Breaking News

OPINI Teologi Terlibat Melalui Perjumpaan Dalam Kebhinekaan - Refleksi atas Terpilihnya Pater Paulus Budi Kleden, SVD sebagai Uskup Agung Ende 02 Jun 2024 13:45

Article image
Dengan Teologi Terlibatnya, Mgr. Budi bisa mendorong umat untuk menghubungkan iman mereka dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Oleh Alfred B. Jogo Ena

Sukacita umat beriman Keuskupan Agung Ende baik yang ada di Flores maupun diaspora atas terpilihnya Mgr Paulus Budi Kleden, SVD sebagai Uskup Agung Ende belum berakhir. Aneka tulisan dan apresiasi dari mantan rekan dan muridnya terus saja menghiasi laman media massa baik Facebook maupun media online lainnya yang dikelola oleh putra-putri asal Flores. Bahkan rekan-rekan imamnya dari KAE seperti Romo Nani Songkares dari Seminari Mataloko dan Romo Stefanus Wolo Itu dari Swiss ikut menulis dengan penuh cinta dan penerimaan. Sungguh karya Roh Kudus tak pernah diselami dalam Gereja Katolik, karena pemilihan pimpinan gereja katolik bukanlah berdasarkan selera kita tetapi selera dan kehendak Roh Kudus.

Penulis sendiri ikut menulis di laman Facebook dengan judul “Kembali Ke Rumah” atas berita terpilihnya Mgr Budi. Ya, SVD kembali ke rumah yang dibangun sejak ratusan tahun lalu sehingga mampu meletakkan dasar gereja lokal yang kuat di Flores hingga memekarkan diri menjadi beberapa keuskupan. Keuskupan Agung Ende (sebagai induknya) telah berhasil memekarkan diri menjadi beberapa keuskupan (Larantuka, Ruteng, Kupang, Atambua, Weetebula, Denpasar dan yang termuda Maumere). Itu semua berkat sentuhan tangan misionaris SVD. Ini yang tidak boleh dilupakan dalam sejarah.

Teologi Terlibat
Mgr. Budi pernah menulis buku berjudul, “Teologi terlibat: politik dan budaya dalam terang teologi" yang diterbitkan oleh Penerbit Ledalero pada tahun 2003. Kita dapat melihat sekilas daftar isi buku tersebut “Adat istiadat Dalam Perspektif Pendidikan dan Teologi; Teologi Politik J B Metz dan Implikasinya; Masalah Gender Kebudayaan dan HAM; HAM dan Kebudayaan; Mencari Pendasaran Etika Politik Dalam Era Reformasi; Beriman Dengan Mata Terbuka; Otonomi Manusia dan Peran; Mencegah Disintegrasi Bangsa; Gereja dan Politik; Relevansi Perjuangan Umat Katolik Lewat Partai Politik.” Dari beberapa subjudul dalam buku itu, ada yang menarik dicermati sehubungan dengan terpilihnya Mgr. Budi sebagai Uskup Agung Ende dengan kebhinekaan di Indonesia.

Menurut diskusi yang dilontarkan para mantan mahasiswanya di WAG alumni Seminari Mataloko, Buku "Teologi Terlibat" menekankan pentingnya keterlibatan aktif umat dalam konteks teologi dan kehidupan beragama. Pesan utamanya adalah bahwa teologi tidak hanya menjadi domain para teolog atau cendekiawan agama, tetapi harus dihayati dan diamalkan oleh umat secara luas dalam kehidupan sehari-hari.

Ada dua subjudul yang menarik untuk diperdalam berkaitan dengan Teologi Terlibat yakni “Beriman Dengan Mata Terbuka” dan “Mencegah Disintegrasi Bangsa” Ada beberapa poin untuk menjelaskan kaitan antara konsep “Teologi Terlibat” dan “Beriman Dengan Mata Terbuka.” Pertama, Teologi Terlibat menekankan pentingnya memasukkan perspektif keagamaan, filosofis, dan budaya dalam pemahaman teologis. Ini sejalan dengan semangat Beriman dengan Mata Terbuka, yang mendorong inklusivitas dan dialog antar-kepercayaan. Melalui pendekatan ini, teologi tidak hanya memperdalam pemahaman agama tertentu, tetapi juga memfasilitasi pertukaran gagasan antara tradisi-tradisi keagamaan yang berbeda yang amat relevan dengan situasi Indonesia umumnya dan umat di Keuskupan Agung Ende khususnya.

