REFLEKSI Mandela: Indonesia Bangsa besar! 15 Dec 2023 08:54
Pemimpin sejati biasanya lahir dari badai kehidupan, tumbuh dari rahim perjuangan, bagai kuntum semerbak menyembul di antara batu padas tantangan.
Oleh Valens Daki-Soo
Jari-jari saya bergerak dengan hati bergetar saat menulis ucapan Mandela kepada Xanana di LP Cipinang, "Saudaraku Xanana, saya menghormati perjuanganmu. Saya mencintai rakyat Timor Timur. Namun saya pun menghormati Indonesia. Entah bagaimana hasil akhir dari perjuanganmu, bahkan sekalipun misalnya kelak Timor Timur jadi negara merdeka, tetaplah hormati Indonesia sebagai saudara. Anda bisa pilih teman, tetapi tidak bisa pilih saudara. Sampai kapanpun, Indonesia adalah saudara sejati bagi Timor Timur."
Ucapan itu saya tulis dalam Laporan Dubes Keliling RI kepada Presiden RI. Bahkan oleh Dubes Lopes, ucapan Mandela tersebut diberi huruf tebal.
Saya mendapat "keberuntungan sejarah" ketika Presiden Nelson Mandela, tokoh dunia terkemuka, datang ke Indonesia. Saat itu saya mengasistensi Dubes Keliling RI dengan 'Tugas Khusus', Francisco Xavier Lopes da Cruz.
Pak Dubes Lopes diangkat oleh Presiden Soeharto untuk mendukung Menlu Ali Alatas dalam penanganan persoalan Timor Timur (East Timor issues) di fora internasional. Oleh Pak Harto, Dubes Lopes ditugaskan mendampingi Presiden Mandela ketika berdialog dengan Xanana di LP Cipinang.
Sebagai staf khusus Dubes Lopes, tugas saya adalah menyusun laporan beliau kepada Menlu RI maupun laporan-laporan rahasianya kepada Presiden RI yang langsung diserahkan kepada Presiden melalui Ajudan Presiden. Mungkin karena berlatar militer, Pak Harto tidak meninggalkan pola intelijen. Ada laporan formal-prosedural, ada pula laporan "strictly confidential" yang boleh/harus langsung ke tangannya agar tidak "diedit" dulu untuk kepentingan tertentu.
Sebagai catatan, waktu itu saya dengar, banyak kali laporan tentang Timtim tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Banyak laporan ABS (Asal Bapak Senang), hanya untuk menjilat penguasa. Misalnya, dilaporkan keadaan Timtim "aman terkendali" atau "kondusif", padahal makin banyak rakyat yang menderita sehingga yang pro integrasi pun 'nyeberang' ke kubu pro kemerdekaan, akibat ketidakpuasan melihat dan mengalami represi dan wabah korupsi.
Saat mobil bergerak pulang dari LP Cipinang, tempat Xanana Gusmao ditahan, kata-kata Mandela terngiang lagi, "Indonesia adalah bangsa yang besar". Saya bahagia dan bangga. Tapi ada rasa sakit pula menikam di dada, "Bangsa besar, tapi mengapa kita 'sempoyongan' menangani kasus Timtim bertahun-tahun?"
Tentu, Timtim bukan sekadar isu domestik-nasional melainkan masalah internasional yang bikin kita kelabakan.
Mandela adalah pengagum Bung Karno, sang Proklamator dan "Bapak Bangsa" kita. Dia bahkan mengakui, perjuangannya banyak diinspirasikan Bung Karno.
Rupanya Bung Karno dan Indonesia punya tempat di hati Mandela. Dia bahkan seperti "promotor" batik Indonesia ke ajang dunia. Di Sidang PBB pun Mandela mengenakan batik khas Indonesia.
Para pemimpin kita niscaya bisa belajar dari Mandela. 27 tahun mendekam di penjara itu pasti karena totalitas cinta kepada bangsa yang tiada tara.
Mandela pasti punya "hati yang selalu ingin memberi". Itu sebabnya dia tidak peduli dengan jabatan. Dia tahu kapan naik dan kapan turun dari kursi kekuasaan. Dia tidak obsesif dengan kuasa dan harta. Mandela adalah "nama besar" yang menyembul dari batu karang perjuangan melawan rezim otoritarian-represif dan apartheid yang kejam.
Mandela pernah berucap, di Afrika Selatan orang harus masuk penjara dulu baru bisa jadi pemimpin. Tentu, penjara karena konsistensi dan kekukuhan karakter dalam perjuangan, bukan karena korupsi dan tipu-daya rakyat.
Pemimpin sejati biasanya lahir dari badai kehidupan, tumbuh dari rahim perjuangan, bagai kuntum semerbak menyembul di antara batu padas tantangan.
Ya, seperti Bung Karno, Bung Hatta dan para pejuang sejati bangsa.
Syukur kepada Tuhan yang telah menghadirkan seorang Mandela.
Salut kita kepada Nelson Mandela.
Terima kasih untuk jasamu bagi dunia.
Terima kasih untuk spiritmu, "Indonesia (memang) bangsa yang besar!" ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar