GAYA HIDUP Healing Nggak Harus Mahal, Saat Self-Care Berubah Jadi Gaya Hidup Konsumtif 22 Aug 2026 20:23
Istilah healing kini semakin populer di kalangan anak muda, tetapi tanpa disadari kebutuhan untuk "menenangkan diri" bisa berubah menjadi kebiasaan belanja yang justru membebani keuangan
JAKARTA IndonesiaSatu.co – Istilah "healing" semakin sering digunakan anak muda untuk menggambarkan aktivitas yang dilakukan setelah merasa lelah atau stres. Mulai dari pergi berlibur, nongkrong di kafe, berbelanja, hingga mencoba berbagai tempat baru. Namun, kebiasaan tersebut bisa menjadi masalah ketika healing selalu dikaitkan dengan pengeluaran.
Self-care sebenarnya tidak harus dilakukan dengan membeli sesuatu. Beristirahat, melakukan hobi, berolahraga, membaca buku, atau menghabiskan waktu bersama orang terdekat juga dapat menjadi cara untuk menjaga kondisi diri. Berbeda dengan impulsive spending, aktivitas dilakukan karena dorongan sesaat dan bukan berdasarkan kebutuhan yang sudah direncanakan.
Tren media sosial turut membuat healing terlihat identik dengan gaya hidup tertentu. Unggahan tentang staycation, makan di restoran mahal, atau pergi ke tempat wisata dapat menciptakan anggapan bahwa seseorang harus mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.
Padahal, healing yang ramah kantong tetap bisa dilakukan. Jalan pagi, menonton film di rumah, memasak makanan favorit, mengunjungi ruang publik, atau sekadar mengambil waktu untuk beristirahat bisa menjadi pilihan tanpa mengganggu kondisi finansial.
Pada akhirnya, healing bukan tentang seberapa banyak uang yang dikeluarkan, tetapi bagaimana seseorang memberikan waktu untuk memulihkan diri. Mengenali batas antara self-care dan belanja impulsif dapat membantu anak muda menjaga kesehatan diri sekaligus tetap bertanggung jawab terhadap keuangan.
--- Stella Josephine
Komentar