Kedua, Teologi Terlibat mendorong keterlibatan aktif dalam isu-isu sosial dan kemanusiaan, mengaitkan keyakinan keagamaan dengan tindakan konkret untuk keadilan dan kesejahteraan sosial. Prinsip “Beriman Dengan Mata Terbuka” pun menekankan pentingnya menyelaraskan keyakinan dengan realitas dunia dan berkontribusi pada perbaikan sosial. Dengan demikian, teologi menjadi alat untuk mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dan moral dalam masyarakat.

Ketiga, Teologi Terlibat memperhatikan pengetahuan modern dan ilmiah serta mengintegrasikannya dengan keyakinan keagamaan. Pendekatan Beriman Dengan Mata Terbuka juga menekankan pentingnya memperbarui pemahaman agama dalam konteks penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan dan budaya modern. Dengan mengadopsi pendekatan ini, teologi menjadi relevan dan responsif terhadap dinamika zaman, terutama situasi konkret umat manusia. Dengan demikian, keselarasan antara Teologi Terlibat dan Beriman dengan Mata Terbuka mendorong umat beragama memperdalam pemahaman agamanya, memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, dan menyelaraskan keyakinan keagamaan dengan realitas dunia modern.

Sedangkan kaitan dengan subjudul “Mencegah Disintegrasi Bangsa” dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, Teologi Terlibat memungkinkan kita untuk menggali akar-akar krisis sosial dan budaya yang menyebabkan disintegrasi bangsa. Dengan menganalisis nilai-nilai keagamaan dan spiritualitas yang mendasari masyarakat, teologi dapat membantu dalam pemahaman tentang konflik dan ketegangan yang mungkin terjadi dalam masyarakat. Ini memberikan landasan untuk merancang solusi yang efektif untuk mencegah disintegrasi, perpecahan akibat kesalahpahaman atas nama agama.

Kedua, melalui pendekatan inklusifnya, Teologi Terlibat mendorong dialog antar-kepercayaan dan mempromosikan kesatuan dalam keberagaman. Dengan mengajak semua elemen masyarakat untuk terlibat dalam dialog dan pemahaman yang saling menghormati, teologi dapat memainkan peran penting dalam membangun kesatuan dan toleransi di antara beragam kelompok agama dan budaya. Kiranya ini sangat cocok dengan umat Keuskupan Agung Ende, apalagi kediaman uskup di Kota Ende, Kota Pancasila yang amat beragam itu. Kehadiran Mgr Budi bersama Teologi Terlibatnya menjadi sebuah tantangan sekaligus menjadi sekolah yang terbuka untuk mewujudkan kesatuan bangsa.

Ketiga, Teologi Terlibat menekankan pentingnya tanggung jawab sosial dalam praktik keagamaan. Dengan mendorong individu dan komunitas keagamaan untuk terlibat aktif dalam memperjuangkan keadilan, perdamaian, dan kesejahteraan sosial, teologi dapat menjadi kekuatan dalam mencegah disintegrasi bangsa. Melalui aksi konkret yang didorong oleh nilai-nilai keagamaan, teologi dapat mengubah masyarakat menjadi lingkungan yang lebih inklusif dan berkelanjutan, menjadi sebuah rumah bersama yang menyajikan kegembiraan dalam perjumpaan satu sama lain. Nah untuk itu kita akan menukik lagi pada perjumpaan sebagai “lokus” dari Teologi Terlibat.

Perjumpaan Yang Menggembirakan
Kita akan mendasarkan diri pada konsep biblis tentang perjumpaan dalam kisah Maria Mengunjungi Elisabeth (Lukas 1:39-56). Maria, yang telah menerima kabar bahwa dia akan menjadi ibu Yesus, pergi mengunjungi Elisabeth saudaranya, yang juga sedang mengandung Yohanes Pembaptis. Pertemuan ini penuh dengan makna teologis dan pesan moral yang mendalam antara lain, pertama, Maria tidak hanya menerima kabar tentang Anak yang akan dilahirkannya secara pasif, tetapi ia juga terlibat secara aktif dalam perjalanan ke rumah Elisabeth. Demikian pula, dalam Teologi Terlibat, umat dipanggil untuk terlibat secara aktif dalam iman mereka, bukan hanya menerima secara pasif ajaran agama.

