Breaking News

REGIONAL Gubernur NTT Ajak Hadirin Doakan YBR saat Launching NTT Mart di Lembata 05 Feb 2026 23:41

Article image
Gubernur NTT, Melki Laka Lena saat meresmikan NTT Mart di Lewoleba, Lembata. (Foto: Dok. EB)
"Semua program yang begitu banyak itu tidak bisa menjangkau karena soal-soal administratif kependudukan. Ini memukul kita untuk memperbaiki diri secara pemerintah,” kata Gubernur.

LEWOLEBA, IndonesiaSatu.co-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengajak seluruh hadirin untuk menundukkan kepala sejenak dan mendoakan keselamatan almarhum YBR (10), seorang siswa Sekolah Dasar (SD) yang ditemukan meninggal dunia di Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebu'u, Kabupaten Ngada, pada 29 Januari 2026 lalu.

Ajakan doa tersebut disampaikan Gubernur Melki sebelum meresmikan NTT Mart di Lembata.

Hadir dalam acara tersebut Bupati Lembata Petrus Kanisius Tuaq, Dekranasda Lembata, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan tamu undangan lainnya, bertempat di Lewoleba, Lembata,Kamis (5/2/2026).

Diketahui, YBR (10) merupakan siswa kelas IV SDN Rutowaja yang ditemukan meninggal dunia dengan cara tidak wajar pada Kamis (29/1/2026) siang. 

Peristiwa tersebut mengguncang nurani publik dan mendapat perhatian serius dari Pemerintah Provinsi NTT.

Gubernur Melki menyebut, kematian YBR merupakan kejadian yang sungguh-sungguh mengetuk sisi kemanusiaan semua pihak, khususnya di Nusa Tenggara Timur, karena seorang anak meninggal dunia akibat kegagalan berbagai pranata.

“Kejadian ini sungguh-sungguh mengetuk kemanusiaan kita sebagai manusia. Apalagi, orangnya ada di Nusa Tenggara Timur, di Kabupaten Ngada, yang meninggal karena seluruh pranata yang kita miliki; pranata pemerintah, adat, agama, hingga pendidikan tidak mampu menjangkau dan menyelamatkan seorang anak,” umgkap Gubernur Melki.

Gubernur Melki juga menyampaikan keprihatinannya bahwa seorang anak harus kehilangan nyawa hanya karena tidak mampu membeli perlengkapan sekolah, yakni bolpoin dan buku.

“Kita gagal untuk memastikan anak-anak manusia di NTT ini tidak boleh meninggal hanya karena urusan tidak bisa membeli bolpoin dan buku,” katanya.

“Kita-kita menjadi manusia seperti ini karena buku dan karena pena. Karena dua alasan itu, satu anak di NTT harus meninggal hanya karena tidak bisa mendapatkannya dari orang tuanya. Ini bukan soal kemiskinan saja, ini soal kepedulian kita sebagai manusia, sebagai tugas sebagai Gubernur, dan sebagai bapak-ibu dalam tugas dan jabatan masing-masing,” ungkapnya.

“Hal ini terjadi yang melukai seluruh republik,” imbuhnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Melki berharap agar kejadian serupa tidak terjadi di Kabupaten Lembata maupun wilayah lain di NTT.

“Saya berharap di Lembata tidak terjadi tragedi seperti ini. Pak Bupati, Forkopimda, kita harus jaga betul. Tidak boleh ada anak manusia yang lagi sekolah, atas alasan kemiskinan atau alasan apa saja, meninggal hanya karena ketidakpedulian kita sebagai manusia satu sama lain,” harapnya.

Gubernur mengajak seluruh pihak untuk mendoakan almarhum YBR dan keluarganya agar diberikan kekuatan.

“Untuk ini semua, kita doakan agar YBR dan keluarga diberikan kekuatan, agar YBR diberikan jalan ke Surga, dan kita semua diberi kekuatan untuk mencegah ini terjadi di tempat khusus kita, khususnya di Lembata,” katanya.

Gubernur NTT lalu meminta rohaniwan Katolik, Pater Raymond, untuk memimpin doa secara Katolik bagi YBR dan seluruh pihak agar diberi kekuatan dalam menjalankan tugas masing-masing, sehingga kejadian serupa tidak terulang di Bumi Lembata.

"Saya meminta agar saling memperhatikan kiri-kanan, keluarga, tetangga, kerabat, teman. Kalau dia meninggal karena alasan lain, kita mungkin tidak perlu merasa seperti ini, tetapi ini meninggal karena tidak bisa membeli buku dan pena,” tuturnya.

Gubernur Melki juga menyoroti persoalan administratif kependudukan yang membuat berbagai program bantuan tidak mampu menjangkau keluarga korban.

“Semua program yang begitu banyak itu tidak bisa menjangkau karena soal-soal administratif kependudukan. Ini memukul kita untuk memperbaiki diri secara pemerintah,” katanya.

Gubernur menambahkan bahwa pemerintah akan segera menggelar rapat bersama Forkopimda provinsi dan kabupaten/kota untuk membahas persoalan tersebut.

“Ini menjadi pembelajaran berharga. Kita mesti mengubah secara total mengurus orang miskin di NTT. Kita akan bahas secara virtual untuk mencari langkah yang tepat agar tidak terjadi lagi di Bumi NTT,” pungkasnya.

--- Guche Montero

Komentar