KOLOM Pemimpin: Pahlawan yang Mengorbankan Diri 29 Jun 2017 16:27
Leonidas setelah mendengar ancaman mengerikan Xerxes di atas, tak gentar hatinya, lalu menyahut tegas: "Dunia akan tahu bahwa orang bebas dan benar adalah penentang tirani!".
Oleh Redem Kono
BERADA dalam realitas masyarakat yang sering dilanda ketidakpastian, kita sering membaca, mengalami, bahkan merindukan sosok pemimpin pahlawan, atau “hero” dalam masyarakat. Apa sebenarnya “hero” itu?
Douglas M. Stenstrom dan Mathew Curtis dalam Heroism and Risk of Harm (2012) menyebut adanya pergeseran makna tentang “hero”. Hero identik dengan prajurit, pemelihara, penjaga, ataupun penjamin kita.
Tampak bahwa “pandangan tradisional” tersebut menampilkan hero sebagai beberapa tindakan berbahaya seseorang yang secara fisik mengorbankan diri untuk membantu orang lain (hlm. 1).
Maka, sosok pahlawan misalnya disematkan pada Achilles, Leonidas, ataupun para pahlawan perang gagah berani di medan peperangan.
Selanjutnya, pandangan modern memasukkan tindakan-tindakan positif yang bersifat psikologis-afektif dalam memandang sosok pahlawan. Seseorang disebut pahlawan jika memiliki pengorbanan diri, kebajikan, keberanian dan empati terkait kehidupan publik (hlm. 1).
Ada pergeseran cara memandang sosok pahlawan. Bukan hanya tindakan fisik yang dilakukan, tetapi melalui perjuangan simbolik. Akibatnya, sosok seperti Mahatma Gandhi, Nelson Mandela, Marthen Luther King Jr yang berjuang secara simbolik juga dapat disebut sebagai pahlawan.
Pertanyaan utama dalam tulisan ini: apakah seorang pemimpin dapat disebut sebagai pahlawan? Manakah karakter-karakter yang dapat disematkan dalam diri pemimpin? Saya akan menjawab pertanyaan ini dengan memperkenalkan mitos kepahlawanan tentang Leonidas dari zaman Yunani Kuno.
Tesis yang dipertahankan di sini adalah kepahlawanan Leonidas menggambarkan karakter ideal pemimpin yang mengorbankan diri, yang secara serentak diharapkan pandangan tradisional-modern.
Mitos Leonidas
Mitos Yunani mengisahkan tentang kepahlawanan Leonidas, Raja Sparta melawan arogansi Xerxes, Maharaja Persia. Saat itu Xerxes dengan ratusan ribu orang dari seantero Asia hendak menguasai dan menghancurkan negeri kecil Sparta.
Leonidas, berjuang keras demi kepentingan dan keselamatan Sparta. Setelah izinan pencanangan perang ditolak para Ephor, pendeta dan penguasa hukum Sparta yang licik (dibayar oleh Persia), Leonidas bertekad untuk mempertaruhkan nyawanya sendiri demi rakyat kecintaannya.
Leonidas tidak menggunakan kekuasaannya untuk memaksa rakyat agar mengangkat senjata, dan melawan hukum. Leonidas berjuang untuk rakyat dengan caranya sendiri, yakni elegan dan heroik, dengan menghambakan dirinya pada kebebasan hati nurani.
Tiga ratus orang terpanggil dengan bebas mengikuti Leonidas; menyongsong ratusan ribu pasukan Xerxes di Gerbang Panas.
Keajaiban terjadi yakni Leonidas dan tiga ratus orang yang berjuang demi kebebasan berhasil memenangkan pertempuran berpuluh-puluh kali. Ancaman Xerxes justru semakin mempertinggi semangat juang Leonidas.
"Tak ada kemenangan dari pengorbananmu, akan kuhapus nama Sparta dari sejarah, seluruh perkamen Yunani akan dibakar, setiap sejarawan dan penutur Yunani akan dibutakan, serta lidahnya akan dipotong. Dan, menyebut nama Leonidas dan Sparta akan dihukum mati."
Demikianlah satu cuplikan ancaman Xerxes kepada Leonidas, yang menolak tunduk di hadapan raja Persia.
