REFLEKSI Menghargai Diri Sendiri Perlu dan Penting 29 Jun 2023 15:30
Seseorang dapat menghargai diri sendiri sebagai pribadi, seperti ketika seseorang membela haknya, atau dalam peran atau kapasitas tertentu, seperti ketika seseorang mengadopsi kode etik yang terkait dengan pekerjaan atau profesinya.
Oleh Valens Daki-Soo
Kalau kita jujur, dalam banyak hal dan situasi kita kerap "lupa" menghargai diri sendiri. Malah terkadang kita cenderung mengabaikan, melecehkan atau bahkan -- dalam kadar yang ekstrim -- menistai diri sendiri.
Menurut Routledge Encyclopedia of Philosophy, menghagai diri adalah gagasan multifaset yang melibatkan konstelasi sikap, keyakinan, keinginan, disposisi, komitmen, harapan, tindakan, dan emosi yang mengekspresikan atau membentuk perasaan seseorang tentang nilainya. Menghargai diri mencakup pengakuan dan pemahaman tentang nilai seseorang, serta keinginan dan watak untuk melindungi dan melestarikannya.
Seseorang dapat menghargai diri sendiri sebagai pribadi, seperti ketika seseorang membela haknya, atau dalam peran atau kapasitas tertentu, seperti ketika seseorang mengadopsi kode etik yang terkait dengan pekerjaan atau profesinya.
Seseorang juga dapat memperoleh rasa hormatnya sendiri, sebagai pribadi atau sebagai pemegang peran, dengan berperilaku terhormat atau dengan memenuhi standar seseorang. Karena para filsuf cenderung memerhatikan rasa hormat terhadap diri sendiri sebagai pribadi, 'menghargai diri' selanjutnya akan dianggap memiliki orang seperti objeknya.
Sebagian besar penulis tentang self-respect setuju bahwa self-respect dapat dibagi menjadi dua jenis, menurut alasan yang sesuai. Robin Dillon (1992a) menyebut kedua jenis ini 'pengakuan' menghargai diri dan harga diri 'evaluatif'. Jenis yang terakhir juga secara luas disebut sebagai penghargaan diri 'evaluataif'.
Pengakuan menghargai diri adalah jenis penghargaan terhadap diri sendiri yang wajib atau berhak diperoleh semua orang. Sikap atau perilaku yang tidak pantas, seperti sikap merendahkan diri atau mencela diri sendiri yang tidak perlu, dipandang sebagai bukti dari, atau sebagai konstitutif, ketiadaan penghargaan terhadap diri.
Label 'pengakuan menghargai diri' berasal dari fakta sikap yang dirujuknya terutama terdiri dari pengakuan bahwa dia adalah seseorang dan menimbang dengan tepat fakta ini dalam pertimbangan dan tindakan. Pengakuan seperti itu tidak dipahami sebagai sekadar pengakuan atas fakta bahwa seseorang adalah seorang pribadi.
Menghargai diri juga termasuk menghargai status khusus yang dimiliki seseorang sebagai pribadi dan bahwa status ini mungkin memerlukan tanggapan, perilaku, atau pengekangan tertentu. Seseorang berkewajiban atau berhak untuk menghormati dirinya sendiri berdasarkan fakta bahwa dia adalah manusia.
Sebagai contoh, dalam situasi kecewa karena penolakan atau patah hati dalam urusan relasi asmara, sering orang bertindak sangat emosional dan tidak menghargai diri sendiri. Menyalahkan diri, menyesali diri, menghina diri, melukai diri dengan/dalam banyak cara. Bukannya menenangkan diri dan mengambil jarak dari masalah agar bisa mengambil sikap yang positif dan proporsional, orang yang patah hati justru sering menyakiti diri sendiri.
Mari kita bayangkan, apa yang terjadi secara psikologis manakala kita terlalu sering menyalahkan diri dan menyakiti diri sendiri. Para psikolog dan psikiater (dokter ahli kejiwaan) mengatakan, saat kita menolak dan menyakiti diri sendiri tubuh dan jiwa kita mengalami tekanan (stres) hebat. Hormon stres bernama kortisol terpicu untuk keluar dan aktif, sehingga tubuh dan jiwa kita tertekan atau stres.
Dalam situasi begini, orang jadi mudah terkena gangguan psikosomatis (psikis: jiwa, soma: tubuh). Tubuh dan jiwa tertaut erat. Maka apa yang dialami jiwa pasti berdampak pada tubuh. Itu sebabnya, sebagai contoh, kalau Anda stres kejiwaan Anda pun mengalami ketegangan pada tubuh. Tubuh menjadi tidak rileks dan gangguan penyakit psikosomatis terjadi: gangguan lambung (maag), hipertensi, sakit kepala, dan sebagainya.
Selain dalam relasi percintaan sebagaimana contoh di atas, dalam relasi sosial yang umum pun sering orang tidak menghargai diri sendiri. Misalnya, karena tidak enak hati atau takut dicap pelit, Anda terpaksa meminjamkan uang kepada teman, padahal Anda sendiri sedang mengalami problem finansial. Anda lebih memikirkan atau mencemaskan apa kata orang, sehingga Anda lupa bahwa diri sendiri diabaikan. Anda mengorbankan diri sendiri secara kurang sehat. Mestinya Anda menghormati diri sendiri (self respect), dengan menjaga dan 'mengamankan' kebutuhan dan kondisi diri sendiri.
Perlu diketahui, menghargai diri sendiri adalah sikap dan tindakan yang sehat secara psikologis. Menghargai diri sendiri bukanlah berarti Anda tidak boleh berbagi dengan sesama. Juga tidak berarti Anda dilarang berkorban demi kebaikan orang lain. Sebaliknya, Anda tentu saja boleh tergerak dan perlu terpanggil untuk menolong sesama, namun tanpa mesti mengabaikan kondisi diri sendiri. Jadi, menghargai diri sendiri bukanlah tanda egoisme. Justru hanya kalau Anda menghargai diri sendiri secara murni (genuine), Anda pun akan mampu menghargai orang lain secara murni pula.
Menghargai diri sendiri juga mengindikasikan kemantapan jiwa dan stabilitas pribadi Anda. Oleh karena menghargai diri sendiri, kita menjadi lebih peka dan tulus kepada orang lain. Kita tak bisa berelasi positif dengan sesama, jika kita tidak menghargai diri sendiri. Kalau Anda menghargai diri sendiri, maka Anda juga bisa merawat relasi yang sehat/positif dengan sesama dan alam.
Sering Anda hanya butuh untuk menghargai diri sendiri. Bahwa Anda sudah berjalan sejauh ini, melewati segala suka dan duka hidup, itu merupakan prestasi sejati dan juga anugerah Ilahi. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar