Breaking News

REGIONAL Sebut Politik sebagai Jalan Perutusan, Nando Watu: Esensinya Kemanusiaan, Keadilan dan Bonum Commune 08 Jul 2024 23:13

Article image
Para peserta Ende Youth Camp 2024 yang tergabung dalam kelompok minat Politik berfoto bersama Pemateri, Nando Watu (tengah) usai memgikuti materi
Jika politik dimaknai secara benar, maka niscaya akan lahir perubahan-perubahan berarti, meski dari hal-hal kecil. Karena itu, orang muda jangan takut berpolitik," kata Nando memotivasi.

ENDE, IndonesiaSatu.co-- "Politik merupakan cerminan Panggilan sekaligus Perutusan ketika seseorang berani meninggalkan zona nyaman (comfort zone) di lingkungan kerjanya untuk langsung terlibat dalam sistem kebijakan. Esensi mendasar dari setiap kebijakan politik adalah Kemanusiaan, Keadilan dan Kesejahteraan atau kebaikan bersama (bonum commune)."

Demikian hal itu diungkapkan Ferdinandus Watu, S.Fil, saat membawakan materi "Orang Muda dan Politik" bagi para peserta Ende Youth Camp 2024 yang berminat di bidang politik.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Komisi Kepemudaan Kevikepan Ende, Keuskupan Agung Ende (KAE) sejak 5-7 Juli 2024 itu berpusat di pusat perkemahan Resetlemen, Stasi Wologai, Paroki Santo Yosef Detusoko, Kevikepan Ende, Keuskupan Agung Ende.

Kegiatan bertema "Inilah Aku, Utuslah Aku" tersebut diikuti oleh perwakilan peserta dari 34 Paroki dari total 39 Paroki se-Kevikepan Ende.

Dalam presentasinya, Nando Watu dengan luwes mengantar para peserta memahami materi dengan metode fasilitasi, dialog, sharing pengalaman hingga menggali pemahaman dan motivasi peserta tentang politik.

Disaksikan media ini, setelah melewati beberapa proses, Nando Watu lalu memberi pemahaman tentang arti dan hakikat politik, landasan biblis (teologi-kontekstual) tentang gerakan "politik" Yesus, dialog interaktif soal apakah Gereja boleh berpolitik, serta eksistensi Orang Muda Katolik (OMK) dalam realita politik kekinian.

"Dalam bingkai Orang Muda Katolik, teladan gerakan Yesus harus selalu menjadi dasar pijak dan cerminan sikap (etika), termasuk dalam konteks politik. Dalam setiap karya pewartaan, Yesus selalu membawa misi kemanusiaan Universal, Keadilan serta kebaikan bersama (bonum commune). Itulah esensi dan hakikat politik sesungguhnya," kata mantan Kepala Desa Detusoko Barat yang mampu membawa Desanya mendapat penghargaan di level nasional itu.

Alumni STFK (sekarang IFTK) Ledalero dan Anggota Penyatu PMKRI Cabang Maumere itu mengatakan bahwa pada prinsipnya, apa pun jabatan politik dan birokrasi, perlu dimaknai sebagai sarana dan jembatan untuk mewujudkan ketiga hal mendasar di atas.

"Sebagai kader Gereja yang pernah belajar dan dibesarkan dari wadah Organisasi (PMKRI, red), saya menyadari dan meyakini bahwa politik adalah jalan panggilan dan juga perutusan ketika diberi kepercayaan oleh masyarakat," katanya.

Menurut Anggota DPRD Ende Terpilih periode 2024-2029 dari partai PDI Perjuangan Dapil IV itu, dirinya selalu terinspirasi oleh nilai-nilai perjuangan Gereja, aspek kemanusiaan, juga nilai-nilai luhur yang diajarkan di PMKRI dengan semboyan "Untuk Gereja dan Tanah Air (Pro Ecclesia et Patria) dan spirit Tiga Benang Merah; Kristianitas, Intelektualitas dan Fraternitas.

"Tiga Benang Merah akan selalu menjadi spirit dan inspirasi. Tiga spirit itu menegaskan identitas (jati diri) dengan nilai-nilai universal, rasionalitas dalam menyingkapi realita sosial, serta prisip kebersamaan dalam kemajemukan," ungkap Politisi muda yang mendirikan Remaja Mandiri Community (RMC) Detusoko itu.

Nando yang pernah menimba ilmu tentang pariwisata berkelanjutan di Florida, Amerika Serikat itu, dalam sharing singkat keterlibatannya pada Pileg 2024 kemarin, kembali meyakini bahwa politik adalah panggilan dan perutusan.

"Ketika dipercaya oleh masyarakat, saya menyadari bahwa saya dipanggil untuk menjadi penyambung suara rakyat di lembaga legislatif dan selanjutnya diutus ke tengah masyarakat untuk mendengar, menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat," ujarnya.

Nando juga menyinggung soal tantangan bonus demografi yang akan dihadapi oleh angkatan kerja aktif, termasuk orang muda yang menjadi bagian dari entitas politik.

"Sadar atau tidak, suka atau tidak suka, kita adalah bagian dari entitas politik yang cenderung berhadapan dengan realita sosial, kebijakan-kebijakan politik, hingga pilihan politik. Jika politik dimaknai secara benar, maka niscaya akan lahir perubahan-perubahan berarti, meski dari hal-hal kecil. Karena itu, orang muda jangan takut berpolitik," kata Nando memotivasi sembari mengarahkan peserta pada Rekomendasi akhir sebagai Rencana Tindak Lanjut (RTL).

Diketahui, Panitia Ende Youth Camp (EYC) mengelempokkan peserta ke dalam 4 kelompok peminatan; yakni Kewirausahaan, Pariwisata, Peternakan dan Politik.

Masing-masing kelompok peminatan mendapatkan materi dari para Narasumber yang berkompeten di bidangnya masing-masing.

--- Guche Montero

Komentar