Breaking News

REGIONAL Dipicu Denda Adat, Dua Suku di Wamena Terlibat Perang Hingga Menelan Korban Jiwa 18 May 2026 12:33

Article image
Perang suku berkecamuk di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. (Foto: Ist)
Berdasarkan data Kepolisian Resor Jayawijaya, perang suku menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan 20 lainnya terluka.

JAYAWIJAYA, IndonesiaSatu.co-- Dua kelompok massa dari suku Hubla (Kurima) dan suku Lanny di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, terlibat perang pada Jumat (15/5/2026).

Kelompok massa dari dua suku itu terlibat dalam bentrok dengan menggunakan busur dan panah, alat tajam serta saling lempar di sekitaran jalan Diponegoro dan Pasar Wouma.

Konflik tersebut menyebabkan korban jiwa, ratusan bangunan terbakar, hingga ribuan warga terpaksa mengungsi.

Kapolres Jayawijaya, AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, menjelaskan bahwa perang suku ini dipicu pembayaran denda adat atas meninggalnya seorang anggota DPRD dari Lanny Jaya usai kecelakaan lalu lintas di Megapura, Distrik Asolokobal pada 17 Mei 2024 lalu.

Akibat lakalantas itu, warga dari Suku Lanny Jaya terlibat perang dengan kelompok masyarakat gabungan dari Distrik Kurima, Asotipo dan Asolokobal yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia. 

"Setelah perang suku di tahun 2024 itu, kemudian diselesaikan secara musyawarah adat dengan kesepakatan denda adat sebesar Rp 2 miliar dan 30 ekor babi," kata Anak Agung, Sabtu (16/5/2026), melansir Kompas.com.

Selanjutnya, pada 6 Mei 2026 terjadi pertemuan untuk pembayaran denda adat. Namun dari pihak Lanny Jaya menolak karena denda yang dibayarkan tidak sesuai kesepakatan awal sehingga menyebabkan aksi saling serang.

Pada saat aksi saling serang itu, jembatan penyeberangan yang dilalui puluhan warga dari Suku Lanny Jaya putus sehingg mengakibatkan puluhan warga jatuh ke kali Uwe dan hanyut terbawa arus.

"Pada saat kejadian 6 Mei itu, warga dari Suku Lanny Jaya melintas melalui jembatan gantung kali Uwe, namun jembatan putus dikarenakan kelebihan beban dan mengakibatkan korban jiwa," jelas Kapolres Agung.

Putusnya jembatan yang menyebabkan puluhan korban ini memicu kemarahan dari kelompok masyarakat Lanny Jaya hingga berujung terjadinya aksi penyerangan lanjutan dengan kelompok massa yang lebih besar dan meluas pada Jumat (15/5/2026).

"Dari aksi saling serang yang terjadi, ada pembakaran beberapa rumah dan honai milik warga di sekitar kali Uwe Wouma. Namun, dikarenakan perkembangan situasi dan kondisi sehingga kerugian materiil belum dapat didatakan," kata Kapolres.

Sementara itu, Kepala Kantor SAR Jayapura, Anton Sucipto menjelaskan bahwa dari puluhan warga yang jatuh ke kali Uwe, sebagian berhasil menyelamatkan diri setelah berenang ke pinggir kali, sementara 37 orang lainnya hilang terseret arus.

Dari pencarian yang dilakukan oleh Polres Jayawijaya dan Basarnas Jayapura dan keluarga korban, 19 orang ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Sementara sisanya 18 orang dalam pencarian.

Korban Jiwa dan Kerugian Materiil

Perang antara suku Hubla (Kurima) dan suku Lanny menimbulkan korban jiwa dan kerugian materiil.

Berdasarkan data Kepolisian Resor Jayawijaya, perang suku menyebabkan 13 orang meninggal dunia dan 20 lainnya terluka.

"Update korban perang suku, tanggal 15 Mei ada dua korban meninggal dan 19 luka. Sementara di hari Sabtu ada 11 orang meninggal dan 1 terluka. Jadi, total yang meninggal 13 orang dan yang mengalami luka ada 20 orang," kata Kapolres Jayawijaya, AKBP Anak Agung Made Satriya Bimantara, Senin (18/5/2026).

Selain itu, dampak perang suku ini juga mengakibatkan 117 rumah, 63 honai, ruko 8 unit, 1 bangunan sekolah, dan 1 kantor desa, ludes dibakar.

Sementara itu, 48 unit kendaraan roda empat dan 43 unit juga terbakar.

"Dari hasil olah TKP dan pendataan di lapangan, seluruh bangunan dan kendaraan serta fasilitas umum sudah hangus terbakar, rusak berat, dan tidak dapat digunakan kembali," ungkapnya.

Di sisi lain, jumlah warga yang mengungsi mencapai seribuan orang yang tersebar di tiga titik; yakni Gereja, Makodim 1702/Jayawijaya dan Mako Polres Jayawijaya.

"Untuk jumlah pengungsi sekitar seribuan orang yang tersebar di beberapa tempat. Untuk yang ada di Mako Polres Jayawijaya ada sekitar 808 jiwa," bebernya.

Kapolda Papua, Irjen Pol Patrige Renwarin, mengatakan bahwa situasi perang suku sudah berhasil dikuasai. Meski begitu aparat masih disiagakan di beberapa titik untuk mengantisipasi aksi serang susulan.

"Sejak Sabtu itu kita sudah tambah pasukan ke Wamena dan situasi sudah bisa dikendalikan. Namun anggota kita masih berada di lapangan melakukan penjagaan, mengantisipasi jika ada serangan susulan," jelasnya.

Kapolda Patrige juga menerangkan bahwa saat ini fokusnya adalah pencarian terhadap para korban yang hilang terseret arus di Kali Uwe pada pekan lalu.

"Fokus kita adalah membantu pencarian terhadap korban yang hilang karena jembatan putus itu karena jumlah korbannya lebih banyak," tandasnya.

--- Guche Montero

Komentar