OPINI Menanti Buah Kombinasi Meritokrasi dan 'Nepotisme' (Catatan untuk musda Golkar Ende, Nagekeo, Ngada) 29 Jun 2026 00:05
Perlu pembuktian kerja keras dan tentu saja kritik konstruktif adalah madu dan obat bagi demokrasi.
Oleh: Justin Djogo, MA.,MBA*
Kejutan seputar perhelatan politik adalah wajar. Dinamika dan polemik pasti bermunculan. Ini bukan hal baru. Tinggal waktu yang menguji akurasinya. Apakah pilihan itu tepat karena analisis logis dari perspektif meritokrasi atau sedikit ada tumpangan kontaminasi nepotisme.
Mari kita fokus saja ke tiga pilihan yang sudah ada hasilnya. Daripada bertele tele mengungkit perasaan dan membedah isi kepala para pihak yang berseberangan, mari kita dengan kepala dingin dan hati teduh mengurainya.
Pertama, Ende.
Pilihan kepada bung Domi Mere, tentu ada implikasinya. Bisa dikatakan sebagai new comer di Golkar, tapi toh ada kalkulasi bahwa kombinasi dengan tokoh Golkar Ende yang militan selama ini bisa berdampak bagus untuk 2029. Tentu, jika nanti mengabaikan peran bu Meggy Sigasare, itu kurang cerdas. Tidak ada pilihan lain selain merangkul bu Meggy yang sudah terbukti menjadi Srikandi Golkar Ende dan tentu saja mantan ketua sebelumnya Herry Wadhi. Soliditas dan solidaritas adalah kuncinya.
Kedua, Nagekeo.
Bukan cuma publik terperangah dengan penunjukan moat Roby Tulus sebagai nahkoda baru. Kedengaran suara miris seperti apakah tidak ada tokoh Golkar Nagekeo. Ini sangat logis. Dan bahkan ada yang memberikan kritik soal nepotisme. Dalam hal ini mari kita coba tebak apa yang jadi acuan DPP PG (baca: moat Melky Mekeng, Eja Melky Laka Lena, keduanya wakil Ketum DPP Golkar). Sebagai kader Golkar di DPP dan putra Nagekeo, saya bisa menilai ini sebagai kombinasi yang cantik dari meritokrasi dan nepotisme dalam arti positif.
Moat Roby saat ini Wakil Ketua DPRD 1 NTT. Dari perspektif meritokrasi, ini tepat. Apalagi juga istrinya adalah orang Nagekeo. Walaupun ini kedengaran kurang elok, seperti dikait-kaitkan saja. Saya pikir, ini boleh juga dicoba.
Saya memang sudah berkoordinasi bahwa Golkar Nagekeo perlu direvitalisasi. Ada alasannya. Saat ini hanya mengeruk 1 kursi. Benar benar sebuah kemunduran. Langkah spektakuler 'mengimpor' moat Roby ke Nagekeo tentu bukan tugas ringan. Perlu merangkul tokoh muda Golkar seperti Mus Gore yang saat ini menjadi satu satunya wakil Golkar di DPRD Nagekeo. Juga Anton Moti yang periode sebelumnya juga duduk di DPRD Nagekeo. Jauh sebelum Musda, kedua tokoh ini tentu sudah saya sampaikan ke kedua Waketum asal NTT dan juga Ketua DPD 1 Golkar NTT, bung Alain. Mereka pasti sudah memiliki pertimbangan kalkulatif terbaik bagi Golkar.
Ketiga, Ngada.
Tanpa keraguan publik, nama bung Andreas Paru sudah bisa dipastikan kembali memimpin Golkar Ngada. Tinggal meneruskan benih dan buah karya politiknya, entah maju lagi sebagai Bupati Ngada atau pun Caleg DPR RI atau lainnya. Warum nicht?
Golkar Bukan Anti Kritik Konstruktif
Jagat politik Ende, Nagekeo dan Ngada mestinya bersukaria, minimal urusan kepemimpinan Golkar di tiga kabupaten ini sudah 'beres'.
Perlu pembuktian kerja keras dan tentu saja kritik konstruktif adalah madu dan obat bagi demokrasi. Tidak ada kekuasaan yang abadi. Warga Golkar mungkin saat ini terkesima dengan munculnya dua nama baru memimpin Golkar Ende dan Nagekeo. Namun kita percaya, keledai saja tidak sudi masuk ke lubang yang sama. Tentu Golkar pun demikian.
Selamat berkarya eja Domi, moat Roby dan robe Andre.
* Penulis adalah Direktur Politik dan LN DPP Partai Golkar.
--- Guche Montero
Komentar