Breaking News

INTERNASIONAL Mengapa Korut Boleh Punya Senjata Nuklir, Iran Tidak, Ini Jawaban Trump 02 Oct 2026 10:59

Article image
Presiden AS Donald Trump dan pemimpin Korea Utara Kim Jong-Un. (Foto: Korea Economic Institute)
Komen tar presiden AS itu muncul setelah ia ditanya mengapa Korea Utara bisa memiliki senjata nuklir sedangkan Iran tidak bisa.

JAKARATA, IndonesiaSatu.co -- Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggambarkan pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un sebagai "teman" dan meremehkan kekhawatiran tentang persenjataan nuklir Pyongyang, dengan mengatakan, "selama saya masih ada, dia akan baik-baik saja".

Trump menyampaikan pernyataan tersebut di Washington, DC, pada hari Selasa (30/9)setelah seorang reporter bertanya kepadanya mengapa Korea Utara bisa memiliki senjata nuklir tetapi Iran tidak bisa.

“Itu menarik. Tahukah Anda mengapa? Karena Anda memiliki presiden yang berbeda, dan mereka bisa saja menghentikannya,” katanya seperti dilansir Al-Jazeera, merujuk pada pemerintahan AS sebelumnya.

“Kebetulan dia teman saya, Kim Jong Un, dia teman saya. Dia menyukai Trump, tidak menyukai banyak orang lain. Saya mungkin satu-satunya orang di seluruh dunia yang dia sukai, dan saya juga menyukainya,” katanya.

Dia mengatakan kapasitas nuklir Korea Utara "cukup besar" tetapi "tidak seperti kita".

“Kau tahu apa, selama aku ada di sini, dia akan baik-baik saja,” tambahnya. “Kau tahu kenapa? Karena dia menghormatiku dan dia menyukaiku.”

Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back mengatakan pekan lalu bahwa negara tetangganya di utara memiliki antara 80 dan 120 hulu ledak nuklir. Angka tersebut jauh lebih tinggi daripada pernyataan Trump baru-baru ini bahwa Pyongyang memiliki 57 senjata nuklir.

Trump berupaya untuk kembali menjalin hubungan dengan Kim dan meraih kemenangan di panggung internasional seiring perang AS dan Israel melawan Iran memasuki bulan kedelapan.

Presiden AS melancarkan perang bersama Israel pada 28 Februari, dengan mengatakan Iran tidak mungkin memiliki senjata nuklir.

Iran membantah berupaya mendapatkan senjata tersebut, dan menyatakan telah menandatangani perjanjian dengan kekuatan dunia pada tahun 2015 yang membatasi program nuklirnya sebagai imbalan atas pencabutan sanksi. Namun Trump meninggalkan perjanjian tersebut selama masa jabatan pertamanya pada tahun 2018.

Perang AS-Israel di Iran telah mengganggu pasokan energi global, menaikkan biaya bahan bakar, dan merusak popularitas Trump menjelang pemilihan paruh waktu November.

Trump mengadakan pertemuan puncak dengan Kim Jong-un dari Korea Utara pada tahun 2018 dan 2019, tetapi diplomasi gagal karena tuntutan AS agar Pyongyang menusnahkan senjata nuklirnya.

Sejak itu, Kim telah memperluas persenjataan rudal berkemampuan nuklirnya dan memperkuat jejak diplomatiknya dengan bersekutu dengan Rusia terkait perang di Ukraina dan mempererat hubungan dengan China.

Trump sebelumnya mengatakan bahwa ia berencana untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan Kim sebelum akhir tahun.

Namun Korea Utara belum secara resmi berkomitmen untuk mengadakan pertemuan tersebut.***

 

--- Simon Leya

Komentar