Breaking News

OPINI Pemerintahan Sekarang Sudah Kehilangan Kepercayaan Pasar dan Publik -- Berubah atau Fiasco 03 Mar 2026 06:26

Article image
Surya Dharma (Dali) Tahir. (Foto: Dok. Ist)
Intinya adalah Presiden Prabowo tinggal di persimpangan sejarah: kalau tidak segera memperbaiki arah kebijakan dan memilih tim yang benar-benar dipercaya oleh pasar serta publik, risiko kehilangan kepercayaan akan berujung pada hancurnya stabilitas ekono

Oleh: Surya Dharma (Dali) Tahir*

 

*Keyakinan pasar global tengah runtuh — bukan sekadar sentimen*

Laporan terbaru dari Reuters menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia gagal menahan melemahnya kepercayaan investor di tengah gejolak pasar finansial: rupiah terus berada dekat level terendah, indeks saham Indonesia terburuk di ASEAN tahun ini, dan permintaan atas surat utang negara melemah tajam — indikator bahwa modal asing enggan masuk atau bahkan keluar dari Indonesia setelah kebijakan yang dinilai tidak terduga dan tidak kompeten.

Investasi global mencari prediktabilitas dan kredibilitas kebijakan ekonomi, bukan sekadar retorika pertumbuhan. Namun, keputusan-keputusan pemerintah saat ini, seperti pengangkatan keluarga dekat dalam posisi kunci (misalnya penunjukan deputy governor Bank Indonesia yang dipandang kontroversial), justru menambah kekhawatiran akan independensi lembaga dan tata kelola yang buruk.

Kesimpulan: Jika investor tidak percaya pada arah kebijakan ekonomi dan stabilitas kelembagaan, arus modal keluar akan terus meningkat, biaya pinjaman negara membengkak, dan rupiah semakin tertekan — ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi nasional.

*Kerusuhan pasar tidak sekadar “fluktuasi jangka pendek”*

Berbagai sinyal pasar sejak tahun lalu menunjukkan tren yang lebih struktural:

 • Kekhawatiran downgrade pasar modal (MSCI) dan potensi reklasifikasi ke pasar frontier karena isu investability dan transparansi.

 • Penurunan tajam IHSG dan rupiah terkait keputusan politik besar, termasuk penggantian menteri ekonomi yang dihormati pasar.

 • Outflows asing dan meningkatnya risk premium karena kebijakan yang dinilai reaktif dan tidak konsisten.

Kesimpulan: Pasar tidak merespons positif sekadar janji reformasi — mereka menaruh harga pada kepastian dan kelangsungan kebijakan. Ketidakpastian berulang justru menimbulkan risiko yang lebih besar daripada sekadar volatilitas biasa.

*Publik dan tokoh nasional mulai kehilangan kepercayaan*

Seluruh proses ini bersinggungan langsung dengan persepsi publik:

 • Isu kebijakan yang berbiaya tinggi seperti program belanja sosial besar-besaran, yang memicu defisit fiskal lebih besar, dikritik oleh ekonom dan pelaku pasar.

 • Keputusan politik penting (misalnya pergantian pejabat kunci) berdampak langsung ke pasar modal, mencerminkan ketidakcocokan antara pendekatan politik dengan kebutuhan stabilitas ekonomi.

 • Ketidakpastian ekonomi turut memicu aksi publik seperti protes massa saat ini dan sebelumnya, yang menggabungkan aspek ekonomi dan kepercayaan terhadap pemerintahan.

Kesimpulan: Ketika kepercayaan publik dan kepercayaan pasar beririsan, legitimasi pemerintah secara keseluruhan — bukan hanya soal ekonomi — berada di ujung tanduk.

*Solusi yang tak bisa ditunda: berubah atau hancur*

Jika pemerintahan tidak segera mengubah arah kebijakan dan core team yang jadi sumber kekacauan kepercayaan ini, maka:

a) Pasar akan terus menurunkan penilaiannya terhadap Indonesia — dengan konsekuensi serius terhadap investasi, nilai tukar, dan biaya pembiayaan national.

b) Kepercayaan publik akan semakin terkikis, memperkuat ketidakpastian politik dan potensial memecah stabilitas sosial.

c) Akhirnya, seluruh struktur ekonomi dan politik bisa menghadapi krisis berkepanjangan — bukan sekadar gangguan sementara.

*Solusi yang diperlukan:*

1. Membentuk tim ekonomi yang kredibel di mata pasar global dan domestik, bukan berdasarkan kedekatan politik.

2. Menjamin independensi lembaga strategis seperti Bank Indonesia & OJK.

3. ?Merestorasi kredibilitas melalui kebijakan fiskal yang transparan, realistis, dan berorientasi pada stabilitas jangka panjang.

4. ?Mendukung dialog nasional untuk membangun trust capital antara pemerintah, pasar, dan rakyat.

Intinya adalah Presiden Prabowo tinggal di persimpangan sejarah: kalau tidak segera memperbaiki arah kebijakan dan memilih tim yang benar-benar dipercaya oleh pasar serta publik, risiko kehilangan kepercayaan akan berujung pada hancurnya stabilitas ekonomi dan politik bangsa.

 

* Penulis adalah Aktivis Senior Nasional dan Internasional.

--- Guche Montero

Komentar