Breaking News

KESEHATAN Menurut Studi, Perubahan Besar pada Otak di Usia 50 Tahun Berpotensi Pengaruhi Risiko Demensia 25 Aug 2026 21:18

Article image
Studi terbaru mengungkap perubahan drastis pada otak di usia 50 tahun: sel imun pelindung menurun dan digantikan sel pemicu peradangan yang berpotensi memicu risiko demensia

JAKARTA IndonesiaSatu.co – Otak manusia mengalami perubahan signifikan pada usia paruh baya. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sel-sel imun pelindung otak mulai mengalami penurunan dan secara bertahap digantikan oleh sel-sel pemicu peradangan (inflamasi) sekitar usia 50 tahun.

Riset kolaboratif yang dilakukan oleh para peneliti dari University of California San Diego, New York Genome Center, dan University of California Irvine ini membantu menjelaskan mengapa proses penuaan meningkatkan risiko peradangan saraf (neuroinflammation) serta penyakit degeneratif otak, termasuk demensia dan Alzheimer.

Dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Science, studi yang didanai oleh National Institutes of Health ini menganalisis jaringan pascakematian (postmortem) dari bagian hippocampus—area otak yang mengatur proses belajar dan memori—dari 40 orang dewasa sehat berusia 20 hingga 95 tahun.

Pergeseran Sel Imun dan Peradangan Kronis

Peneliti utama sekaligus investigator di UC San Diego Center for Epigenomics, Nathan Zemke, Ph.D., menjelaskan bahwa temuan paling mencolok terjadi setelah usia 50 tahun.

"Sel-sel imun lokal di otak yang disebut mikroglia (microglia) mulai digantikan oleh sel-sel imun yang masuk dari aliran darah," jelas Zemke. "Mikroglia biasanya bertugas melindungi otak dengan membersihkan kotoran seluler dan merespons cedera. Namun, sel-sel baru yang masuk dari darah justru membawa sinyal peradangan yang jauh lebih kuat."

Para peneliti meyakini bahwa pergeseran ini memicu peradangan kronis yang berkontribusi pada penurunan fungsi kognitif. Selain itu, studi ini mencatat adanya penurunan fungsi sel pada sawar darah otak (blood-brain barrier)—penyaring pelindung yang mencegah zat berbahaya masuk ke otak—serta perubahan luas pada aktivitas gen dan DNA.

Peluang Terapi Medis Baru

Temuan bahwa sel-sel pengganti tersebut berasal dari darah dinilai memberikan secercah harapan baru bagi dunia medis. Pasalnya, sel dalam darah jauh lebih mudah diakses dibandingkan sel-sel yang berada jauh di dalam jaringan saraf pusat.

"Ke depannya, sangat mungkin untuk memodifikasi sel-sel imun turunan darah agar menjadi lebih protektif dan tidak memicu inflamasi saat masuk ke otak. Ini membuka pendekatan baru dalam menangani Alzheimer tanpa harus memanipulasi sel di dalam sistem saraf pusat secara langsung," papar Zemke.

Catatan dan Keterbatasan Penelitian

Meskipun memberikan pemahaman baru terkait biologi penuaan otak, peneliti mengingatkan adanya keterbatasan studi:

  • Sampel Jaringan Pasca Kematian: Studi menggunakan jaringan postmortem dari individu yang berbeda, sehingga belum dapat merekam perubahan pada individu yang sama secara berkala selama beberapa dekade.
  • Fokus Area: Penelitian baru mencakup 40 sampel dan terbatas pada area hippocampus, sehingga belum tentu mencerminkan kondisi seluruh bagian otak.
  • Pemicu Masih Misterius: Peneliti belum mengetahui secara pasti faktor utama yang mendorong masuknya sel imun darah ke otak, apakah karena genetika, gaya hidup, atau faktor lainnya.

Zemke menegaskan bahwa temuan ini masih berada pada tahap awal dan belum ditujukan sebagai rujukan untuk mengubah gaya hidup medis secara mandiri, melainkan fondasi penting bagi pengembangan terapi pencegahan di masa depan.

--- Stella Josephine

Komentar