Breaking News

GAYA HIDUP Kenapa Banyak Anak Muda Memilih "Kerja Secukupnya"? 01 Aug 2026 20:39

Article image
Bukan lagi soal malas bekerja, tetapi tentang mencari keseimbangan antara penghasilan, kesehatan mental, dan kualitas hidup di tengah tuntutan zaman

JAKARTA IndonesiaSatu.co – Fenomena "kerja secukupnya" semakin sering menjadi perbincangan di kalangan anak muda. Bukan berarti mereka kehilangan semangat bekerja, tetapi mulai menetapkan batas yang jelas antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Tren ini muncul sebagai respons terhadap budaya kerja yang dinilai terlalu menuntut, sementara kesejahteraan mental menjadi perhatian utama.

Banyak generasi muda kini menilai bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari jabatan atau besarnya penghasilan. Waktu bersama keluarga, kesempatan mengembangkan hobi, hingga memiliki waktu istirahat yang cukup dianggap sama pentingnya dengan pencapaian karier. Pola pikir ini membuat mereka lebih selektif dalam menerima beban kerja di luar tanggung jawab utama.

Di sisi lain, meningkatnya biaya hidup dan tekanan untuk selalu produktif juga memicu kelelahan atau burnout. Pengalaman tersebut membuat sebagian anak muda memilih bekerja secara profesional sesuai target, tanpa merasa harus terus-menerus bekerja lembur atau selalu tersedia di luar jam kerja.

Meski kerap dianggap sebagai tanda kurang ambisius, pendekatan "kerja secukupnya" justru dinilai dapat membantu menjaga produktivitas dalam jangka panjang. Karyawan yang memiliki keseimbangan hidup cenderung lebih fokus, sehat secara mental, dan mampu memberikan hasil kerja yang konsisten.

Pada akhirnya, tren ini menunjukkan adanya perubahan cara pandang terhadap dunia kerja. Bagi banyak anak muda, bekerja bukan lagi sekadar mengejar karier setinggi mungkin, melainkan menjadi bagian dari kehidupan yang tetap harus seimbang dengan kesehatan, hubungan sosial, dan kebahagiaan pribadi.

--- Stella Josephine

Komentar