REFLEKSI Ikuti Kata Hati, Kebaikan Anda Bisa Sangat Berarti 08 Jun 2024 11:34
Jadi, jika hatimu tergerak untuk menolong seseorang, bertindaklah segera.
Oleh Valens Daki-Soo
Beberapa tahun lalu, tiba-tiba saya teringat seorang sahabat karib di suatu kampung di Flores, sesama mantan 'frater' (frater adalah sebutan untuk calon imam Katolik). Sudah cukup lama kami tidak saling kontak dan dia pun tidak pernah memberi kabar, toh hati saya tergerak untuk menelepon dia. Rupanya, secara intuitif saya merasa dia sedang ada masalah -- lalu saya teringat salah satu guru meditasi saya agar intuisi perlu dipertajam dan diikuti.
Begitu menelepon, setelah ngobrol dan bercanda khas dua sahabat lama, saya minta dia kirim nomor rekening bank karena saya mau kirim sedikit uang pulsa dengan menyebut angka yang tidak seberapa. Mendadak dia diam, lalu saya bisa merasakan getaran haru pada suaranya, "Bung, engko (engkau) macam ta(h)u, kami sedang kesulitan, istri sudah mau melahirkan, saya lagi 'kering' sama sekali."
Ini bukan soal saya membantu sahabat, karena kita semua tentu patut saling membantu. Namun, yang menakjubkan, saat itu saya sedang pikirkan banyak hal lain, dan tidak sedikitpun terbersit niat untuk menelepon sahabat itu. Terjadi begitu spontan, dan tanpa pikir panjang saya pun mengontaknya.
Sekian tahun silam, tepatnya 2006, momentum serupa saya alami dengan skala yang 'dahsyat' untuk ukuran saya. Tanpa sempat diantisipasi, suatu krisis besar menimpa hidupku. Salah satu dampak dari krisis itu merembet ke aspek ekonomi. Saya mengalami 'kolaps' secara finansial. Bahasa gampangnya, saya kehilangan cukup banyak uang, bahkan posisi di suatu perusahaan yang menjadi sumber utama penghasilan saya pun lepas.
Beruntung saya masih ada 'sandaran' lain, karena merangkap kerja/membantu di Satgas Bom Polri (yang dibentuk Kombes Pol Gories Mere, belakangan pensiun dengan pangkat Komjen Pol). Sambil juga bekerja paruh waktu di kantor seorang purnawirawan jenderal, Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri. Saya sangat dekat dengan beliau, namun salah satu kelemahan pribadiku adalah enggan bahkan malu minta tolong. Salah satu prinsipku adalah "selesaikan masalahmu dengan kekuatanmu sendiri, bukan merengek minta bantuan orang lain."
Sebenarnya prinsip ini ada salahnya juga, karena meminta bantuan itu manusiawi dan kita bukan 'superman' yang bisa semuanya. Namun, itulah yang terjadi waktu itu.
Guncangan hebat itu bikin saya nyaris kehilangan segalanya. Jika sebelumnya banyak teman mendekat dan masuk dalam hidup saya, sejak itu hanya beberapa, satu-dua orang saja yang masih setia bersama, menghibur dan meneguhkan saya. Satu-satunya kekuatan yang memampukan saya tetap melangkah maju adalah harapan dan keyakinan 'badai pasti berlalu', dan Tuhan pasti tidak meninggalkan saya.
Suatu ketika, kantung saya benar-benar kosong, 'akhir bulan' masih lama, dan saya toh harus makan. Dalam hati saya berdoa tanpa formula, bicara spontan, "Tuhan, tolong saya dulu. Entah bagaimana caranya, Engkau lebih tahu."
Tiba-tiba HP-ku berdering. Tanpa saya lebih dulu mengirim SMS apalagi menelepon, masuklah telepon dari Bang Gatot. Ya, Brigjen TNI Gatot Nurmantyo, saat itu menjabat Kepala Staf Divisi (Kasdiv) II Kostrad yang berbasis di Malang tapi sedang ada tugas/rapat di Markas Kostrad, Jakarta.
"Bung, posisi di mana? Bung baik-baik kan?"
"Siap, Bang. Alhamdulillah baik. Abang di mana?"
"Saya lagi di Jakarta nih. Firasatku Bung sedang kesulitan ya? Ada uang gak? Kalau Bung luang, sore nanti kita buka puasa bareng di daerah Menteng ya. Kasih kabar kalau mau ke sana nanti."
Bagaimana saya tidak terkejut? Tanpa beri kabar apapun sebelumnya, Bang Gatot menelepon saya dan memberi kesan seolah 'tahu' tentang kondisi saya. Singkat kata, kami buka puasa bareng dan sebelum pulang, beliau memberi 'bingkisan' yang membuat saya 'survive' beberapa waktu.
Tak hanya itu. Dua bulan kemudian, seorang pengusaha menelepon saya minta ketemu. Pengusaha yang bergerak di bidang properti dan sejumlah sektor bisnis lainnya itu mengajak saya bergabung dengan jenis pekerjaan yang cukup 'santai': membantu melobi.
Tuhan bertindak tepat waktu. Atas izin Tuhan, Alam Semesta membuka jalan untuk keluar dari penderitaan dan kesulitan dengan cara yang begitu menakjubkan.
Jenderal TNI Gatot Nurmantyo (sekarang purnawirawan) pernah menjadi orang nomor satu di jajaran TNI-AD sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) lalu menjadi Panglima TNI. Saya menganggap beliau dipakai Tuhan untuk menolong saya. Demikian pula, panggilan pengusaha besar tersebut adalah cara Tuhan mendorong saya naik kembali dari jurang keterpurukan.
Jadi, jika hatimu tergerak untuk menolong seseorang, bertindaklah segera. Jangan menunda atau ragu karena Anda tidak pernah tahu, bantuan Anda mungkin menyelamatkan seseorang dari suatu penderitaan, kegagalan, kesakitan bahkan kehancuran. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar