Breaking News

KESEHATAN Fenomena "Bed Rotting" pada Gen Z, Pakar Ingatkan Batas Sehat Istirahat 23 Apr 2026 20:10

Article image
Ilustrasi seorang sedang scrol sosmed. (Freepik)
Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co  - Fenomena bed rotting, yakni kebiasaan berdiam lama di tempat tidur sambil berselancar di media sosial atau menonton video, kian populer di kalangan remaja dan gen Z. Perilaku ini kerap dianggap sebagai bentuk kemalasan.

Menurut Pakar Pendidikan Anak dan Remaja IPB University, Dr Yulina Eva Riany, perilaku ini memiliki dimensi psikologis yang lebih kompleks, terutama terkait tekanan sosial dan proses pencarian jati diri.

“Fenomena ini tidak bisa dilihat secara sederhana. Bed rotting sering kali langsung diberi label sebagai kemalasan. Padahal, dari perspektif psikologi perkembangan, perilaku ini jauh lebih kompleks,” ujarnya melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Dr Yulina menerangkan bahwa remaja berada pada fase identity vs role confusion, yakni tahap pencarian jati diri. Dalam konteks ini, dunia digital menjadi ruang eksplorasi baru. 

Bed rotting tidak selalu bisa dibaca sebagai perilaku pasif. Dalam beberapa kasus, ia bisa menjadi ‘ruang jeda’ sekaligus ‘ruang eksplorasi’ bagi remaja,” jelasnya.

Namun, ia menegaskan bahwa fenomena ini memiliki sisi ambivalen. Paparan berlebih terhadap kehidupan ideal di media sosial dapat memicu perbandingan sosial dan kecemasan. “Bed rotting bisa menjadi semacam pause button psikologis, tetapi juga berpotensi menjadi bentuk penarikan diri dari tekanan,” tambahnya.

 

Batas Agar Tidak Terjebak

Dr Yulina menjelaskan bahwa bed rotting berada di wilayah abu-abu antara self-care dan perilaku maladaptif. Ketika dilakukan secara sadar untuk memulihkan energi, perilaku ini dapat menjadi strategi regulasi diri yang sehat. Namun, jika berubah menjadi pelarian dari tekanan, maka termasuk dalam pola avoidance coping.

“Jika individu masih memiliki kendali, tahu kapan harus berhenti dan mampu kembali beraktivitas, maka ini bisa menjadi bentuk self-care. Namun, ketika kontrol mulai hilang, dampaknya bisa serius,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa dalam kondisi tertentu, bed rotting dapat menjadi indikasi masalah kesehatan mental, seperti burnout, kecemasan berlebih, hingga depresi. Gejala yang perlu diwaspadai antara lain kehilangan minat, gangguan tidur, menarik diri dari lingkungan sosial, serta penurunan fungsi dalam akademik atau pekerjaan.

Untuk itu, Dr Yulina menekankan pentingnya membangun pola istirahat yang sehat. “Istirahat yang sehat bukan sekadar tidak melakukan apa-apa, tetapi dilakukan dengan kesadaran, memiliki batas waktu, dan benar-benar memulihkan energi,” tuturnya.

Ia menyarankan untuk menetapkan batas waktu istirahat, membatasi penggunaan gawai di tempat tidur, serta mengganti istirahat pasif dengan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau peregangan. 

Self-care yang sehat bukan tentang berapa lama kita beristirahat, tetapi apakah kita tetap memegang kendali atas pilihan kita,” pungkasnya. *

 

--- F. Hardiman

Komentar