Breaking News

OPINI KRI Sriwijaya: Benteng Apung untuk Negara Kepulauan 20 Sep 2026 15:57

Article image
Pengamat Militer Valens Daki-Soo dan KRI Sriwijaya. (Foto: Ist)
Kehadiran KRI Sriwijaya penting bukan semata-mata karena Indonesia untuk pertama kalinya memiliki platform sekelas kapal induk, tetapi terutama karena sesuai dengan karakter Indonesia sebagai negara maritim dan "archipelagic country".
Oleh: Valens Daki-Soo*
 
 
Eks kapal perang Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, segera memasuki babak baru dalam sejarahnya. Setelah diserahterimakan kepada Indonesia, kapal yang telah mengabdi kepada Italia selama hampir empat dekade itu akan berubah nama menjadi KRI Sriwijaya dan menjalani proses modernisasi, "retrofit" serta "refurbishment" untuk memperkuat TNI Angkatan Laut.
 
Kehadiran KRI Sriwijaya penting bukan semata-mata karena Indonesia untuk pertama kalinya memiliki platform sekelas kapal induk, tetapi terutama karena sesuai dengan karakter Indonesia sebagai negara maritim dan "archipelagic country".
 
Indonesia memiliki wilayah laut yang sangat luas, ribuan pulau, kawasan perbatasan dan daerah terpencil yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. 
 
Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan kemampuan untuk menghadirkan negara secara cepat di mana pun diperlukan -- baik untuk kepentingan pertahanan maupun untuk membantu rakyat ketika bencana dan keadaan darurat terjadi.
 
Garibaldi memang bukan kapal baru. Kapal sepanjang sekitar 180 meter itu diluncurkan pada 1983 dan mulai berdinas pada 1985. Artinya, usianya kini sekitar 41 tahun. Angkatan Laut Italia mengakhiri masa operasionalnya pada 2024 setelah hampir empat dekade digunakan dalam berbagai misi.
 
Menyebutnya sebagai kapal tua tentu benar. Tetapi kapal tua tidak otomatis berarti tidak berguna. Dalam dunia pertahanan, usia bukan satu-satunya ukuran. Kondisi struktur, mesin, sistem kelistrikan, sensor, komunikasi, persenjataan, kemampuan penerbangan (menjadi pangkalan bergerak helikopter dan drone) dan kesiapan pemeliharaan jauh lebih menentukan.
Karena itu, yang penting adalah proses retrofit dan modernisasi yang akan dilakukan Indonesia.
 
PT PAL akan melakukan asesmen dan modernisasi dengan melibatkan industri pertahanan Italia, termasuk Fincantieri dan Leonardo. Sejumlah sistem akan disesuaikan dengan kebutuhan TNI AL, termasuk sistem tenaga, sensor, komunikasi dan persenjataan.
 
Kepala Staf Angkatan Laut menyampaikan bahwa setelah dimodernisasi, Garibaldi diharapkan masih dapat digunakan sekitar 15–20 tahun ke depan. Angka tersebut tentu bergantung pada keberhasilan retrofit, kualitas pemeliharaan, ketersediaan suku cadang, kesiapan awak dan dukungan anggaran.
 
Dengan demikian, Indonesia bukan sekadar menerima kapal tua, tetapi memperpanjang usia operasional efektif sebuah platform strategis.
 
Mengapa Indonesia Membutuhkan KRI Sriwijaya?
 
Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar apakah Indonesia membutuhkan kapal induk, melainkan apakah Indonesia sebagai negara kepulauan membutuhkan kemampuan untuk menghadirkan kekuatan negara secara cepat di wilayah laut dan pulau-pulau yang jauh.
 
Jawabannya berkaitan langsung dengan kondisi geografis Indonesia.
Ketika gempa, tsunami, erupsi gunung api, banjir atau bencana besar terjadi di sebuah pulau yang infrastrukturnya rusak, jalan terputus dan bandar udara tidak dapat digunakan, sebuah kapal dengan kemampuan penerbangan dan angkut seperti KRI Sriwijaya dapat menjadi pangkalan bergerak.
 
Helikopter dapat diterbangkan dari kapal menuju lokasi bencana. Drone dapat membantu pemantauan. Logistik dapat dibawa mendekati masyarakat. Personel medis dan penyelamat dapat dikerahkan. Pusat komando dapat ditempatkan lebih dekat dengan wilayah terdampak.
 
