Breaking News

KESEHATAN Prof Tjandra: Tujuh Hal Penting Tentang Peningkatan COVID-19 di Singapura 22 May 2024 14:22

Article image
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Ist)
Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, sehubungan dengan berita kasus COVID-19 di Singapura itu, ada tujuh (7) hal yang dapat disampaikan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kasus Covid-19 yang sedang melonjak drastis di Singapura pasti akan masuk ke Indonesia dalam waktu dekat.

Pasalnya, Indonesia dan Singapura adalah negara tetangga, yang warganya juga sering bolak balik Indonesia-Singapura.

"Karena Singapura tetangga ya dan traffic-nya antara Singapura dan Indonesia juga cukup tinggi, saya rasa sih pasti akan masuk ke Indonesia yang PK ya, kalau enggak salah variannya," ujar Budi saat ditemui di Gedung DPR, Selasa (21/5/2024).

Namun, Budi memaparkan, berdasarkan review sementara terkait varian Covid-19 di Singapura, tingkat penularan dan kematiannya sangat rendah.

Karena itu, dirinya yakin jika kasus Covid-19 di Singapura ini masuk ke Indonesia, pasti tidak mengkhawatirkan.

Apalagi, kata Budi, sebagian besar masyarakat Indonesia sudah disuntik vaksin Covid-19.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, sehubungan dengan berita kasus COVID-19 di Singapura itu, ada tujuh (7) hal yang dapat disampaikan.

“Pertama, COVID 19 memang masih bersama kita, dan tentu mungkin saja kasusnya pada waktu-waktu tertentu akan naik dan lalu turun lagi, sama seperti penyakit menular pada umumnya,” ujarnya melalui pernyataan pers di Jakarta, Rabu (22/5).

Kedua, untuk COVID-19, memang akan ada varian baru dari waktu ke waktu, baik sekarang maupun di masa waktu ke depan.

Ketiga, kejadian kenaikan kasus di Singapura saat ini terjadi karena galur virus jenis KP1 dan KP2, yang merupakan kelompok dari subvarian JN.1 yang merupakan bagian dari Omicron.

Keempat, secara umum di dunia sekarang memang virus COVID-19 yang sedang dominan adalah varian Omicron, sub varian JN.1 dengan galurnya, termasuk KP.1 dan KP.2.

“Keduanya ini dikelompokkan pula dengan nama panggilan (nicknamed) 'FLiRT', sesuai dengan istilah tehnis mutasi yang terjadi,” katanya.

Kelima, KP2 ternyata lebih mudah menular daripada KP1, dan KP2 ini sudah dikategorikan sebagai variant under monitoring (VOM) oleh WHO.

Keenam, kasus yang ada sejauh ini adalah ringan. “Tidak ada dampak berarti pada perawatan di rumah sakit dan apalagi ICU. Karena itu, nampaknya akan dapat dikendalikan dengan baik dan akan turun lagi sesudah puncak kasusnya tercapai. Sekali lagi kasusnya umumnya adalah ringan,” ujar Prof Tjandra.

Ketujuh, sehubungan kejadian di Singapura ini maka untuk warga Indonesia ada 3 hal yang tetap perlu dilakukan.

Pertama, mengikuti dengan seksama peningkatan kasus di Singapura, dan juga di negara lain, seperti terjadi juga di India dll.

Kedua, tetap memonitor ketat adanya varian dan sub varian COVID-19 bersama turunannya di negara kita. “Baik kalau kini diinformasikan ke publik tentang sudah ada atau tidak Virus COVID-19 KP 1 dan KP 2 di negara kita, dan kalau ada maka di daerah mana,” katanya.

“Ketiga, ada tidaknya peningkatan kasus COVID-19 maka kita semua perlu selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, serta memberi prioritas penting bagi kesehatan kita dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.

 

 

--- F. Hardiman

Komentar