Breaking News

INTERNASIONAL Kritik Trump, Amerika Serikat Cabut Visa Mantan Presiden Kosta Rika 02 Apr 2025 11:04

Article image
Mantan Presiden Kosta Rika dan pemenang Hadiah Nobel Oscar Arias. (Foto: Ist)
Arias menuduh pemerintah Presiden Rodrigo Chaves saat ini menyerah pada tekanan AS, karena AS telah berusaha menentang pengaruh Tiongkok di wilayah tersebut dan mendeportasi migran dari negara ketiga ke Amerika Tengah.

SAN JOSE, IndonesiaSatu.co -- Amerika Serikat telah mencabut visa mantan Presiden Kosta Rika dan pemenang Hadiah Nobel Oscar Arias beberapa minggu setelah ia mengkritik Presiden Donald Trump di media sosial. Diketahui, Arias menuduh Trump berperilaku seperti "Kaisar Romawi."

Arias menjabat sebagai presiden antara tahun 1986 dan 1990 dan kembali menjabat antara tahun 2006 dan 2010. Sebagai seorang pasifis perdamaian, ia memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian 1987 atas perannya sebagai penengah perdamaian selama konflik Amerika Tengah pada tahun 1980-an.

Arias juga mempromosikan perjanjian perdagangan bebas dengan AS selama masa jabatan terakhirnya dan pada tahun 2007 menjalin hubungan diplomatik dengan Tiongkok.

"Saya menerima email dari pemerintah AS yang memberi tahu saya bahwa mereka telah menangguhkan visa yang saya miliki di paspor saya. Komunikasi itu sangat singkat, tidak memberikan alasan. Orang bisa saja menduga-duga," kata Arias kepada wartawan di luar rumahnya, tanpa menjelaskan lebih lanjut kecurigaannya, Selasa (1/4/2025).

Pada bulan Februari, Arias menuduh pemerintah Presiden Rodrigo Chaves saat ini menyerah pada tekanan AS, karena AS telah berusaha menentang pengaruh Tiongkok di wilayah tersebut dan mendeportasi migran dari negara ketiga ke Amerika Tengah.

"Tidak pernah mudah bagi negara kecil untuk tidak setuju dengan pemerintah AS, dan terlebih lagi, ketika presidennya berperilaku seperti kaisar Romawi, memberi tahu seluruh dunia apa yang harus dilakukan," katanya di media sosial pada bulan Februari.

Pernyataannya muncul setelah AS mencabut visa dari tiga anggota parlemen Kosta Rika yang menentang keputusan Chaves untuk melarang perusahaan Tiongkok berpartisipasi dalam pengembangan 5G di negara tersebut, menyusul tuntutan AS. Pada hari Selasa, anggota parlemen oposisi lainnya juga dicabut visanya di AS.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada awal Februari mengunjungi Kosta Rika dan menawarkan bantuan kepada Chaves untuk "menghukum" pejabat Kosta Rika yang bekerja sama dengan "aktor asing yang mengancam keamanan siber negara tersebut."

---R.Kono

Komentar