Breaking News

SOSOK Mengenang Ibu Rooslila Tahir 08 Mar 2026 17:04

Article image
Ibu Rooslila Tahir dan suami tercinta, Jenderal TNI (Purn) Achmad Tahir. (Foto: Dok. Ist)
Semoga generasi muda bangsa dan negara tercinta mampu mewarisi, menjaga dan terus menghidupkan api cinta kepada Indonesia.

Dalam hidup ini, termasuk dalam kehidupan kita sebagai bangsa dan negara, selalu ada tokoh-tokoh yang memberikan kita inspirasi dan teladan.

Salah satu tokoh itu datang dari kalangan perempuan, yang dengan caranya berjuang dan mendedikasikan diri bagi kebangsaan dan kemanusiaan. Beliau adalah Ibu Rooslila Tahir (1927-2009), istri dari mendiang Jenderal TNI (Purn) Achmad Tahir yang pernah menjabat Ketua Umum Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI).

Sebelum dikenal sebagai tokoh politik dan pendidikan nasional, Ibu Rooslila Tahir adalah seorang wartawati pejuang yang berada di garis depan selama masa revolusi kemerdekaan di Sumatera Utara (Sumut).

Ibu Rooslila Tahir Simanjuntak adalah seorang wartawan, pejuang kemerdekaan dan politisi Indonesia. Ia bersama SK Trimurti aktif menulis di media massa tentang perjuangan bangsa pada masa-masa perjuangan melawan penjajahan 

Beliau juga dikenang sebagai penyiar yang mengumandangkan teks proklamasi pada Radio Shinbun milik Pemerintah Jepang di Sumatera Utara.

Berikut adalah peran krusial beliau sebagai jurnalis di masa-masa kritis tersebut:

# Wartawati di Harian "Mimbar Umum"

Ibu Rooslila merupakan salah satu sosok penting di balik harian Mimbar Umum di Medan, yang didirikan oleh tokoh pers legendaris H. Mohammad Said dan Ani Idrus (pendiri harian Waspada). Pada masa itu, menjadi wartawati bukan sekadar profesi, melainkan bentuk perlawanan terhadap kolonialisme.

# Meliput di Garis Depan (Front)

Beliau dikenal sebagai wartawati yang berani turun langsung ke medan perang. Selama Agresi Militer Belanda, beliau sering berada di garis depan untuk:

• Melaporkan pergerakan pasukan: Memberikan informasi terkini mengenai posisi musuh dan kondisi pejuang Indonesia.

• Membangkitkan moraal: Tulisan-tulisannya di surat kabar bertujuan untuk membakar semangat rakyat Sumatera Utara agar tidak menyerah kepada Belanda (NICA).

# Jembatan Informasi Pejuang

Karena mobilitasnya sebagai jurnalis, beliau berperan sebagai penyambung lidah antara komando militer pejuang dengan masyarakat sipil. Di tengah sensor ketat dari pihak Belanda, beliau dan rekan-rekannya harus menggunakan strategi cerdik agar berita tentang proklamasi dan perjuangan tetap sampai ke telinga rakyat di pelosok Sumut.

# Aktivis Pers Perempuan

Ibu Rooslila termasuk generasi awal perempuan Sumatera Utara yang menggunakan pena sebagai senjata. Bersama tokoh pers perempuan lainnya seperti Ani Idrus, beliau mendobrak stigma bahwa dunia jurnalistik yang keras hanya milik laki-laki, sekaligus membuktikan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam diplomasi informasi.

Dari Ibu Rooslila Tahir dan para pejuang-pahlawan bangsa kita memetik pelajaran bahwa menjadi nasionalis-patriotis adalah sikap dan pilihan hidup yang mesti dilakoni sepenuh hati dan segenap jiwa.

Semoga generasi muda bangsa dan negara tercinta mampu mewarisi, menjaga dan terus menghidupkan api cinta kepada Indonesia.

--- Guche Montero

Komentar