Kedua, Maria mengunjungi Elisabeth untuk memberikan dukungan dan pelayanan kepada saudarinya yang sedang mengandung. Ini menunjukkan pelayanan dan solidaritas dalam konteks perjumpaan. Dalam perjumpaan, kita dipanggil untuk melayani dan bersolidaritas dengan sesama, menangkap kerinduan dan harapan sesama, menangkap guratan derita dan mungkin duka di mata sesama, mengulurkan tangan untuk menariknya berdiri atau berpegangan pada kebersamaan.

Ketiga, bersama dengan kedatangan Maria, Roh Kudus pun hadir dan mengisi Elisabeth, sehingga menyebabkan bayinya (Yohanes Pembaptis) melompat dalam kandungannya. Dalam perjumpaan, kita dipanggil untuk membuka diri terhadap kehadiran Roh yang mengiringi interaksi kita dengan sesama. Keterbukaan itu memungkinkan kita untuk berdialog dari hati ke hati dan merasakan kegembiraan yang meluap-luap karena ada saudara di sekitar kita yang menyambut kita. Dalam konteks kebhinekaan, keterbukaan hati menjadi kunci bagi terciptanya dialog dan saling pengertian.

Keempat, kedatangan Maria membawa Kristus, Anak Allah, dalam kandungannya. Kesaksian akan kehadiran Kristus ini terasa kuat dalam pertemuan dengan Elisabeth. Dalam perjumpaan, umat dipanggil untuk menjadi saksi kehadiran Kristus dalam dunia ini melalui tindakan kasih, pelayanan, dan solidaritas mereka. Kunjungan Maria kepada Elisabeth adalah tindakan kasih yang nyata, menunjukkan perhatian dan kepedulian, damai dan sukacita. Ini adalah momen yang penuh berkat dan penghiburan, yang mengingatkan kita akan kehadiran Tuhan bagi yang sakit, lapar, haus, dan orang asing, orang-orang yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang.

Relevansinya bagi Indonesia dan Keuskupan Agung Ende
Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup terpilih adalah Superior General Societas Verbi Divini (SVD) se-dunia. SVD sebuah tarekat religius yang sudah berusia 149 tahun, melayani di 79 negara dengan 6000 misionaris, melayani di 719 paroki, memiliki 41 seminari, 22 kolese, 4 universitas dan 300 lebih sekolah di seluruh dunia (svdmissions.org). Pengalaman Mgr. Budi sebagai pemimpin umum sebuah tarekat internasional tentu akan memperkaya pelayanannya sebagai Uskup Agung Ende dan dalam kolegialitasnya dengan sesama uskup di Indonesia (KWI).

Putra Waibalun, Larantuka dari pasangan Petrus Sina Kleden dan Dorothe Sea Halan yang ditahbiskan sebagai imam pada 19 Mei 1993 di Austria ini tentu akan membawa kekayaan Teologi Terlibat-nya dalam perjumpaan dengan kebhinekaan di Indonesia. Pengalamannya berkeliling dunia mengunjungi para anggotanya di 79 negara tentu akan memperkaya kita dalam kehadiran dan penerimaan satu sama lain dalam konteks Indonesia yang plural.

Dengan dan melalui pesan Teologi Terlibat umat diajak untuk aktif terlibat dalam memahami dan merumuskan iman di tengah dunia dan membantu pemberdayaan umat dalam membangun komunitas yang kokoh dan berdampak positif dalam lingkungan mereka. Dengan memahami Teologi Terlibat, umat Keuskupan Agung Ende dapat lebih menyadari tanggung jawab mereka dalam memperjuangkan keadilan sosial, perdamaian, dan kebaikan bersama.

Dengan Teologi Terlibatnya, Mgr. Budi bisa mendorong umat untuk menghubungkan iman mereka dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, seperti pelayanan sosial, kepedulian terhadap lingkungan, dan kerja sama antarumat beragama. Ini dapat memperkuat iman mereka melalui pengalaman langsung dalam melayani sesama, sehingga terciptalah kerukunan dan kedamaian di Indonesia, mulai dari Keuskupan Agung Ende.

Selamat datang kembali ke Indonesia dan selamat melayani umat Keuskupan Agung Ende dan Indonesia Mgr Budi.

Penulis adalah editor senior, alumnus Fakultas Teologi Kentungan, tinggal di Yogyakarta.

Komentar