REFLEKSI Kaya-Miskin Itu Soal Sikap dan Cara Hidup 23 Jun 2024 20:03
Sikap hidup yang bermartabat, berjerih lelah demi mendapatkan uang untuk menyambung kehidupan dengan cara yang jujur, sempat berbagi dengan sesama yang ditimpa kesusahan, itulah kehidupan yang kaya.
Oleh Valens Daki-Soo
Ketika pertama kali bekerja di Jakarta, antuasiasme saya menderu bagai bunyi gelombang laut. Meski gaji amat kecil, saya penuh semangat, karena merasa mulai mandiri dari segi ekonomi, meski uang yang didapat hanya cukup untuk bayar kos dan makan-minum di Warteg. Kalau mau sesekali kirim untuk adik-adik, saya mesti sering belajar "berpuasa" alias benar-benar hemat dalam makan-minum.
Sekarang, kalau dipikir kembali, saat itu gaji sangat kecil, makan-minum dicukup-cukupi, masih sempat pula membantu adik-adik, toh saya bisa 'survive' alias bertahan juga. Mungkin karenanya saya menganggap, daya tahan terbaik ada pada saat sulit seperti waktu itu.
Waktu terus bergerak maju, saya pun makin gencar berupaya mengubah sendiri nasib agar bisa keluar dari jeratan 'kemiskinan struktural' yang umumnya dialami kita, warga bangsa ini. Miskin karena sumber daya kita diperas kaum kapitalis tamak yang bekerja sama dengan para komprador, sebagian elite negeri ini. Miskin, karena negara kita dilanda tsunami korupsi yang dahsyat dan massif. Ditambah dengan minimnya pengetahuan, wawasan, akses informasi dan jaringan, mungkin juga dirasuki 'roh kemalasan', maka lengkaplah alasan untuk miskin.
Nah, sejak dulu saya punya tekad baja untuk memutus semua mata rantai itu.
Dari posisi hanya sebagai wartawan sebuah koran milik tentara, "Berita Yudha" -- koran ini dulu didirikan Jenderal Ahmad Yani (kini dikenal sebagai "Pahlawan Revolusi") untuk mengimbangi koran milik PKI -- berkat bantuan Brigjen (Purn) Alex Dinuth, saya mulai kerja rangkap di tempat lain juga. Mendapat tambahan penghasilan, kos mulai 'naik kelas' menjadi rumah kontrakan.
Oh ya, nama Pak Alex Dinuth, perwira intel binaan Jenderal Ali Moertopo tempo dulu, patut disebut sebagai salah satu figur yang membantu perkembangan saya pada fase paling awal di Jakarta.
Singkat kisah, dari waktu ke waktu saya pun kian mengenal banyak figur penting di republik ini, yang sebenarnya berdampak pada terbukanya lebih banyak akses ekonomi. Artinya, makin banyak peluang untuk menjadi lebih maju. Namun karena ketidaktahuan caranya, atau memang belum waktunya, apalagi saya datang dari latar belakang studi filsafat dan teologi, saya tidak serta-merta mampu mengkonversikan "peluang menjadi uang".
Kita memang justru paling banyak belajar dari rintangan dan masalah. Itulah yang saya alami. Dari suatu problem besar yang berdampak pada kegoncangan finansial yang nyaris melumpuhkan hidup saya, sebuah "kesadaran baru" menyentak di benak: saya harus menata hidup lebih baik, lebih terarah dan waktu pun tidak boleh 'asal berlalu'.
Jika sebelumnya pendapatan atau gaji dipakai tanpa banyak perhitungan, saatnya saya mesti mengaturnya dengan bijak. Sikap hemat itu perlu dan penting, tanpa menghilangkan dimensi sosial dari kehidupan pribadi berupa perhatian dan kepedulian kepada sesama.
Saat-saat sulit adalah momen berahmat yang memberikan banyak pelajaran, hikmat dan kekayaan.
Dari saat sulit kita bisa belajar, bukan banyaknya uang yang bikin kita kaya atau miskin, melainkan "sikap" dan "cara hidup".
Meski Anda punya banyak uang, apalagi mengandalkan warisan orang tua, jika Anda tak bisa mengontrol sikap hidup yang boros, tanpa perhitungan, foya-foya dan suka mengejar kenikmatan, kehancuran hanya soal waktu. Kendati Anda punya penghasilan besar, tanpa manajemen keuangan yang baik, aliran uang Anda akan terjebak dalam perangkap inefisiensi. Kegemaran menggunakan kartu kredit tanpa kendali membuat banyak orang jatuh dalam jeratan utang.
Ini bukti bahwa sikap dan cara hidup menentukan kita kaya atau miskin -- terutama secara finansial.
Saya selalu kagum pada keluarga yang hidup sederhana. Mereka bisa mencukupi kebutuhan diri tanpa menyusahkan orang lain. Itulah makna "kaya". Mereka bisa mengongkosi anak-anaknya sekolah dengan segala cara yang bersih. Tak hanya andalkan gaji, mereka pun beternak, berjualan, buka warung dan toko/kios (di Flores, toko kecil disebut kios), dan sebagainya. Meski sering kesulitan juga, kehidupan mereka kaya karena mereka berjuang penuh kehormatan dan martabat, dengan kemauan keras dan kerja tanpa pernah menyerah.
Sikap hidup yang bermartabat, berjerih lelah demi mendapatkan uang untuk menyambung kehidupan dengan cara yang jujur, sempat berbagi dengan sesama yang ditimpa kesusahan, itulah kehidupan yang kaya.
Jadi, meski Anda punya rumah mewah di kawasan elite, punya mobil Jaguar atau Porsche, Anda adalah "orang miskin" dalam arti sesungguhnya jika kekayaan itu datang dari hasil tipu daya, korupsi dan merugikan orang lain. Namun, jika kekayaan itu buah kerja dan perjuangan Anda, saya angkat topi sebagai tanda salut.
Mulai hari ini, mari belajar untuk punya sikap sebagai manusia yang kaya: hidup bermartabat, menerima penghasilan dari kerja halal, hidup hemat, menggunakan uang dengan bijak dan bertanggung jawab, sambil tetap peduli pada sesama yang susah.
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar