NASIONAL Judi Online Rentan Merebak, Pakar TPPU: Indonesia Miskin Edukasi dan Literasi Finansial 03 Aug 2024 23:45
Indonesia disebut bukan hanya menghadapi tantangan dari segi sistem deteksi dini judi online hingga mekanisme respons dan investigasinya.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Pakar Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan pemulihan aset, Paku Utama, menganggap ironis merebaknya judi online di kalangan kelas ekonomi menengah ke bawah.
Paku mengatakan, ada Pekerjaan Rumah (PR) berat untuk menggalakkan literasi finansial agar warga dengan kategori seperti itu tidak terjerumus ke dalam jebakan judi online.
"Misalnya dari teman-teman yang di bawah UMR. Mohon maaf, mungkin untuk dia survive aja, dia masih struggling, tiba-tiba ambil judi slot yang mulanya Rp 10 ribu, 20 ribu, tapi lama-lama ratusan ribu juga," ujar Paku dalam program Gaspol melansir Kompas.com, Sabtu (3/8/2024).
Paku menegaskan bahwa hal ini tidak dapat dikesampingkan dari upaya pencegahan judi online semakin merebak.
Indonesia disebut bukan hanya menghadapi tantangan dari segi sistem deteksi dini judi online hingga mekanisme respons dan investigasinya.
"Salah satunya edukasi. Itu yang paling penting," ungkap Paku.
"Ternyata ini (kegagapan soal finansial) menjadi magnet yang lukratif, (masyarakat) pada negara-negara seperti ini," imbuhnya.
Kejahatan Transnasional
Menurut Paku, ada sejumlah karakteristik kelemahan negara-negara berkembang yang membuatnya menjadi sasaran empuk kejahatan transnasional terorganisir seperti judi online atau juga pinjaman online.
Pertama, level literasi serta kritisisme masyarakat yang masih rendah sehingga mudah diperdaya oleh iming-iming.
Kedua, celah tersebut ada pada tataran regulasi serta penerapannya.
Paku menjelaskan, suatu negara mungkin bisa saja mempunyai regulasi yang rapi untuk melacak transaksi mencurigakan, namun implementasinya jauh dari kata memuaskan.
"Nah yang ketiga, kita bicara mengenai political will. Jadi political will termasuk di dalamnya kita bicara sistem, sistem itu bicara infrastruktur, kesiapan, sama manusia, SDM-nya," kata Paku.
"Ini tentang bagaimana kita mendeteksi dan kita kalau udah kebakaran kita merespons," ujar dia.
Paku juga menyitir hasil riset IMF dan World Bank tadi terhadap sejumlah negara berkembang yang mengalami krisis ekonomi hingga sosial politik akibat inflasi yang ditimbulkan oleh judi maupun pinjaman online.
"Itu ada yang riot (rusuh), ada yang segala macam, itu sebetulnya karena awalnya memang kelas menengah dan kelas bawahnya itu dalam kondisi terjepit sehingga akhirnya main judi online, kena pinjaman online," kata Paku.
"Atau memang justru sebaliknya gitu, karena kebanyakan main judi online dan pinjaman online, akhirnya justru malah jadi bikin krisis ekonomi karena uangnya keluar semua," tandasnya.
--- Guche Montero
Komentar