Breaking News

TAJUK Tenang di Era Digital 09 Mar 2026 04:51

Article image
Kita harus tetap berusaha sadar dan reflektif dalam bermedia di era digital. (Foto: Ist)
Tenang di era digital bukan berarti menjauh dari teknologi, melainkan bijak dalam memilih apa yang layak diikuti, sehingga hidup lebih seimbang dan fokus pada hal-hal yang memberi makna.

Kemajuan teknologi informasi dari teknologi tradisional ke teknologi modern membawa berbagai manfaat positif dan negatif dalam kehidupan sehari-hari. 

Di satu sisi, teknologi informasi mempermudah komunikasi dan penyebaran informasi dengan cepat, misalnya melalui internet, media sosial, dan perangkat digital sehingga orang dapat belajar, bekerja, dan berbisnis lebih efisien. 

Namun, di sisi lain, perkembangan teknologi digital—terutama media sosial—dapat menimbulkan dampak negatif. Salah satunya adalah fenomen Fear of Missing Out (FOMO). FOMO adalah perasaan cemas atau takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang dilakukan orang lain.

FOMO dapat meningkatkan kecemasan karena merasa selalu tertinggal dari aktivitas orang lain di media sosial, menurunnya kepercayaan diri akibat sering membandingkan diri dengan kehidupan yang terlihat lebih menarik, serta berkurangnya fokus dan produktivitas karena terlalu sering memeriksa ponsel atau aplikasi.

Selain itu, FOMO juga dapat menyebabkan gangguan tidur, kelelahan mental, dan ketergantungan pada media sosial, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kesehatan mental serta kualitas hubungan sosial di kehidupan nyata.

FOMO sebenarnya berasal dari “hasrat paling purba manusia untuk mengetahui”. Filsuf besar Yunani kuno Aristoteles meringkasnya dalam karyanya Metaphysics: “All men by nature desire to know.” 

Artinya, manusia secara kodrati memiliki rasa ingin tahu dan dorongan alami untuk memahami dunia melalui indra, pengalaman, dan penalaran. Dorongan ini membuat manusia selalu ingin mengetahui apa yang terjadi di sekitarnya. Ini adalah dorongan yang wajar, normal bagi manusia untuk bertumbuh dalam kapasitas pengalaman akademik. 

Namun, dalam konteks fenomen FOMO, manusia tidak mampu mengendalikan hasrat ingin tahunya. Ia memiliki kecenderungan alami untuk tidak tertinggal informasi, sehingga ketika ada sesuatu yang terjadi tanpa mereka ketahui, muncul ketidaknyamanan atau kecemasan psikologis. Padahal sebenarnya ia larut dalam arus kecepatan informasi, sehingga tidak sempat menuju kedalaman refleksi dan analisis. 

Di media sosial, dorongan untuk mengetahui ini semakin diperkuat oleh arus informasi yang terus-menerus, sehingga berubah menjadi ketakutan ketinggalan berita, tren, pengalaman, atau aktivitas orang lain.

Maka, untuk mengatasi FOMO harus dimulai dari latihan mengelola kesadaran atau mengelola hasrat purba manusia untuk mengetahui. Dengan rutin melatih kesadaran ini, kita belajar menerima bahwa tidak setiap hal perlu diikuti, dan kebahagiaan tidak bergantung pada semua yang terjadi di luar diri.

Gabriel Marcel, seorang filsuf eksistensialis Prancis, menekankan pentingnya “having” dan “being” dalam kesadaran manusia. Menurut Marcel, hidup yang terfokus pada having—yakni kepemilikan, status, atau hal-hal materi—sering menimbulkan kecemasan dan rasa kehilangan makna, yang mirip dengan fenomen FOMO. 

Sebaliknya, menurut Marcel, being menekankan keberadaan yang otentik, kesadaran diri, dan hubungan yang mendalam dengan orang lain dan dunia sekitar. Maka, dalam perspektif Marcel, beralih dari mentalitas having ke being, yaitu menghargai pengalaman saat ini, memperkuat hubungan personal, dan menyadari nilai intrinsik keberadaan diri, sehingga rasa cemas akan ketinggalan informasi dapat dihilangkan.

Kita dapat belajar dari pendekatan minimalisme untuk mengatasi FOMO. Filsuf Henry David Thoreau, pemikir minimalisme menekankan bahwa kebebasan sejati datang dari kemampuan untuk menyederhanakan aktivitas, rutinitas, dan cara berpikir kita.

Filosofi Thoreau menyarankan untuk “menarik diri” sejenak dari hiruk-pikuk sosial dan material, sehingga kita bisa menghargai momen sekarang, memilih apa yang benar-benar penting, dan mengurangi tekanan untuk selalu “ikut arus”.

Langkah praktis untuk menerapkan minimalisme dalam mengatasi FOMO antara lain: Pertama, batasi konsumsi media sosial dan berita agar tidak terlalu terpengaruh oleh kehidupan orang lain.

Kedua, buat daftar prioritas aktivitas dan hubungan yang benar-benar memberikan nilai bagi diri sendiri, kemudian konsisten menolak atau mengurangi hal-hal yang tidak sejalan dengan prioritas tersebut.

Ketiga, biasakan refleksi rutin untuk menilai apakah kegiatan atau keputusan yang diambil benar-benar selaras dengan tujuan dan nilai pribadi, sehingga hidup menjadi lebih fokus, tenang, dan bebas dari kecemasan karena takut ketinggalan.

Saat ini, banyak orang membangun tandingan FOMO, yakni JOMO (Joy of Missing Out). Artinya, kita bahagia ketika secara sadar memilih untuk melewatkan tren atau aktivitas sosial demi ketenangan diri dan fokus pada kehidupan saat ini. 

Tenang di era digital bukan berarti menjauh dari teknologi, melainkan bijak dalam memilih apa yang layak diikuti, sehingga hidup lebih seimbang dan fokus pada hal-hal yang memberi makna. Dengan kesadaran dan minimalisme, FOMO dapat dikelola, dan kita bisa menikmati teknologi tanpa cemas. Selamat mencoba!

Salam Redaksi IndonesiaSatu.co

Komentar