KULINER Asyik! Pemprov NTT Siapkan 10 Restoran Flobamora, Bali Jadi Lokasi Perdana 02 Jun 2025 09:55
Restoran Flobamora menjanjikan lebih dari sekadar pengalaman makan. Ia hadir sebagai wajah kuliner dan semangat kewirausahaan khas timur Indonesia. Sebuah langkah strategis dari NTT untuk menjangkau lidah dan hati nusantara.
KUPANG, IndonesiaSatu.co – Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (Pemprov NTT) mengumumkan rencana ambisius membangun jaringan 10 Restoran Flobamora di berbagai kota besar Indonesia. Bali akan menjadi titik awal realisasi proyek ini, yang dirancang sebagai etalase kekayaan kuliner dan budaya NTT.
"Restoran Flobamora akan kami hadirkan sebagai wajah NTT di luar daerah. Target awalnya adalah sepuluh kota besar, dimulai dari Bali," ujar Gubernur NTT Melki Laka Lena saat peluncuran dua buku 100 Hari Kerja Melki-Johni di Aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Jumat (30/5/2025) malam.
Restoran Flobamora dirancang tak hanya menyajikan aneka hidangan khas NTT—seperti se’i sapi, jagung bose, dan daging lidah asap—tetapi juga menjadi pusat promosi budaya, pariwisata, serta produk lokal unggulan dari berbagai desa di NTT.
Bukan Sekadar Restoran, Tapi Pusat Ekonomi Kreatif Daerah
Tak hanya restoran, dalam pengembangan kawasan promosi ini, Pemprov NTT juga akan menghadirkan Kantor Kas Bank NTT serta pusat investasi dan promosi pariwisata. Seluruh infrastruktur tahap awal ditargetkan mulai dibangun pada Agustus 2025, dimulai dari Bali.
“Nanti akan ada tiga pilar: restoran, kantor kas, dan pusat promosi. Ini akan jadi contoh, selanjutnya kami serahkan kepada swasta untuk replikasi dan pengembangannya,” kata Melki, yang juga merupakan kader Partai Golkar.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Pemprov NTT untuk mengangkat potensi daerah lewat program One Village, One Product (OVOP) yang kini dikembangkan baik secara digital maupun fisik di luar NTT.
Merekam Langkah Awal Melki-Johni dalam Dua Buku
Pada kesempatan yang sama, Gubernur Melki juga meluncurkan dua buku yang mendokumentasikan capaian 100 hari pertama kepemimpinannya bersama Wakil Gubernur Johni Asadoma. Buku tersebut memuat catatan perjalanan mereka menjelajah berbagai pelosok NTT, menyerap langsung aspirasi masyarakat, serta membangun fondasi program prioritas.
“Kenapa 100 hari kerja ini kami bukukan? Agar perjalanan awal kami bisa didokumentasikan dengan baik, mudah dipahami, dan jadi pegangan ke depan,” ucap Melki.
Salah satu fokus utama dalam buku itu adalah penguatan ekonomi desa lewat program OVOP, yang kini telah menghasilkan 44 produk unggulan lokal, dan akan terus dikembangkan agar setiap desa di NTT punya identitas produk sendiri. ***
--- Sandy Javia
Komentar