TAJUK Mitigasi Perubahan Iklim 10 Apr 2025 07:51
Pemerintah harus mengalokasikan anggaran untuk mendukung aksi nyata kampanye perubahan iklim.
Ancaman perubahan iklim itu nyata. Maka upaya mitigasi perubahan iklim harus segera dilakukan.
Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Sementara itu, mitigasi perubahan iklim adalah upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) dan meningkatkan penyerapan karbon, bertujuan untuk mengurangi dampak negatif perubahan iklim.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan terdapat nilai potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim yang mencapai hingga Rp544 Triliun selama 2020 hingga 2024.
Integorvenmental Panel on Climate change (IPCC) menjelaskan, suhu permukaan global telah meningkat lebih dari 1,09 derajat celcius dibandingkan periode 1850-1900. Suhu bumi ini pun diprediksi akan selalu meningkat akibat pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.
Apabila peningkatan suhu global rata-rata mencapai hingga 1,5 derajat celcius, maka sektor perairan dan pertanian akan terdampak. Distribusi dan intensitas curah hujan yang ekstrem akan berpotensi banjir dan kekeringan hingga mengancam ekosistem pesisir dan laut.
Perubahan iklim menyebabkan tergenangnya wilayah pesisir, terjadi kemarau panjang, penurunan produksi pertanian, penurunan pasokan air bersih, gagal panen total, dan menyebabkan krisis pangan di Indonesia.
Bappenas telah menyusun strategi ketahanan iklim dalam dokumen RPJPN 2025-2045. Adapun, fokus strateginya ialah teknologi, tata kelola dan pendanaan, penguatan ketahanan infrastruktur, serta meningkatkan peran masyarakat.
Pemerintah harus menjadi promotor aksi mitigasi perubahan iklim untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dengan beralih ke energi terbarukan, mengurangi konsumsi bahan bakar fosil, dan melestarikan hutan.
Menurut environment-indonesia.com., langkah konkrit yang harus dilakukan, pertama, beralih ke energi terbarukan seperti menggunakan tenaga surya, angin, dan hidro untuk mengurangi emisi karbon dioksida dari pembangkit listrik.
Kedua, meningkatkan efisiensi energi di rumah, industri, dan penggunaan transportasi berkelanjutan juga dapat mengurangi konsumsi energi dan emisi CO2.
Ketiga, melakukan penghijauan dan konservasi Hutan:
Melindungi hutan dan melakukan reboisasi sangat penting karena hutan dapat menyerap karbon alami.
Keempat, pertanian berkelanjutan. Praktik pertanian yang berkelanjutan seperti manajemen limbah ternak dan pengurangan penggunaan pupuk juga dapat membantu mengurangi emisi metana dan nitrogen oksida.
Kelima, pendidikan dan kesadaran iklim. Ini pentingnya kesadaran masyarakat sangat penting dalam mengurangi emisi dan mengadopsi gaya hidup yang berkelanjutan.
Namun, langkah-langkah mitigatif hanya bisa dilakukan jika ada disain fiskal yang pro mitigasi perubahan iklim. Pemerintah harus mengalokasikan anggaran untuk mendukung aksi nyata kampanye perubahan iklim.
Salam Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar