Breaking News

GAYA HIDUP Terjebak 'Brainrot' Akibat Doom Scrolling di TikTok? Ini Cara Melatih Kembali Fokus Otakmu 18 Jul 2026 18:07

Article image
Istilah brainrot bukan sekadar lelucon internet. Simak bagaimana video pendek mengikis attention span kita dan langkah nyata untuk menyembuhkannya

JAKARTA IndonesiaSatu.co – Pernahkah kamu membuka TikTok untuk melihat satu video, lalu tanpa sadar dua jam telah berlalu begitu saja? Atau, apakah kamu sekarang merasa gelisah dan tidak sabar saat harus menonton video YouTube yang durasinya lebih dari 10 menit?

Jika iya, kamu mungkin sedang mengalami apa yang diistilahkan oleh netizen sebagai brainrot.

Istilah brainrot awalnya populer di kalangan Gen Z dan Gen Alpha untuk menggambarkan konsumsi konten internet yang absurd dan tanpa filter secara berlebihan. Namun secara psikologis, fenomena ini merujuk pada kondisi nyata: penurunan attention span (rentang perhatian) akibat otak yang terus-menerus dibombardir oleh stimulasi visual berdurasi singkat.

Bagaimana Video Pendek 'Membajak' Otak Kita?

Algoritma video pendek dirancang untuk satu hal: memberikan dopamine hit atau hormon kesenangan secara instan. Setiap kali kamu menggeser (swipe) layar ke video baru, otakmu mendapatkan kejutan informasi baru dalam hitungan detik.

Masalahnya, otak manusia adalah organ yang adaptif. Ketika terbiasa dimanjakan oleh hiburan instan tanpa jeda, kemampuan otak untuk mempertahankan fokus jangka panjang (sustained attention) akan melemah. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi mendalam—seperti membaca buku kuliah, bekerja, atau mendengarkan percakapan panjang—terasa sangat membosankan dan melelahkan.

Detoks Digital: Memulihkan Otak yang Kelelahan

Kabar baiknya, kondisi ini tidak permanen. Otak kita memiliki kemampuan neuroplastisitas, artinya ia bisa dilatih kembali untuk fokus. Berikut adalah beberapa langkah digital wellness yang bisa kamu lakukan untuk mengatasi brainrot:

  • Latih Kembali Lewat Membaca Buku: Membaca buku (terutama buku fisik) adalah musuh alami brainrot. Saat membaca, otak dipaksa untuk memproses teks secara linear dan membayangkan narasi tanpa bantuan visual yang bergerak cepat. Mulailah dengan target kecil, misalnya 15 menit sehari tanpa memegang ponsel.
  • Dengarkan Podcast Durasi Panjang: Alihkan kebiasaan mengonsumsi potongan klip pendek dengan mendengarkan podcast wawancara atau diskusi yang berdurasi 1 hingga 2 jam secara utuh. Ini akan melatih kemampuan auditory attention (perhatian lewat pendengaran) kamu agar tidak mudah terdistraksi.
  • Tonton Film Dokumenter: Jika masih butuh asupan visual, pilihlah film dokumenter yang memiliki alur cerita lambat namun mendalam. Dokumenter melatih otak untuk mengikuti perkembangan argumen dan plot yang kompleks secara bertahap.

Menjaga kesehatan mental di era digital bukan berarti kita harus menghapus semua media sosial. Kuncinya adalah keseimbangan. Jangan biarkan algoritma mendikte seberapa lama otakmu bisa berpikir dan fokus.

--- Stella Josephine

Komentar