Inilah salah satu makna penting Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Negara tidak hanya harus hadir ketika perang. Negara juga harus hadir ketika rakyat mengalami bencana, ketika daerah terpencil membutuhkan bantuan dan ketika keadaan darurat menuntut mobilitas yang cepat.
 
Bagi Indonesia sebagai "archipelagic country" atau negara kepulauan, kemampuan tersebut bukan kemewahan. Ini merupakan kebutuhan strategis dalam konteks kepentingan nasional.
 
Bukan Sekadar Kapal Pengangkut Helikopter
 
KRI Sriwijaya tetap merupakan kapal perang. Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan PT PAL agar kapal tersebut dilengkapi dengan persenjataan canggih.
 
Garibaldi sejak awal memiliki kemampuan "self-defense". Dalam konfigurasi Italia, kapal ini pernah dilengkapi sistem pertahanan udara dan meriam pertahanan jarak dekat, serta pernah membawa kemampuan rudal antikapal.
 
Untuk KRI Sriwijaya, konfigurasi persenjataan akhirnya masih menunggu hasil asesmen dan retrofit. Namun prinsipnya jelas: kapal sebesar ini harus mempunyai kemampuan mempertahankan diri terhadap berbagai ancaman, termasuk ancaman udara, rudal, kapal permukaan dan ancaman asimetris.
 
Dalam Operasi Militer Perang (OMP), KRI Sriwijaya dapat menjadi bagian dari kekuatan laut Indonesia untuk mendukung operasi gabungan, pengintaian, komando dan kendali, mobilitas pasukan serta pengoperasian helikopter dan drone.
 
Dari segi desain, Garibaldi dapat mengoperasikan belasan pesawat atau helikopter, dengan konfigurasi Italia mencapai sekitar 18–20 unit. Kementerian Pertahanan RI juga menyebut kemampuan empat helikopter melakukan take-off secara simultan. Jumlah aktual yang akan dioperasikan Indonesia tentu bergantung pada konfigurasi akhir kapal.
Untuk drone, belum ada angka resmi mengenai jumlah yang akan menjadi bagian dari "air wing" atau sayap udara KRI Sriwijaya.
 
Dengan demikian, yang lebih penting untuk sekarang adalah kemampuan kapal tersebut menjadi platform operasi udara nirawak sesuai kebutuhan TNI AL.
Dalam konfigurasi Italia, Garibaldi memiliki kapasitas sekitar 825 personel. TNI AL sendiri telah menyiapkan sekitar 400 personel untuk mengawaki KRI Sriwijaya. Adapun kapasitas pengangkutan pasukan dapat mencapai sekitar 400 personel, tergantung konfigurasi dan jenis misi.
 
Semua itu menunjukkan bahwa kapal ini bukan sekadar simbol. Ia merupakan platform multifungsi yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan strategis.
 
KRI Sriwijaya sebagai Sekolah Teknologi PT PAL
 
Menurut saya, salah satu manfaat terbesar KRI Sriwijaya justru berada di luar kapal itu sendiri.
KRI Sriwijaya harus menjadi sekolah teknologi bagi PT PAL.
Keterlibatan PT PAL dalam proses retrofit bersama Fincantieri dan Leonardo memberikan kesempatan berharga untuk mempelajari desain, struktur, flight deck, hanggar, sistem penerbangan, integrasi sensor, sistem persenjataan, propulsi, kelistrikan dan pemeliharaan kapal besar.
 
Direktur Utama PT PAL Kaharuddin Djenod juga telah menyampaikan bahwa pengalaman mengerjakan Garibaldi merupakan bagian dari pembelajaran untuk merancang kapal induk dan PT PAL sedang menyiapkan blueprint untuk berbagai jenis kapal, termasuk kapal induk.
 
Ini harus menjadi investasi pengetahuan jangka panjang.
Hari ini Indonesia mengoperasikan kapal induk yang dibuat Italia.
Tetapi suatu saat nanti, Indonesia harus mampu merancang dan membangun kapal induknya sendiri -- entah kapal induk ringan, menengah, bahkan kapal induk berat apabila kebutuhan strategis, kemampuan teknologi dan kekuatan ekonomi nasional pada masa depan memungkinkan.
 
