REFLEKSI Pilihan di Tangan Anda 22 Sep 2023 10:02
Sebagai 'arsitek', kita berhak dan bisa mengubah nasib dan meningkatkan mutu kehidupan pribadi.
Oleh Valens Daki-Soo
Ungkapan bijak ini patut direfleksikan, "You are the architect of your own life." Benar, kitalah 'arsitek' yang berhak mendisain postur, model dan rencana hidup kita dalam upaya mewujudkan impian atau cita-cita. Sebagai 'arsitek' kehidupan sendiri, kita berhak dan bisa menentukan relasi-relasi yang ingin dibangun, jenis pekerjaan yang hendak dilakoni, dan peran dalam ruang sosial (juga politik dan sebagainya) yang mungkin bisa kita mainkan.
Jennifer Foster dalam artikel berjudul "You Are The Architect Of Your Future," menulis, bila ada orang yang percaya bahwa bahwa masa depan telah ditentukan dan ditakdirkan, itu tidak lebih dari sebuah penolakan. Ini hanyalah sebuah cara untuk membenarkan hal-hal dalam hidup mereka yang tidak berjalan sesuai rencana.
Menurut Foster, meskipun kita tidak dapat mengendalikan segala sesuatu yang menghadang jalan hidup kita atau berharap untuk melewati setiap rintangan yang menghalangi kita mencapai kesuksesan, kita dapat memilih bagaimana merespons setiap hambatan tersebut. Hal ini karena, pada kenyataannya, setiap orang adalah arsitek nasibnya sendiri. Arsitek adalah orang yang mengambil visi atau pemikiran dan mewujudkannya menjadi kenyataan.
Seperti yang dikatakan oleh siapa pun di bidang konstruksi, merancang rencana adalah salah satu bagian tersulit dari keseluruhan proses. Mengapa? Terutama karena arsitek harus menemukan cara untuk mewujudkan impiannya, terlepas dari semua faktor realitas yang berperan.
"Mulailah merancang rencana yang akan membawa Anda dari tempat Anda sekarang ke tempat yang Anda inginkan!" tulis Foster
"Jadi mulailah hari ini, dengan menerima posisi hidup Anda dan bertindak seolah-olah Andalah yang menentukan takdir Anda."
Bertolak dari filsafat dan Vedanta, Swami Sivananda dalam artikelnya berjudul "YOU ARE THE MASTER OF YOUR DESTINYA," berpendapat, Anda adalah arsitek nasib Anda sendiri. Anda adalah penguasa nasib Anda sendiri. Anda dapat melakukan dan membatalkan sesuatu. Anda menabur tindakan dan menuai kecenderungan. Anda menabur kecenderungan dan menuai kebiasaan.
Anda menabur kebiasaan dan menuai karakter Anda. Anda menabur karakter Anda dan menuai takdir Anda. Oleh karena itu, takdir adalah ciptaan Anda sendiri. Anda dapat membatalkannya jika Anda menyukai takdir yang merupakan sekumpulan kebiasaan.
"Oleh karena itu, latihlah dirimu dengan gigih, wahai Prema, pada penyelidikan dan meditasi Atma. Waspada dan rajin. Bunuh pikiran dan keinginan. Atasi kejahatan hari esok dengan pengerahan diri hari ini. Hancurkan nafsu yang tidak suci (Asubha Vasanas) melalui nafsu yang suci (Subha Vasanas). Bunuhlah pikiran-pikiran yang tidak suci dengan pikiran-pikiran yang suci, dan raihlah kemenangan atas takdirmu."
"Jangan menyerah pada fatalisme. Jangan menjadi impoten. Berdirilah seperti singa. Berusahalah dan raih kemandirian atau Atma Svarajya. Ada majalah kekuatan di dalam diri Anda. Ada lautan pengetahuan yang luas di dalam diri Anda. Semua kemampuan bersifat laten di dalam diri Anda. Buka lipatannya dan jadilah Jivanmukta (jiwa yang terbebaskan)."
Sebagai 'arsitek', kita berhak dan bisa mengubah nasib dan meningkatkan mutu kehidupan pribadi.
Tak peduli apapun situasi hidup Anda hari kemarin, Anda berhak lebih bahagia dan makin maju hari ini.
Pilihan itu ada di tangan (baca: hati dan pikiran) Anda, bukan orang lain, entah orang tua, rohaniwan, ilmuwan, psikolog, politisi -- ya, siapapun.
Jika Anda tak ingin berubah, tak satu makhluk pun yang dapat membantu. Bahkan rahmat Tuhan hanya efektif jika kita terbuka dan bekerja aktif.
Tentu saja, sebagai "ens sociale" (makhluk sosial) yang hidup dalam koeksistensi dengan makhluk lain, dan "homo religiosus" (makhluk religius) yang menyadari dan mengakui adanya "Ada Tertinggi" (The Supreme Being) yang kita sebut Tuhan -- dan berbagai sapaan dalam aneka bahasa -- kita tahu dan yakin, kita tidak berjuang sendirian.
Kita bukan "arsitek tunggal", ada banyak "co-architect", para rekan arsitek kehidupan: mereka yang membantu dan mendukung kemajuan hidup kita.
Dan, di atas segalanya, ada Sang Arsitek Agung, Sang Khalik, yang tak pernah berhenti menghujani Anda dengan rahmat-Nya, dengan Daya Ilahi-Nya.
Tetaplah menjadi pribadi bahagia. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar