencatan senjata yang mulai berlaku tahun lalu.

Dalam sebuah pernyataan, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan 'delapan teroris diidentifikasi keluar dari infrastruktur teror bawah tanah di Rafah timur'. Daerah itu ditempati pasukan Israel berdasarkan perjanjian Oktober.

IDF menyatakan, mereka bersama dengan Badan Keamanan Israel (ISA), telah menyerang berbagai lokasi termasuk 'empat komandan dan teroris tambahan' serta fasilitas penyimpanan senjata, lokasi pembuatan senjata, dan 'dua lokasi peluncuran milik Hamas di Jalur Gaza tengah'.

Hamas mengutuk serangan tersebut dan mendesak AS untuk mengambil tindakan. Hamas mengatakan pelanggaran yang terus berlanjut menunjukkan pemerintah Israel terus melanjutkan perang genosida brutalnya terhadap Jalur Gaza.

Hamas mengatakan, tujuh korban berasal dari satu keluarga pengungsi di Khan Younis. Juru bicara pertahanan sipil menambahkan bahwa serangan tersebut mengenai apartemen tempat tinggal, tenda, tempat penampungan, dan kantor polisi.

Para pejabat di rumah sakit Shifa di Kota Gaza, menyebut serangan udara di kota itu mengenai sebuah apartemen tempat tinggal, menewaskan tiga anak dan dua wanita.

"Kami menemukan tiga keponakan kecil saya di jalan. Mereka mengatakan 'gencatan senjata' dan sebagainya. Apa yang dilakukan anak-anak itu? Apa yang telah kami lakukan?" kata paman dari tiga anak yang tewas, Samer al-Atbash, kepada kantor berita Reuters.

Rekaman video dan gambar dari seluruh Gaza menunjukkan beberapa jenazah diangkat dari reruntuhan dan sejumlah bangunan hancur.

Serangan tersebut terjadi menjelang pembukaan kembali penyeberangan Rafah, perbatasan Gaza dengan Mesir, pada hari Minggu ini setelah IDF menemukan jenazah sandera terakhir Israel awal pekan ini.

Kementerian Luar Negeri Mesir mengutuk serangan tersebut dalam sebuah pernyataan dan mendesak semua pihak untuk menunjukkan pengekangan maksimal.

Qatar, salah satu mediator utama selama pembicaraan gencatan senjata, juga mengecam pelanggaran berulang Israel.

Pada bulan Januari 2026, utusan khusus AS, Steve Witkoff mengumumkan dimulainya fase kedua kesepakatan gencatan senjata.

Di bawah fase pertama, Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata pada Oktober 2025, serta pertukaran sandera-tahanan, penarikan sebagian pasukan Israel, dan peningkatan bantuan.

Witkoff menyebut, fase kedua akan mencakup pembentukan pemerintahan Palestina teknokratis di Gaza, rekonstruksi dan demiliterisasi penuh wilayah tersebut, termasuk pelucutan senjata Hamas dan kelompok-kelompok Palestina lainnya.

Israel meluncurkan serangan besar-besaran ke Gaza dengan dalih membalas serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 lalu. Serangan Hamas itu menewaskan sekitar 1.200 orang dan 251 orang menjadi sandera.

Serangan militer Israel di Gaza telah menewaskan lebih dari 71.660 warga Gaza. Setidaknya, 509 warga Palestina telah tewas sejak gencatan senjata dimulai pada 10 Oktober 2025 lalu. Empat tentara Israel juga tewas.

Angka-angka dari kementerian kesehatan dianggap dapat diandalkan oleh PBB dan kelompok hak asasi manusia lainnya, serta banyak dikutip oleh media internasional.

Israel bahkan tidak mengizinkan organisasi berita, termasuk BBC, masuk ke Gaza untuk melakukan pelaporan independen.

--- Guche Montero

Komentar