Breaking News

TAJUK Jaga Indonesia Kita 22 Jan 2025 06:55

Article image
Kebhinekaan di Indonesia adalah berkat dari Tuhan yang harus kita jaga dan lestarikan. (Foto: Ist)
Kebhinekaan dalam persatuan tidak berarti meleburkan berbagai identitas, tetapi justru menjadi loncatan penghargaan terhadap keunikan masing-masing.

Jagat politik di Indonesia semakin mempertontonkan saling menghina, bullying, menjatuhkan, bahkan nyaris adu jotos. Di medsos, perbedaan pilihan politik berakhir pada saling serang yang jauh dari norma kesopanan.

Kita semakin jauh dari kesadaran dan rasa bersyukur bahwa Indonesia adalah berkat, anugerah Tuhan yang indah dan harus dirawat secara terus-menerus.

"INDONESIA adalah sebuah contoh yang mengesankan untuk kompleksitas internal yang rumit,” tulis Clifford Geertz dalam bukunya Welt I Stucken. Kultur und Politik am Ende des 20 Jahrunderts (1996).

Geertz, seorang Indonesianis, takjub ketika menemukan Indonesia: Negara yang menggabungkan berbagai arus mentalitas yang saling bertentangan: arus mentalitas Portugis, Spanyol, Belanda, India, ataupun mentalitas Hindhu. Buddhis, Konfusian, Muslim dan Kristiani. Tiada hari di Indonesia tanpa keragaman sosiologis warganya.

Maka, proses integrasi kebangsaan Indonesia menakjubkan karena dilahirkan dari kesepakatan bersama agama, suku, agama dan antar-golongan untuk mengikat aneka keragaman.

Kebhinekaan dalam persatuan tidak berarti meleburkan berbagai identitas, tetapi justru menjadi  loncatan penghargaan terhadap keunikan masing-masing.

Kata Bung Karno: "Menyusun Indonesia Merdeka dengan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya."

Pancasila sebagai Dasar Negara mengikat keragaman di Indonesia dalam komitmen bersama untuk membentuk suatu pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. 

Proses menjadi bangsa dan Negara Indonesia ditandai semangat kedewasaan di tengah keragaman. Menurut filsuf Franz Magnis-Suseno, setidaknya ada dua peristiwa penting dalam perjalanan bangsa Indonesia dapat dijadikan acuan menuju kedewasaan berbangsa warga negara Indonesia.

Pertama, peristiwa Sumpah Pemuda 1928: Kerelaan pemuda Jawa (Jong Djava) sebagai kelompok mayoritas kala itu untuk menerima bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia.

Kedua, kesediaan kelompok Islam dalam persiapan BPUPKI tahun 1945 menerima kelima sila dalam Pancasila sebagai dasar negara dengan tidak menuntut tempat khusus bagi umat Islam dalam konstitusi negara.

Proses menjadi Indonesia menunjukkan bahwa kita membutuhkan sikap kedewasaan. Melalui sikap dewasa, kita akan menghadapi fakta perbedaan dengan rela hati, rendah hati, dan semangat bela rasa.

Semoga proses menjadi Indonesia yang menakjubkan ini tidak dinodai pihak-pihak yang hendak menyeragamkan Indonesia sebagai negara homogen. Karena kita telah mengalami indahnya menjadi Indonesia.

Sebagai warga negara Indonesia, kita harus menciptakan ruang publik politik yang santun, beradab, menghargai kebebasan pilihan, serta berorientasi kepada kesejahteraan ekonomi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Jaga Indonesia kita!

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar