BUDAYA Festival Daun Lontar; Melestarikan Kearifan Lokal Ende Lio 21 Jun 2026 11:26
"Jadikan warisan leluhur sebagai sumber inspirasi untuk berkarya, berinovasi, dan membangun masa depan tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Ende, Lio, dan Nage," pungkas Martinus.
ENDE, IndonesiaSatu.co-- Komunitas pegiat dan pecinta budaya Ende Lio, Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Alokoja Sia, Desa Kelitembu, Kecamatan Wewaria, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama segenap Panitia, mensponsori dan menginisiasi penyelenggaraan kegiatan Festival Daun Lontar Ende Lio, berpusat di Lapangan sepak bola Desa Kelitembu.
Ketua Panitia Festival, Yos Borgias Riga, dalam sambutannya pada acara Penutupan Festival, Sabtu (20/6/2026) menerangkan bahwa kegiatan Festival bernuansa budaya lokal itu berlangsung selama 6 hari yang dimulai pada 16-18 Maret 2026 dan dilanjutkan pada 18-20 Juni 2026.
Yos mengatakan, kegiatan dengan tema utama "Mengenang dan Melestarikan Warisan Budaya" itu diwarnai dengan kegiatan Workshop kerajinan, lomba tari kreasi bernuansa daun Lontar, lomba hasi kerajinan anyaman kreatif berbahan daun Lontar, serta pameran hasil karya.
Sementara para peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut meliputi komunitas kerajinan dari beberapa desa, kelompok sanggaral seni, juga sekolah-sekolah dari tingkat SD hingga SMA.
"Atas nama segenap Panitia dan para pihak yang telah mendukung kegiatan ini, saya ucapkan limpah terima kasih. Saya bangga, karena dari Festival ini ditampilkan aneka produk kerajinan berbahan daun lontar (topi, keranjang, bakul, ambung, gelang, cincin, anting, selendang, tempat tisu, tas, dompet). Inilah unsur-unsur warisan budaya yang perlu kita lestarikan," kata Yos.
Yos juga menyampaikan Terima kasih kepada kementerian Kebudayaan, Pemda Ende, Camat Wewaria, para kepala desa, para kepala sekolah, tokoh adat, tokoh masyarakat, komunitas kerajinan, sanggar seni, serta segenap masyarakat pencinta budaya.
"Kegiatan ini menyiratkan pesan bahwa ada semangat bersama untuk menggali, menghidupkan, dan melestatikan warisan budaya para leluhur. Semoga aneka hasil kerajinan anyaman, tarian, dan rasa cinta kita terhadap kearifan lokal, tetap hidup dan menjadi inspirasi untuk segenap generasi muda kita," harap Yos.
Sementara itu, Camat Wewaria, Fidelis Bela, S.Sos, dalam sambutannya mengapresiasi dan sangat mendukung kegiatan Festival yang disponsori oleh PKBM Alokoja Sia Desa Kelitembu dan didukung oleh kerja Panitia Pelaksana.
"Inilah bentuk kebanggaan dan kecintaan kita terhadap nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, usaha pembudayaan, serta semangat kolaborasi. Semoga Festival ini menjadi event tahunan yang perlu diteruskan dan dihidupkan ke depan. Mari kita berkolaborasi dan bergotong royong membangun daerah kita dengan energi-energi positif seperti Festival ini," ajak Camat Fidelis.
Merawat Jati Diri, Memperkuat Gotong Royong
Bupati Ende, Yosef Benediktus Badeoda, SH., MH yang diwakili Asisten II Setda bidang Perekonomian dan Pembangunan, Martinus Satban, S.Sos.,M.Si, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh Panitia, para pelaku seni dan budaya, pelaku UMKM, sponsor, aparat keamanan, pemerintah kecamatan Wewaria, para kepala desa, tokoh adat, tokoh masyarakat, serta semua pihak yang telah berkontribusi mendukung acara Festival tersebut.
"Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, tetapi merupakan ruang untuk merawat jati diri, memperkuat kebanggaan terhadap budaya lokal, sekaligus menjadi wadah bagi masyarakat untuk mewujudkan kreativitas, inovasi, dan semangat gotong royong," kata Martinus.
Bupati Ende melalu Asisten Martinus menyebut daun lontar sebagai bagian penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Flores, khususnya kabupaten Ende.
"Lontar bukan hanya bernilai ekonomis, tetapi juga menyimpan nilai budaya, nilai sejarah, nilai kearifal lokal, bahkan menjadi simbol ketekunan dan kemandirian masyarakat," kata Martinus.
Oleh karena itu, lanjut Martinus, Festival ini harus terus didorong sebagai agenda tahunan guna pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif daerah.
"Jika event ini dikaitkan dengan destinasi wisata, maka kita perlu penataan. Jika wisata dikaitkan dengan dampak ekonomi, maka ada tiga hal penting yakni promotif, berkelanjutan, dan berdaya saing," jelas Martinus.
Ia menambahkan bahwa harus dibangun gerakan bersama untuk mencintai produk lokal, melestarikan warisan budaya, membuka peluang usaha baru, serta memperluas akses pemasaran bagi para pelaku UMKM serta para pengrajin di kabupaten Ende.
Martinus mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah Festival tidak diukur dari kemeriahan acara, melainkan dampak yang bisa dirasakan oleh masyarakat; peningkatan kunjungan wisata, tumbuhnya ekonomi masyarakat, industri kreatif berkembang, serta semakin dikenalnya Kabupaten Ende sebagai daerah yang kaya akan budaya dan kearifan lokal.
Martinus menekankan, Pemda Ende berkomitmen untuk terus mendukung berbagi kegiatan pelestarian budaya yang mampu menjadi kekuatan pembangunan daerah.
"Kita ingin budaya tetap hidup di tengah masyarakat,diwariskan oleh generasi muda dan menjadi bagian penting dari pembangunan yang berkelanjutan," imbuhnya.
Kepada generasi muda, Bupati Ende berpesan agar terus merawat dan mencintai budaya.
"Jadikan warisan leluhur sebagai sumber inspirasi untuk berkarya, berinovasi, dan membangun masa depan tanpa kehilangan jati diri sebagai orang Ende, Lio, dan Nage," pungkas Martinus sembari menutup kegiatan Festival secara resmi yang ditandai dengan menabuhkan gendang.
Disaksikan media ini, rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan Piagam penghargaan, sertifikat dan uang pembinaan bagi para juara lomba yang diserahkan oleh Asisten II Setda Ende, Camat Wewaria, dan Kepala Desa Eko ae, Dionesius Besu Songgo.
Para peserta dan segenap masyarakat tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara hingga rekreasi bersama yang dibuka dengan tarian tandak (gawi) bersama.
--- Guche Montero
Komentar