REFLEKSI Pemimpin Sejati: Bukan Soal Jumlah Pengikut, Tetapi Berapa Pemimpin yang Dibentuknya 26 Sep 2026 22:10
Oleh: Valens Daki-Soo*
Kita sering keliru mengukur atau menilai seorang pemimpin.
Kita menghitung berapa banyak pengikutnya di media sosial, berapa orang yang datang ketika dia memanggil, atau berapa banyak orang yang mengangguk dan bersorak ketika ia berpidato.
Padahal, semua itu lebih menunjukkan popularitas, bukan kualitas kepemimpinan.
Pemimpin sejati bukan terutama dicirikan oleh berapa banyak pengikut yang dimilikinya, tetapi oleh berapa banyak pemimpin baru yang berhasil dibentuknya.
Jika seorang pemimpin mengabaikan kaderisasi, maka patut dipertanyakan, apakah dia benar-benar sedang memimpin atau sekadar sedang memegang jabatan.
Pakar kepemimpinan dunia, John C. Maxwell, memberikan prinsip yang sangat jelas, "The function of leadership is to produce more leaders, not more followers.”
Artinya, fungsi kepemimpinan adalah menghasilkan lebih banyak pemimpin, bukan lebih banyak pengikut.
Pesan Maxwell ini sangat penting. Pemimpin sejati tidak menciptakan ketergantungan. Ia justru membangun kemandirian. Ia tidak membuat orang terus menunggu perintah, tetapi membentuk orang yang mampu berpikir, mengambil keputusan, memikul tanggung jawab dan pada waktunya memimpin orang lain.
Oleh karenanya, seorang pemimpin yang hebat tidak takut melahirkan pemimpin baru. Ia tidak merasa terancam ketika kader yang dibinanya semakin cakap, semakin mandiri, bahkan mungkin suatu hari lebih hebat darinya.
Justru di situlah kebesaran seorang pemimpin diuji.
Jika Tak Ada Kader, Anda Hanyalah Pejabat
Mari kita jujur melihat realitas di sekitar kita -- di organisasi, perusahaan, lembaga keagamaan, pemerintahan, maupun institusi lainnya.
Ada orang yang memegang jabatan tinggi bertahun-tahun. Dia sangat berkuasa. Hampir semua keputusan harus melalui dirinya. Semua orang menganggap dan menyebutnya pemimpin.
Namun ketika tiba saatnya ia turun, pensiun atau pindah tugas, organisasi itu kelabakan. Tidak ada kader yang benar-benar siap melanjutkan. Yang ada hanya banyak pengikut yang terbiasa menunggu perintah, tetapi sedikit orang yang mampu mengambil inisiatif dan memimpin.
Jika itu yang terjadi, maka saya harus katakan secara jujur: Anda memang pejabat tinggi, tetapi belum tentu pemimpin sejati.
Sebab, jabatan memberikan kewenangan, tetapi kepemimpinan membangun manusia. Pemimpin sejati tidak sekadar meninggalkan kursi yang kosong. Ia meninggalkan kader-kader yang siap melanjutkan perjuangan, nilai dan cita-cita organisasi.
Tokoh kaderisasi di NU, Prof. Dr. KH. Tholchah Hasan, pernah memberikan tolok ukur yang keras mengenai pentingnya kaderisasi, “Masa dua periode sudah cukup untuk melakukan kaderisasi. Jika setelah dua periode tidak muncul pemimpin baru berarti dia telah gagal melakukan kaderisasi dan tidak layak untuk dipilih kembali.”
Pesannya jelas. Masa kepemimpinan tidak semestinya hanya digunakan untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi juga untuk menyiapkan regenerasi.
Regenerasi Bukan Sekadar Pergantian Jabatan
Regenerasi bukan sekadar mengganti seseorang dari satu jabatan dengan orang lain.
Regenerasi bukan sekadar pergantian jabatan, melainkan proses pewarisan nilai, cara berpikir dan strategi pergerakan yang tetap berpijak pada tujuan dasar organisasi. Inilah hakikat kaderisasi.
Kaderisasi bukan bagi-bagi posisi. Kaderisasi adalah pewarisan nilai, pengetahuan, pengalaman, visi dan tanggung jawab, sekaligus memberikan ruang kepada generasi berikutnya untuk tumbuh. Karena itu, seorang pemimpin sejati bukan hanya leader, tetapi juga mentor bagi calon pemimpin.
Dia tidak hanya bertanya, “Apa yang sudah dikerjakan orang-orang saya?” Ia juga bertanya, “Apa yang sudah saya ajarkan kepada mereka?” Ia tidak hanya memikirkan keberhasilan ketika dirinya masih menjabat, tetapi juga apa yang terjadi setelah dirinya tidak lagi berada di sana.
Pemimpin yang baik membangun rantai kepemimpinan. Pemimpin melahirkan pemimpin, dan pemimpin yang dilahirkan itu kemudian melahirkan pemimpin-pemimpin berikutnya. Jika rantai ini terus berjalan, organisasi akan memiliki masa depan.
Sebaliknya, jika rantai itu putus di tangan seorang pemimpin, masa depan organisasi ikut dipertaruhkan.
Ukuran Pemimpin Sesungguhnya
Saya sering menggunakan perumpamaan sederhana tentang pohon kelapa.
Pohon kelapa yang baik bukan hanya pohon yang menghasilkan buah banyak. Pohon itu juga menghasilkan biji yang dapat tumbuh menjadi pohon-pohon kelapa baru.
Begitu pula pemimpin. Jangan terlalu bangga memiliki ribuan pengikut yang memuji dan mengagumi Anda. Banggalah jika di belakang Anda berdiri pemimpin-pemimpin baru yang mampu bekerja, berpikir dan mengambil tanggung jawab -- bahkan mungkin lebih hebat daripada Anda.
Keberhasilan seorang pemimpin tidak berhenti pada apa yang dia kerjakan sendiri. Keberhasilannya berlanjut melalui orang-orang yang pernah dibentuk dan ditempanya.
Tentu saja, setiap pemimpin akan turun dari panggung. Jabatan akan berakhir. Kekuasaan akan berpindah. Waktu terus berjalan.
Pertanyaan ini sederhana tapi penting dan mendasar. Ketika Anda turun nanti, siapa yang akan melanjutkan?
Jika jawabannya tidak ada, mungkin sudah waktunya berhenti mengejar pengikut dan mulai mencetak pemimpin.
Sebab, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah berapa lama ia memegang jabatan atau berapa banyak orang yang pernah mengikutinya.
Warisan terbesar seorang pemimpin sejati adalah berapa banyak pemimpin berintegritas yang lahir dari proses kepemimpinannya.
Lalu ketika para pemimpin yang pernah kita bentuk kemudian mampu melahirkan pemimpin-pemimpin baru lagi, di situlah kepemimpinan kita benar-benar hidup jauh melampaui masa jabatan bahkan masa hidup kita.
*) Penulis adalah entrepreneur dan politisi, peminat psikologi; Pendiri dan CEO PT Veritas Dharma Satya, PT Veritas Media Bangsa, Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus" (VDS Group)
Komentar