Karena itu, KRI Sriwijaya bukan titik akhir.
Ia harus menjadi jembatan menuju kemandirian teknologi maritim Indonesia.
 
Membutuhkan Ekosistem Kekuatan Laut
 
Namun kita juga harus realistis. KRI Sriwijaya bukan kapal induk super seperti yang dimiliki Amerika Serikat. Efektivitasnya tidak boleh dinilai dari kapal itu sendiri.
 
Kapal ini membutuhkan ekosistem pendukung: frigat, korvet, kapal selam, kapal logistik, pesawat patroli maritim, helikopter, drone, satelit, sistem komunikasi, pertahanan udara dan fasilitas pemeliharaan.
Kapal induk tanpa sistem pendukung hanya akan menjadi simbol.
 
Sebaliknya, apabila terintegrasi dengan kekuatan laut lainnya, KRI Sriwijaya dapat menjadi salah satu pusat kekuatan maritim Indonesia.
 
Di sinilah visi pembangunan kekuatan laut Indonesia harus diletakkan. Bukan sekadar memiliki satu kapal besar, tetapi membangun kekuatan maritim yang terintegrasi, modern, siap operasi dan mandiri.
 
Sriwijaya dan Masa Depan Indonesia sebagai Negara Maritim
 
Nama Sriwijaya sendiri memiliki makna yang kuat. Sriwijaya merupakan salah satu kerajaan maritim besar dalam sejarah Nusantara. Nama tersebut mengingatkan kita bahwa laut bukan pemisah, melainkan penghubung Nusantara.
Indonesia tidak boleh memunggungi laut.
 
Sebaliknya, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kita harus menjadikan laut sebagai ruang pertahanan, ruang ekonomi, ruang konektivitas dan ruang kehidupan bangsa.
 
KRI Sriwijaya dapat menjadi salah satu instrumen untuk mewujudkan itu.
Dalam keadaan damai, ia dapat membantu rakyat melalui OMSP, penanggulangan bencana, evakuasi dan distribusi logistik. Dalam keadaan perang, ia dapat menjadi bagian dari kekuatan OMP untuk mempertahankan kedaulatan negara.
 
Dengan demikian, KRI Sriwijaya bukan sekadar "kapal induk pertama Indonesia".
Ia adalah benteng apung negara kepulauan.
Kapal yang memungkinkan negara bergerak lebih cepat ke wilayah yang membutuhkan kehadiran Indonesia.
Kapal yang sekaligus dapat menjadi laboratorium bagi lahirnya kemampuan teknologi kapal induk nasional.
 
Kembali Menjadi Bangsa Bahari
 
Dengan demikian, KRI Sriwijaya bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah salah satu langkah dalam perjalanan panjang Indonesia membangun kembali kekuatan maritimnya.
 
Kapal ini memang tua. Tetapi dengan retrofit, modernisasi, pemeliharaan yang baik, awak yang terlatih dan dukungan anggaran yang memadai, ia masih diharapkan dapat mengabdi sekitar 15–20 tahun ke depan.
 
Yang lebih penting, Indonesia harus memanfaatkan masa tersebut untuk belajar, membangun kemampuan dan menyiapkan generasi berikutnya.
 
Indonesia adalah negara maritim. Indonesia adalah negeri kepulauan. Kita adalah bangsa bahari. Leluhur kita adalah para pelaut ulung yang mengarungi samudera dan menghubungkan pulau-pulau Nusantara dengan dunia.
 
Sudah saatnya kita kembali menjadi negara maritim yang tangguh, modern, mandiri dan jaya.
 
KRI Sriwijaya hendaknya bukan hanya menjadi simbol kebangkitan kekuatan laut Indonesia, tetapi menjadi salah satu tonggak menuju cita-cita besar itu.
 
Dari laut kita hadir. Dari laut kita menjaga negeri. Dan dari laut pula kita membangun kembali kejayaan Indonesia sebagai bangsa bahari.
 
*) Penulis adalah entrepreneur dan pengamat pertahanan-keamanan; pernah menjadi staf Wakil Kepala Bais TNI Mayjen TNI (Marinir) Rusdi, staf khusus Kepala BIN Letjen TNI Arie J Kumaat dan staf khusus Wakil KSAD Letjen TNI Kiki Syahnakri.