Ancaman Xerxes tidak pernah menyurutkan semangat Leonidas. Karena jumlah mereka sangat sedikit, Leonidas dan para pengikutnya akhirnya mati terbunuh. Namun, gema tentang perjuangan mereka demi kebebasan tetap hidup dan berhasil menginspirasi rakyat Yunani.
Sparta dan Athena yang selama itu terpecah lalu bersatu padu, yang berakhir pada kekalahan Xerxes dan pasukannya.
Kisah Leonidas di atas menunjukkan bahwa ada kebijakan yang lebih elegan pada saat yang genting sekalipun-tanpa penggunaan kekuasaan yang otoriter-untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, tanpa melindas rakyat.
Pemimpin harus menjadi garda terdepan perjuangan demi kepentingan publik, tidak dengan sikap emosional, tetapi kebijakan rasional empatif pada rakyat, dengan kebenaran dan kebebasan sebagai patokan utama.
Dengan kebenaran, seorang pemimpin akan berjuang demi rakyat dengan cara-cara yang bersih, santun, dan berpihak demi kepentingan rakyat.
Sedangkan melalui payung kebebasan, seorang pemimpin mampu membebaskan masyarakat yang dipimpinnya dari ancaman fisik dan batin seperti bebas dari lilitan kemiskinan dan penjajahan (kebebasan negatif) dan bebas untuk berdemokrasi (kebebasan positif).
Kebebasan dan kebenaran itu meluhurkan seorang pemimpin. Leonidas setelah mendengar ancaman mengerikan Xerxes di atas, tak gentar hatinya, lalu menyahut tegas: "Dunia akan tahu bahwa orang bebas dan benar adalah penentang tirani!".
Pengorbanan diri
Apa yang ditunjukkan Leonidas, dalam pengertian Douglas M. Stenstrom dan Mathew Curtis adalah sebentuk “tindakan pengorbanan diri” (martial act). Pemimpin berjiwa pahlawan adalah orang yang dengan penuh kesadaran diri mengorbankan dirinya bagi banyak orang.
Kondisi ideal yang diharapkan dari sosok pemimpin demikian adalah penyerahan dirinya dengan tulus kepada rakyat yang dipimpinnya. Dalam cerita tadi, perjuangan mewujudkan kebenaran-kebebasan muncul dari sikap rela berkorban.
Dalam konteks masa kini, kepahlawanan Leonidas menganjurkan sikap rela berkorban. Rela berkorban berarti rela menerjunkan diri dalam kepentingan rakyat dibandingkan dengan kepentingan pribadi.
Pemimpin yang rela berkorban akan mampu memfokuskan diri untuk mencapai visi kerakyatan secara detail. Sifat rela berkorban ini pun tentunya harus didasari dengan kecerdasan dan kebijakan dari seorang pemimpin.
Pemimpin ideal yang rela berkorban akan mampu mengambil keputusan secara tepat tanpa merugikan rakyat. Karakter kepemimpinan yang mengorbankan diri akan menjadikan rakyat sebagai tolak ukur kebijakannya. Ia bertarung memperjuangkan kepentingan rakyat segiat-giatnya, sampai titik darah penghabisan.
Kepahlawanan Raja Leonidas menyodorkan teladan pengorbanan Leonidas agar rakyat Yunani dapat meraup kebebasan dan kebahagiaan.
Sejarah kemerdekaan Indonesia menyodorkan sikap pemimpin dengan teladan pengorbanan diri: Panglima Besar Sudirman rela ditandu keluar masuk hutan untuk berperang dalam situasinya yang sakit; pahlawan proklamator Soekarno-Hatta keluar-masuk penjara dan diasingkan karena komitmennya memperjuangkan kemerdekaan RI, ataupun para pahlawan perang tanpa nama yang mengorbankan nyawanya melawan penjajah. Semua ini hanya diperoleh dalam sikap rela berkorban yang tulus.
Di tengah akutnya korupsi dan patologi kehidupan bangsa yang terjadi, sosok pemimpin-pemimpin pahlawan yang rela berkorban, di daerah maupun nasional, sangat pantas dikumandangkan di persada nusantara. Pemimpin adalah pahlawan yang berkorban demi rakyatnya!
Penulis adalah wartawan IndonesiaSatu.co, Dosen di Kalbis Institute
Komentar