Breaking News

REGIONAL Gubernur NTT Minta Kasus Kematian Dokter Icha Diproses Tuntas 29 Jun 2026 11:54

Article image
Gubernur NTT, Melki Laka Lena bersama isteri saat melayat ke rumah duka dokter Icha. (Foto: Dok. Ist)
"Undang-Undang sudah sangat jelas. Tenaga medis, tenaga kesehatan dan dokter yang bekerja sesuai prosedur tidak boleh mengalami intimidasi, apalagi kekerasan, baik fisik maupun verbal. Siapa pun pelakunya, setinggi apa pun jabatannya, tetap bisa dipidana

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena bersama istri, Mindriyati Astiningsih Laka Lena, melayat ke rumah duka keluarga dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha di RSS Baumata, Kabupaten Kupang, Minggu, (28/6/2026).

Gubernur Melki menyampaikan ucapan belasungkawa, sekaligus komitmen pemerintah untuk hadir dan mendampingi keluarga almarhumah dokter Icha.

“Kami datang bukan hanya membawa ucapan belasungkawa, tetapi membawa rasa empati dan komitmen bahwa keluarga tidak boleh merasa berjalan sendiri,” ungkap Gubernur Melki sambil menyeka air mata kesedihan.

Di hadapan keluarga berduka, Gubernur Melki menegaskan bahwa pemerintah Provinsi NTT akan mengawal penuh proses hukum terhadap dugaan intimidasi yang menyeret tiga anggota DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), hingga seluruh fakta terungkap secara terang benderang.

Gubernur Melki mengungkapkan bahwa sejak awal dugaan intimidasi terhadap dokter Icha tersebut muncul, dirinya telah menerima laporan dari rekan sejawat dokter Icha.

"Saya sejak awal sudah dikontak oleh dokter ahli urologi yang melaporkan kepada saya bahwa dokter Icha mengalami intimidasi di TTU. Karena itu, saya langsung meminta Bupati TTU dan Ketua DPRD TTU memberi perhatian khusus terhadap persoalan ini," ungkapnya.

Gubernur mengaku tidak pernah menyangka persoalan tersebut berujung pada meninggalnya dokter muda itu.

"Saya bahkan sempat meminta teman-teman yang bermasalah dengan dokter Icha agar segera menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik, bertemu dan berdialog. Tetapi kemudian saya mendapat kabar dokter Icha meninggal dunia. Ini tentu sangat memukul kita semua," katanya.

Kawal Serius Proses Hukum

Di hadapan keluarga dan awak media, Gubernur Melki menegaskan bahwa seluruh proses hukum akan dikawal secara serius tanpa pandang bulu, termasuk terhadap dugaan keterlibatan tiga anggota DPRD TTU.

"Kita proses semuanya tanpa kecuali. Saya sudah melihat pernyataan Kapolres TTU dan kita akan mengawal agar proses hukum berjalan dengan baik sampai terang benderang siapa saja yang harus bertanggung jawab dalam kasus ini," tegasnya.

Gubernur juga menyebut surat wasiat yang ditinggalkan dokter Icha, yang kini telah berada di tangan penyidik, akan menjadi bagian penting dalam proses pengungkapan perkara.

"Tadi juga disampaikan ada surat wasiat dari dokter Icha dan surat itu sudah berada di Kapolres. Kita pastikan seluruh proses hukum berjalan dengan baik," ujarnya.

Menurut Gubernur, selain dugaan intimidasi oleh tiga anggota DPRD TTU, penyidik juga perlu mendalami apakah terdapat faktor lain yang menjadi rangkaian penyebab hingga kasus tersebut berujung tragis.

"Kita biarkan proses hukum berjalan sambil kita kawal. Kita juga akan melihat apakah ada faktor-faktor lain yang menjadi akumulasi sehingga semuanya bisa diproses secara menyeluruh oleh kepolisian," katanya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Melki mengingatkan bahwa Undang-Undang Kesehatan memberikan perlindungan penuh kepada tenaga medis, dokter, perawat maupun bidan yang bekerja sesuai standar profesi.

Ia mengatakan bahwa aturan tersebut justru merupakan undang-undang yang pernah ikut dibahas saat dirinya masih bertugas di tingkat nasional.

"Undang-Undang sudah sangat jelas. Tenaga medis, tenaga kesehatan dan dokter yang bekerja sesuai prosedur tidak boleh mengalami intimidasi, apalagi kekerasan, baik fisik maupun verbal. Siapa pun pelakunya, setinggi apa pun jabatannya, tetap bisa dipidana," tegasnya.

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diterima, dokter Icha telah menjalankan seluruh prosedur medis secara benar.

"Dokter Icha sudah bekerja sesuai prosedur, bahkan selalu berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi. Pasiennya juga sudah sembuh dan sehat. Jadi sebenarnya tidak ada tindakan di luar prosedur yang dilakukan dokter Icha," imbuhnya.

Selain mengawal proses hukum, Gubernur Melki memastikan bahwa pemerintah provinsi NTT akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten TTU, DPRD TTU, Dinas Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), serta psikolog untuk memberikan pendampingan psikologis kepada tenaga kesehatan yang masih bertugas.

"Kita ingin memastikan seluruh dokter, tenaga kesehatan, perawat dan bidan di NTT tetap bekerja dengan tenang setelah kasus dokter Icha ini. Pemerintah akan hadir memberikan perlindungan dan rasa aman bagi mereka," tandas Gubernur Melki.

Ayah almarhumah dokter Icha, Gabriel Pakenoni tak mampu membendung air matanya saat memeluk Gubernur Melki sambil memohon keadilan bagi putri sulungnya.

"Bapa Gubernur, saya minta penegakan keadilan, kebenaran, perlindungan keamanan dan kenyamanan bukan hanya untuk anak saya, tetapi untuk seluruh tenaga kesehatan. Terlalu kejam dan sadis membunuh dan mengambil hidup anak saya. Anak kami ingin mengabdi untuk daerah ini, tetapi hidupnya berakhir seperti ini. Tolong kami, Bapa," ucap sang ayah dengan suara bergetar.

Tangisan juga datang dari sang ibunda dokter Icha, "Bapa Gubernur, lihat anak ini. Terlalu cantik, Bapa. Hidupnya untuk TTU, tetapi dia juga mati untuk TTU," ungkap sang ibu sambil menahan tangis.

"Bapa Gubernur, beta (saya) juga mau jadi dokter seperti kaka. Tolong bantu beta," ungkap adik dokter Icha di hadapan Gubernur Melki.

--- Guche Montero

Komentar