INTERNASIONAL Penasihat Presiden UAE: Peluang Kesepakatan AS-Iran Terkait Selat Hormuz '50:50' 23 May 2026 16:01
Negosiasi yang hanya bermaksud mencapai gencatan senjata namun tetap mengarah pada timbulnya konflik baru bukanlah hal yang diinginkan.
ABU DHABI, IndonesiaSatu.co -- Penasihat Diplomatik Presiden Uni Emirat Arab (UEA), Anwar Gargash, menilai peluang Iran dan Amerika Serikat (AS) mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz saat ini berada pada level '50:50'.
Dilansir Gulf News, Sabtu (23/5/2026), Gargash menyatakan konflik baru antara Washington dan Teheran hanya akan memperburuk situasi kawasan Timur Tengah yang telah memakan korban jiwa dan hancurnya berbagai fasilitas sejak peran dimulai Februari lalu.
"Negosiasi yang hanya bermaksud mencapai gencatan senjata namun menimbulkan konflik baru bukanlah hal yang kami inginkan," ungkap Gargash seperti dikutip dari Gulf News, Sabtu (23/52026).
Ia menegaskan, Iran selama ini kerap kehilangan peluang diplomatik karena terlalu percaya diri terhadap posisi tawarnya dalam negosiasi internasional.
"Para pejabat Iran telah kehilangan banyak peluang selama bertahun-tahun karena kecenderungan mereka melebih-lebihkan kartu yang mereka miliki. Saya berharap mereka tidak melakukan itu kali ini," imbuhnya.
Gargash juga mengatakan, program nuklir Iran kini menjadi perhatian utama UEA.
Ia mengaku Abu Dhabi semakin khawatir terhadap kemampuan militer Teheran setelah konflik yang berlangsung sejak akhir Februari lalu.
"Program nuklir Iran dulu menjadi perhatian kedua atau ketiga kami. Saat ini hal itu menjadi perhatian utama kami," tegasnya.
Ia juga menuding Iran bersedia menggunakan seluruh persenjataan yang dimilikinya dan memiliki kemampuan untuk itu.
Gargash mengungkapkan, UEA telah menjadi sasaran sekitar 3.300 drone dan rudal selama 40 hari pertama perang yang dimulai pada 28 Februari.
Menurutnya, hanya sekitar empat persen serangan yang berhasil menembus sistem pertahanan udara UEA.
Seperti diberitakan, Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz sejak konflik dimulai, terutama setelah Teheran mengumumkan pembentukan badan khusus untuk mengelola jalur laut tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran minyak terpenting di dunia. Jalur ini menjadi titik transit utama ekspor minyak dari kawasan Teluk menuju pasar global. Ketegangan di wilayah tersebut selama ini kerap memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi dan stabilitas ekonomi dunia.
--- Aprilio G.