Breaking News

INTERNASIONAL Puluhan Juta Pria Dewasa China Masih Jomblo, Mengapa? 18 Feb 2017 10:43

Article image
Ada jutaan laki-laki di China yang terpaksa berstatus jomblo pada umur di atas 30 tahun. (Foto: businessinsider.com)
Dengan jumlah perempuan yang lebih sedikit, para laki-laki harus berjuang keras untuk mendapatkan cinta seorang perempuan. Tak mengherankan, agen dan acara perjodohan bertumbuh subur di China.

FILOSOFI “jodoh tidak perlu dikejar, jodoh tidak ke mana-mana, dan jodoh akan datang sendiri” tampaknya berlaku bagi kaum perempuan di China. Sebaliknya, bagi kaum laki-laki, jodoh harus dikejar dengan perjuangan dan kerja keras. Kesenjangan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di China adalah alasannya. Hal ini menjadi persoalan besar yang sulit diatasi.

Di China, jumlah penduduk laki-laki lebih banyak dari perempuan. Perbedaan jumlah mencapai puluhan juta orang. Akibatnya, ada jutaan laki-laki yang terpaksa berstatus jomblo pada umur di atas 30 tahun.

Ketimpangan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan di China sebagaimana dilansir BBC News (14/2/2017), terjadi akibat kebijakan satu anak bagi setiap keluarga. Lebih banyak keluarga menghendaki memiliki anak laki-laki ketimbang anak perempuan.

Hingga tahun 2020, kelebihan jumlah penduduk perempuan dari laki-laki akan mencapai 30 juta orang.  Ahli ekonomi politik Amerika Serikat Nicholas Eberstadt dalam bukunya berjudul “Demographic Future” memperkirakan, menjelang tahun 2030 seperpempat laki-laki di China yang berumur di atas 30 tahun tidak mendapat pasangan alias bujang lapuk.

Dengan jumlah perempuan yang lebih sedikit, para laki-laki harus berjuang keras untuk mendapatkan cinta seorang perempuan. Tak mengherankan, agen dan acara perjodohan bertumbuh subur di China.

99 iPhones

Pada 2015, seorang pengusaha Shanghai berumur 40-an tahun mengaku sudah mengeluarkan uang sebesar 7 juta yuan atau sekitar 1 juta dolar AS tapi biro jodoh yang dibayarnya gagal mendapatkan istri buatnya.

Kasus lain, seorang programer komputer dari bagian selatan kota Guangzhou harus membeli 99 iPhones sebagai upaya mengelaborasi proposal perkawinannya kepada pacarnya. Sayangnya, yang ia dapatkan hanyalah kekecewaan dan cemoohan karena foto-fotonya tersebar luas di media sosial.

Upaya perjodohan, baik dengan cara lama maupun cara modern tidak selalu membuahkan hasil. Salah satu cara lama untuk mendapatkan jodoh adalah dengan menghadiri Tahun Baru China. Karena pada moment seperti ini banyak anggota keluarga dan teman berkumpul. Saat seperti ini berpotensi bagi kaum laki-laki China menemukan jodoh.

Dengan semakin maju teknologi informasi, perjodohan online pun berkembang pesat. Aplikasi perjodohan yang sekarang sedang menjadi trend di China adalah WeChat.  

“Kencan di China sedang berkembang pesat, lebih terbuka dan lebih familiar sebagaimana yang terjadi di dunia Barat beberapa tahun terakhir,” kata Jun Li.

“Generasi muda memiliki lebih banyak pilihan dan mereka lebih mengikuti kata hari mereka dibandingkan orang tua.”

Tradisi “Ekonomi Mertua”

Segudang cara untuk menghubungkan pasangan di era modern ini, di antaranya lewat biro atau aplikasi perjodohan. Jun Li, dari Suzhou di Provinsi Jiangsu, di pantai tengah China timur masih gadis berumur 20-an tahun. Dia menjadi incaran banyak lelaki yang ikut dalam acara perjodohan di televisi.

Banyak lelaki yang harus berkonsultasi kepada para psikolog dan ahli mode untuk membuat mereka lebih menarik. Dan untuk mengelabui orang tua yang rewel bertanya tentang sang calon permaisuri, mereka terpaksa membayar “pacar bohong” yang mereka dapatkan dari berbagai aplikasi yang tersedia, seperti Hire Me Plz. . Diberitakan,  uang yang harus dikeluarkan untuk membayar pacar bohong bisa mencapati 10.000 yuan atau 1.450 dolar AS per hari.

Masalah utama bagi kaum lelaki untuk mendapatkan jodoh, terutama di perkotaan adalah adanya tradisi bahwa suami harus bisa aman secara finansial sebelum mereka menikah.

Hong Yang (30-an), yang saat ini sudah menikah menjelaskan tentang “mother-in-law economics” (ekonomi mertua).

“Bila kaum lelaki ingin menikah, yang pertama harus mereka penuhi adalah permintaan mertua untuk dibelikan sebuah rumah sebelum bicara langkah-langkah pernikahan selanjutnya. Ini menjadi satu alasan mengapa harga rumah menjadi mahal pada tahun-tahun belakangan ini,” katanya.

Tetapi beban keuangan bagi kaum lelaki juga yang membuat banyak perempuan kesulitan untuk mendapatkan pasangan. Selain itu, kebanyak kaum lelaki China mencari pasangan dengan perbedaan umur 10-20 tahun lebih muda dari mereka.

"Sulit bagi kaum perempuan untuk menemukan pasangan yang pas bila mereka sudah berumur 32 tahun,” ujar Hong Yang.

“Kebanyakan  para lelaki China ingin menikahi perempuan yang lebih muda dan cantik.”

Sementara kaum perempuan lebih memilih calon suami yang stabil secara finansial yang barang tentu dan umumnya umurnya lebih tua, demikian penjelasan para pakar.

Tekanan Orang Tua

Roger Zhou (39), yang sudah menikah dan tinggal di Suzhou mengatakan, orang tua menjadi sumber tekanan yang besar bagi anak. Mereka berharap anaknya segera mendapatkan pasangan.

“Orang tua berpikir mereka bertanggung jawah membantu anak-anak mereka yang sudah dewasa untuk segera berkeluarga,” katanya.

“Karena itu mereka mendesak anak-anak mereka untuk mendapatkan pasangan, bertunangan, dan siap menikah”.

--- Simon Leya

Komentar