Breaking News

REFLEKSI Refleksi Kecil Tentang Puasa 22 Feb 2023 20:10

Article image
Ilustrasi penerimaan abu. (Foto: Franciscan Media)
Semoga kita, khususnya yang Katolik/Kristiani, menjadi manusia-manusia yang lebih baik, lebih "punya hati", lebih peka akan penderitaan sesama, berbela rasa dengan mereka yang hidup susah dan terpinggirkan.

Oleh Valens Daki-Soo

 

HARI ini adalah "Rabu Abu" dalam tradisi Gereja Katolik, penanda dimulainya masa puasa/prapaskah yang berlangsung selama 40 hari. Ada banyak kisah dalam kitab suci yang berhubungan dengan angka 40.

Musa berada di Gunung Sinai menerima petunjuk dari Yahwe selama empat puluh hari empat puluh malam (lihat Kel 24:18); Nuh dan rombongannya berada di Bahtera menunggu hujan berhenti selama empat puluh hari empat puluh malam (Kej 7:4); dan Elia “berjalan empat puluh hari empat puluh malam ke gunung Allah, Horeb” (1 Raj 19:8).

Namun, sebagian besar masa Prapaskah 40 hari dihubungkan dengan waktu yang Tuhan Yesus habiskan di padang pasir untuk berpuasa, berdoa dan dicobai oleh iblis (Mat 4:1-11). “Dengan empat puluh hari Prapaskah yang khusyuk, Gereja menyatukan dirinya setiap tahun dengan misteri Yesus di padang gurun” (Katekismus, No. 540).

Puasa itu punya banyak manfaat dan tujuan, termasuk dari sisi medis dan psikologis/psikiatris: membantu pemulihan diri dan kesehatan jiwa-raga. Puasa pun bisa dimengerti sebagai praktik spiritual untuk belajar pengendalian diri, pembersihan hidup kita dari elemen-elemen negatif akibat dosa dan segala macam ketidakteraturan, ketidakselarasan, ketidakseimbangan.

Dari sudut teologis, puasa lebih dimaknai sebagai salah satu cara "pertobatan sejati" setiap kita sebagai pribadi. Juga dipahami sebagai wujud bela rasa dengan sesama yang susah dan menderita.

DD Emmons, seorang penulis dari Pennsylvania menulis, awalnya, orang berpuasa selama 40 hari selama masa Prapaskah hanya makan satu kali sehari dan hanya sejumlah makanan yang dapat menopang kelangsungan hidup.

Tetapi Gereja mengajarkan, dan orang-orang percaya (dulu seperti sekarang), bahwa puasa bukanlah tentang apa yang kita makan, tapi  tentang mengubah hati, pertobatan batin, rekonsiliasi dengan Tuhan dan sesama.

Puasa  adalah tentang hidup dengan cara yang keras, memberi dari kelimpahan kita kepada orang miskin.

St Yohanes Chrisostomus (347-409) menjelaskannya seperti ini: “Apakah Anda berpuasa? Beri saya buktinya dengan karya Anda!… Jika Anda melihat orang miskin, kasihanilah dia! Jika Anda melihat musuh, berdamailah dengannya! Jika Anda melihat seorang teman mendapatkan kehormatan, jangan iri padanya! Jika Anda melihat seorang wanita cantik, lewati dia! (Homili Statuta, III.11).

 

Makna Abu

Gereja telah lama menggunakan abu sebagai tanda kesedihan, tanda kerendahan hati, duka, penebusan dosa dan moralitas. Perjanjian Lama dipenuhi dengan kisah-kisah yang menggambarkan penggunaan abu sedemikian rupa.

Dalam Kitab Ayub, Ayub bertobat di hadapan Tuhan: “Oleh karena itu, aku mengingkari apa yang telah kukatakan, dan bertobat dalam debu dan abu” (42:6).

Daniel “berpaling kepada Tuhan Allah, untuk mencari pertolongan, dalam doa dan permohonan, dengan puasa, kain kabung, dan abu” (Dan 9:3).

Yunus mengkhotbahkan pertobatan kepada orang-orang Niniwe: “Ketika berita itu sampai kepada raja Niniwe, ia bangkit dari singgasananya, meletakkan jubahnya, menutupi dirinya dengan kain goni, dan duduk di atas abu” (Yun 3:6).

Dan pasukan Makabe bersiap untuk berperang: “Pada hari itu mereka berpuasa dan mengenakan kain kabung; mereka memercikkan abu ke kepala mereka dan merobek pakaian mereka” (1 Mc 3:47).

Jadi, yang terpenting bukanlah abu di dahimu, meski itu baik sebagai simbol pertobatan dan kesadaran diri sebagai manusia yang rapuh sehingga butuh pertolongan dan keselamatan dari Tuhan. Yang paling mendasar maknanya adalah kesadaran dan kesediaan kita untuk memulihkan relasi dengan Tuhan, sesama dan alam semesta.

Semoga kita, khususnya yang Katolik/Kristiani, menjadi manusia-manusia yang lebih baik, lebih "punya hati", lebih peka akan penderitaan sesama, berbela rasa dengan mereka yang hidup susah dan terpinggirkan.

Semoga kita hidup sesuai dengan kehendak Ilahi.

 

Penulis adalah peminat filsafat-Teologi dan psikologi

 

Komentar